POJOKSATU.id, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menyiapkan transformasi sejumlah kawasan strategis Ibu Kota dengan mengadopsi karakter khas berbagai negara.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa Pasar Baru, Jakarta Pusat, masuk dalam agenda penataan berikutnya yang direncanakan mulai berjalan pada 2027, setelah pembenahan kawasan Blok M, Jakarta Selatan.
Dalam rencana tersebut, Pasar Baru diproyeksikan menjadi pusat wisata kuliner yang tetap hidup sepanjang malam, bahkan beroperasi selama 24 jam.
Pramono ingin menghadirkan atmosfer yang menyerupai Myeongdong, salah satu kawasan populer di Korea Selatan yang dikenal sebagai destinasi belanja dan kuliner.
"Kalau Blok M sudah selesai, harapannya adalah di tahun 2027 kita akan start dengan Pasar Baru. Di Pasar Baru bayangan saya adalah menjadi tempat kuliner 24 jam malam kayak Myeongdong. Jadi Pasar Baru tipikalnya Korea. Kalau Blok M udahlah agak Jepang-jepangan dikit juga enggak apa-apa," kata Pramono.
Glodok Dipertahankan dengan Nuansa Pecinan, Kota Tua Bernuansa Eropa
Agenda pembenahan Jakarta tidak berhenti di Pasar Baru.
Pemprov DKI turut merancang pengembangan kawasan Glodok dan Kota Tua dengan pendekatan berbeda, menyesuaikan karakter yang ingin ditonjolkan pada masing-masing wilayah.
Glodok akan diarahkan untuk memperkuat identitasnya sebagai kawasan Pecinan yang lekat dengan budaya Tionghoa dan kekayaan kuliner.
Adapun Kota Tua dipersiapkan dengan sentuhan arsitektur dan suasana Eropa, sehingga berpotensi menjadi salah satu tujuan yang menarik bagi wisatawan mancanegara.
"Baru kemudian nanti kita akan ke Glodok, Kota Tua, Glodok Pecinan. Udahlah kalau Glodok, Pecinan enggak perlu dijelaskan, pasti Pecinan makanannya. Kota Tua akan kita buat untuk middle-up. Artinya mudah-mudahan turis yang datang dari Eropa. Sehingga dengan demikian suasananya pun akan suasana yang lebih mendekati agak Eropa-eropaan," ungkap Pramono.
Melalui konsep tersebut, setiap kawasan akan mempunyai ciri khas tersendiri.
Blok M dirancang dengan sentuhan Jepang, Pasar Baru akan mengadopsi nuansa Korea, Glodok tetap menonjolkan budaya China, sementara Kota Tua diarahkan menghadirkan atmosfer khas Eropa.
Pengembangan destinasi tersebut juga berkaitan dengan rencana perluasan layanan MRT Jakarta.
Pramono berharap kehadiran transportasi publik yang menjangkau berbagai kawasan itu dapat mempermudah masyarakat berpindah dari satu destinasi ke destinasi lainnya.
Integrasi tersebut sekaligus diharapkan memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata Jakarta melalui pengalaman menjelajahi kawasan dengan tema yang berbeda dalam satu kota.
"Saya yakin pasti akan membuat Jakarta juga berbeda," ujar Pramono.
Lima Fokus Transformasi Blok M, Rampung Bertahap hingga 2030
Sebelum melanjutkan penataan ke Pasar Baru, Pemprov DKI Jakarta bersama PT MRT Jakarta (Perseroda) menargetkan revitalisasi total Blok M, Jakarta Selatan, dapat diselesaikan pada 2029.
Proyek ini dirancang untuk mengubah kawasan tersebut menjadi pusat aktivitas perkotaan yang terhubung dengan transportasi umum serta memiliki fasilitas yang lebih modern.
Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan, pembangunan di Blok M juga mencakup pengembangan kawasan multifungsi atau mixed-use.
Proyek tersebut akan dilaksanakan secara bertahap dan ditargetkan tuntas pada 2030.
Kawasan mixed-use merupakan area yang menggabungkan beragam kegiatan dalam satu lingkungan, seperti perdagangan, kuliner, hiburan, dan aktivitas publik.
Penerapan konsep ini diharapkan membuat Blok M lebih produktif sepanjang hari, bukan sekadar menjadi lokasi transit bagi penumpang transportasi umum.
Dalam rencana revitalisasi tersebut, terdapat lima fokus perubahan yang disiapkan oleh Pemprov DKI Jakarta dan MRT Jakarta.
Fokus pertama adalah memperbarui terminal Blok M agar menjadi fasilitas transportasi yang lebih modern dengan sistem yang saling terhubung.
Pembenahan ini diharapkan mendukung kelancaran perjalanan sekaligus meningkatkan kenyamanan penumpang.
Selanjutnya, kawasan Blok M-ASEAN akan dikembangkan sebagai area multifungsi yang ramah bagi berbagai kalangan.
Kemudahan akses, keterbukaan bagi masyarakat, serta lingkungan yang dinamis menjadi bagian dari arah pengembangan kawasan tersebut.
Aspek ketiga berkenaan dengan peningkatan konektivitas di seluruh area.
Upaya ini mencakup kemudahan perpindahan antarmoda transportasi dan keterhubungan antara berbagai fasilitas, termasuk penyediaan akses yang lebih nyaman bagi pejalan kaki.
Fokus keempat adalah memperluas fungsi Blok M sebagai pusat kegiatan komersial.
Berbagai usaha, mulai dari toko ritel, tempat makan, gerai minuman, hingga fasilitas penunjang gaya hidup, direncanakan hadir untuk memperkaya pilihan aktivitas pengunjung.
Sementara itu, fokus kelima diarahkan pada penataan ruang terbuka yang lebih asri dan nyaman.
Ruang publik tersebut diharapkan menjadi tempat masyarakat berkumpul, berinteraksi, serta melakukan kegiatan sosial di lingkungan perkotaan.
Pembenahan Blok M juga mempertimbangkan kondisi bangunannya yang telah berusia 34 tahun.
Oleh karena itu, revitalisasi diperlukan untuk memperbarui fasilitas dan menyesuaikan kawasan dengan kebutuhan mobilitas serta aktivitas masyarakat masa kini.
Secara keseluruhan, rencana pengembangan Blok M, Pasar Baru, Glodok, dan Kota Tua menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta dalam memperkuat daya tarik kawasan perkotaan.
Selain meningkatkan kualitas ruang publik dan kegiatan ekonomi, integrasi dengan transportasi massal diharapkan memudahkan wisatawan menikmati beragam destinasi di Jakarta.***






