POJOKSATU.id - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengungkapkan bahwa materi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 yang diujikan kepada siswa sebenarnya sudah dipelajari di sekolah.

Hal itu diketahui setelah Fajar berdialog langsung dengan sejumlah peserta TKA saat meninjau pelaksanaan ujian di SMA Madania, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan SMK Al Hasra, Kota Depok, Selasa.

Dalam pertemuan tersebut, Fajar menanyakan kesesuaian materi soal TKA dengan pembelajaran yang selama ini diterima siswa di kelas.

Sejumlah siswi SMA Madania menyampaikan bahwa seluruh materi yang muncul dalam ujian sudah pernah dipelajari sebelumnya.

Meski demikian, mereka mengakui beberapa soal membutuhkan ketelitian dan kemampuan penalaran lebih tinggi.

Terutama soal dengan bacaan panjang dan pilihan jawaban yang hampir serupa, seperti yang ditemukan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Salah seorang siswi bahkan mengungkapkan kebiasaan membaca buku menjadi salah satu hal yang membantunya memahami soal.

"Karena kami sering baca buku," ujar salah seorang siswi.

Fajar Ingatkan Pentingnya Literasi dan Numerasi

Mendengar pengalaman para siswa, Fajar menekankan pentingnya kemampuan literasi dan numerasi dalam mengerjakan TKA.

Menurut dia, kompetensi tersebut juga berkaitan dengan kemampuan yang diukur melalui Programme for International Student Assessment (PISA).

Siswa tidak cukup hanya mengandalkan hafalan. Mereka perlu memahami informasi dalam bacaan, mencermati pertanyaan, serta menggunakan kemampuan penalaran untuk menentukan jawaban.

Karena itu, Fajar mengingatkan peserta agar tidak terburu-buru ketika mengerjakan soal.

"Baca soal dengan cermat, jangan buru-buru," kata Fajar.

Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan memahami bacaan menjadi bekal penting untuk menghadapi soal-soal yang membutuhkan analisis.

Siswa SMK Akui Soal TKA Tidak Sesulit Bayangan

Pengalaman menarik juga disampaikan peserta TKA di SMK Al Hasra.

Sejumlah siswa mengaku pelaksanaan TKA ternyata tidak sesulit yang sebelumnya mereka bayangkan setelah melihat berbagai informasi yang beredar di media sosial.

Salah seorang siswa bernama Faozan mengatakan soal-soal TKA relatif bisa dikerjakan setelah dirinya mengikuti ujian secara langsung.

"Tidak sesusah yang dipikirkan," ujarnya.

Sementara itu, siswa lainnya, Kalvin, menilai soal berbentuk narasi panjang justru dapat melatih kemampuan berpikir dan ketelitian peserta.

Menanggapi pengalaman tersebut, Fajar mendorong siswa membagikan cerita mereka secara jujur melalui media sosial.

Menurut dia, pengalaman langsung peserta bisa memberikan gambaran yang lebih berimbang kepada siswa lain yang belum mengikuti ujian.

"Bisa cerita, 'Pengalamanku ikut TKA.' Berikan kesan optimistis dan positif," katanya.

Hasil TKA Jadi Bahan Refleksi Kemampuan Siswa

Fajar menjelaskan TKA merupakan instrumen untuk mengukur kemampuan akademik siswa.

Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi untuk mengetahui kompetensi yang sudah dikuasai sekaligus aspek pembelajaran yang masih perlu ditingkatkan.

Karena itu, siswa diharapkan mengikuti ujian dengan tenang, jujur, dan memanfaatkan waktu pengerjaan secara optimal.

"Harus ulet, tingkatkan keterampilan diri, dan raihlah mimpi," ujar Fajar.

Adapun pelaksanaan TKA di SMA Madania dan SMK Al Hasra berlangsung secara mandiri menggunakan moda daring pada gelombang kedua, 2-5 November 2026.

Di SMK Al Hasra, TKA diikuti 102 siswa yang terbagi dalam dua sesi. Sementara itu, di SMA Madania terdapat 59 siswa peserta ujian.

Dalam peninjauan tersebut, Fajar didampingi Direktur SMA Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Yuli Haryanto serta Kepala Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bisnis dan Pariwisata Nana Halim.

Pengalaman para peserta tersebut menjadi pengingat bahwa menghadapi soal sulit bukan semata-mata soal menghafal materi.

Kebiasaan membaca, ketelitian, dan keberanian berpikir justru menjadi bekal penting bagi siswa untuk terus berkembang. ***