POJOKSATU.id - Berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui upaya berdampak, Program Community Development dalam skema pendanaan equity Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dijalankan oleh Universitas Negeri Jakarta bekerja sama dengan Subdit PAUD PNF Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Dymens dan diikuti oleh 60 guru PAUD se-Kota Bukittinggi.

Baca Juga: 10 Jurusan Teknik Mesin dan Turunannya di Indonesia, Ini Gambaran Kuliah, Biaya, hingga Prospek Kerjanya

Digelar pada Selasa (31/3/2026), kegiatan ini menghadirkan pendekatan segar yang perlu diketahui para guru PAUD, yaitu menggabungkan pengembangan kecerdasan anak dan penguatan identitas budaya melalui konsep brain dance-cultural.

Pendekatan ini tidak berhenti pada teori, tetapi langsung menyentuh praktik pembelajaran yang bisa diterapkan di kelas.

Apa Itu Brain Dance dan Mengapa Penting untuk Anak?
Brain dance sendiri merupakan rangkaian gerakan terstruktur yang dirancang untuk menstimulasi perkembangan otak melalui tubuh.

Baca Juga: 10 Jurusan Paling Ketat di UI 2026, Ini Gambaran Kuliah, Biaya, dan Prospek Kerjanya

Konsep ini dipopulerkan oleh Anne Green Gilbert, yang menekankan bahwa gerakan sederhana seperti pernapasan, sentuhan, hingga koordinasi silang tubuh dapat membantu membangun koneksi saraf anak secara optimal.

Dalam praktiknya, anak tidak sekadar bergerak, tetapi menjalani proses belajar yang melibatkan tubuh, pikiran, dan perasaan secara bersamaan.

Pendekatan ini menegaskan bahwa kecerdasan anak tidak hanya berkembang secara kognitif, tetapi juga melalui integrasi berbagai aspek.

Baca Juga: 7 Jalur Mandiri Universitas Brawijaya 2026, Masih Ada Harapan Masuk PTN Favorit!

Dari sisi kognitif, anak dilatih untuk mengenali pola, mengingat urutan, dan memahami ritme. Dari sisi gerak atau kinestetik, koordinasi tubuh, keseimbangan, dan kontrol motorik ikut terasah.

Sementara itu, aspek emosi berkembang melalui ekspresi diri dan rasa percaya diri yang tumbuh saat anak bebas bergerak.

Di sisi lain, aspek budaya menjadi fondasi penting, karena anak dikenalkan pada nilai, tradisi, dan identitas yang hidup di lingkungannya.

Peran Ahli dan Penguatan Literasi Budaya
Pelatihan ini dipimpin sekaligus menghadirkan narasumber utama, Elindra Yetti, yang menekankan bahwa literasi budaya memiliki peran krusial sebagai fondasi pembentukan karakter anak sejak usia dini.

Baca Juga: Tenang! Bupati Jember Pastikan PPPK Selamat dari PHK, Kontrak Dipastikan Aman Hingga 2027

"Masa usia dini merupakan periode emas ketika anak sangat peka terhadap nilai, norma, dan makna budaya yang diperoleh dari lingkungan sekitar," ungkap Elindra Yetti.

Wawasan peserta juga diperkaya oleh kehadiran Dadan Suryana dari Universitas Negeri Padang (UNP) serta Yufiarti dari Universitas Negeri Jakarta.

Kehadiran para ahli ini memperluas sudut pandang peserta dalam mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya kreatif, tetapi juga berbasis pada pemahaman perkembangan otak dan nilai budaya.

Baca Juga: Nasib Guru Inpassing Menggantung! PPPK 2026 Belum Dibuka, Ini Tuntutan Keras PGIN

Dalam konteks implementasi, kegiatan ini memberikan penguatan kepada guru PAUD terkait pedagogi literasi budaya, yakni kemampuan mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam proses pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Hal ini menjadi penting mengingat praktik pembelajaran berbasis budaya lokal masih belum optimal di berbagai satuan pendidikan.

Mengangkat Budaya Minangkabau dan Prinsip Neuroestetika
Menariknya, kegiatan ini juga mengangkat nilai-nilai budaya Minangkabau sebagai sumber pembelajaran.

Baca Juga: Beasiswa LPDP–IE University 2026 Dibuka, Ini Syarat Lengkap, Jadwal, dan Skema Full Funded

Filosofi hidup “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” diperkenalkan sebagai refleksi harmoni antara adat dan ajaran agama.

Nilai tersebut diharapkan dapat ditanamkan sejak dini untuk membentuk karakter anak yang berakhlak, bijaksana, dan memiliki etika sosial yang kuat.

Pendekatan brain dance-cultural yang diterapkan dalam kegiatan ini juga berpijak pada prinsip neuroestetika, yakni kajian dalam Neuroscience yang menjelaskan bagaimana otak merespons keindahan, seni, dan pengalaman estetis.

Baca Juga: Kemendikdasmen Pasang Badan 'Tidak Boleh PHK Guru PPPK, Dana BOSP Bisa untuk Talangi Gaji Paruh Waktu'

Dalam konteks pembelajaran, pendekatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan melalui gerakan, musik, dan pola yang bermakna.

Anak tidak hanya belajar, tetapi juga merasakan dan menikmati prosesnya, sehingga pemahaman menjadi lebih kuat dan membekas.

Praktik Langsung dan Antusiasme Guru PAUD
Melalui praktik langsung, para guru diajak memeragakan gerakan yang terinspirasi dari tari tradisional Minangkabau.

Aktivitas ini bukan sekadar latihan fisik, tetapi menjadi cara untuk menghubungkan tubuh, emosi, dan budaya dalam satu pengalaman belajar yang utuh.

Gerakan yang dilakukan mampu menstimulasi perkembangan otak sekaligus memperkuat keterikatan anak terhadap budaya lokal.

Baca Juga: IPB Kupas Strategi Lolos SNBT 2026, Kuota 30 Persen Jadi Peluang Besar Calon Mahasiswa

Antusiasme peserta terlihat jelas, terutama saat sesi praktik berlangsung.

Guru tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan metode yang adaptif dan aplikatif di kelas PAUD.

Pengalaman ini membuka ruang bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup—tidak hanya menstimulasi kecerdasan anak, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya sendiri. ***