POJOKSATU.ID - Langkah unik dilakukan ASN di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Mereka ramai-ramai mengumpulkan minyak jelantah atau minyak goreng bekas yang selama ini dianggap limbah rumah tangga.

Tak tanggung-tanggung, gerakan ini bahkan berhasil mencetak rekor MURI dan menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp90 juta.

Baca Juga: SE Nomor 6 Tahun 2026 Terbit! Kemendikdasmen Izinkan Gaji Guru Honorer Kini Bisa Dibayar dari Dana BOS, Tapi Hanya Sementara, Ini Penjelasannya

Sekaligus mendukung produksi bahan bakar ramah lingkungan seperti bioavtur.


ASN Batang Kumpulkan Minyak Jelantah

Kegiatan pengumpulan minyak jelantah ini berlangsung di Pendopo Kabupaten Batang pada Senin 13 April 2026.

Program ini digagas oleh PKK Kabupaten Batang yang menginstruksikan seluruh ASN di lingkungan pemerintah daerah untuk ikut berpartisipasi.

Baca Juga: Kampus Baru di Bogor Resmi Dibuka! Universitas Islam Bogor Siap Cetak SDM Berbasis Nilai Keislaman

Minyak jelantah yang dikumpulkan dihargai sebesar Rp7.000 per liter, sehingga memberikan nilai ekonomi sekaligus manfaat lingkungan.


Capai 11 Ribu Liter dan Rekor MURI

Hasilnya sangat mengejutkan. Dari gerakan ini, minyak jelantah yang terkumpul mencapai lebih dari 11.000 liter.

Jumlah tersebut tidak hanya besar, tetapi juga berhasil membawa Kabupaten Batang meraih rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Baca Juga: Visa Haji Foruda 2026 Sudah Tak Diterbitkan, DPR Ingatkan Agar Masyarakat Tak Mudah Tergiur

Staf Ahli Setda Batang, M Fathoni, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengejar angka.

Dikutip dari Pemerintah Kabupaten Batang.go.id, begini kata M Fathoni:

“Ini pengumpulan minyak jelantah, sesuai dengan rekor MURI kemarin,” ujarnya.


Bukan Sekadar Cuan, Tapi Edukasi Lingkungan

Meski memiliki nilai ekonomi tinggi, pemerintah menegaskan bahwa tujuan utama program ini adalah edukasi masyarakat.

ASN dan warga diajak untuk tidak lagi membuang minyak bekas sembarangan yang dapat mencemari lingkungan.

Baca Juga: Banjir Bandung Disorot, Muhammad Farhan Ungkap Lonjakan Sampah Sungai hingga 300 Kubik

“Intinya tidak dijualnya, tetapi dalam rangka perbaikan lingkungan,” jelas Fathoni.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif untuk menjaga ekosistem.


Diolah Jadi Bahan Bakar Pesawat

Menariknya, minyak jelantah yang terkumpul tidak dibuang begitu saja.

Baca Juga: Ralph Fiennes Tidak Mau Kembali Jadi Voldemort, Pilih Tilda Swinton sebagai Pengganti

Limbah tersebut diolah oleh pihak swasta melalui proses refinery menjadi energi terbarukan.

Perwakilan Gapurw Mas Letari (GML), Dhika Dwi Chandra, mengungkapkan bahwa minyak tersebut difokuskan untuk produksi bioavtur, yaitu bahan bakar pesawat ramah lingkungan.

“Minyak jelantah ini kita proses menjadi bahan bakar terbarukan. Kita fokusnya ke Bioavtur,” katanya.

Baca Juga: Makin Panas, Militer AS akan Blokade Selat Hormuz dan Semua Pelabuhan Iran Mulai Jam 9 Nanti Malam

Untuk pasar lokal, Pertamina bahkan telah meluncurkan produk bioavtur, sementara untuk ekspor, produk turunannya dikirim ke Eropa.


Sistem Terbuka dan Transparan

Program ini juga memiliki sistem pengumpulan yang terbuka untuk masyarakat luas.

Menariknya, jumlah kecil pun tetap diterima.

“Satu liter pun kita ambil,” ujar Dhika.

Pembayaran dilakukan melalui transfer guna menjamin transparansi dan keamanan transaksi.


ASN Jadi Motor Perubahan

Keberhasilan program ini tidak lepas dari peran ASN yang aktif terlibat.

Menurut Fathoni, kegiatan ini berjalan lancar karena adanya satu komando dan kesadaran tinggi dari para pegawai.

Baca Juga: Nekat Berhenti di Tikungan Ekstrem Sitinjau Lauik Demi Swafoto, Rombongan Mobil Diduga Pejabat Bikin Heboh

Hal ini menunjukkan bahwa ASN dapat menjadi motor penggerak perubahan, terutama dalam isu lingkungan dan energi.


Dorong Ekonomi Sirkular dan Energi Bersih

Program pengumpulan minyak jelantah ini membawa dampak besar di berbagai sektor, mulai dari lingkungan hingga ekonomi.

Selain mengurangi limbah dan emisi karbon, program ini juga mendukung pengembangan energi bersih seperti biodiesel dan bioavtur.

Dengan pengelolaan yang tepat, limbah rumah tangga yang selama ini dianggap sepele ternyata mampu memberikan kontribusi besar bagi industri energi global.***