POJOKSATU.ID - Fenomena Jokowi dan PSI menjadikan ladang politik bikin sempoyongan semua pihak. Gaung Jokowi dan PSI dalam konteks politik kekinian dan mendatang tak terelakkan.
Kehadirannya juga ambisi menjadikan sinyal dan mimpi buruk para pemuka parpol yang sudah nyaman dengan kekuasaan. Setidaknya, mereka bakal dipaksa, di dorong keluar dari zona nyaman dan ditantang kehebatannya di kontestasi politik Indonesia.
Politik bukan lagi perang psikologis tapi mematikan lawan dengan cara apapun. Berbagai opini muncul dan menjaga fitnah ataupun ancaman. Terkini, konstelasi politik berubah dratis. Ada yang langsung bereaksi, tersulut emosi ada juga yang bermuka ganda.
Semua sepakat secara umum, Jokowi dan PSI menjadikan trigger waspada dan menimbulkan siasat baru bagi parpol lain dan elite politik.
Tak main-main, Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) memberi sinyal bahwa target Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada Pemilu 2029 tidak berhenti pada upaya lolos ke DPR.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Pandeglang Resah, Gaji Januari–Februari 2026 Masih Tertunda, Ini Penyebabnya
Jokowi tahu persis, untuk melanjutkan kekuasaan ke -3 kalinya butuh ambisi penguasaan secara utuh dan menyeluruh di parlemen.
Sesumbar Jokowi jika partai tersebut tidak akan kesulitan menembus parlemen dengan kondisi saat ini. Rasanya, Jokowi sengaja.
"Ya kalau yang saya lihat kalau untuk masuk Senayan (DPR), saya lihat dengan struktur yang ada saat ini, dan semangat yang ada sekarang ini, insyaallah enggak ada masalah,” ujar Jokowi usai menghadiri dan berpidato dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) perdana PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu.
Retorika pidatonya di hadapan kader PSI, Jokowi juga menyatakan komitmen Rakernas. Dan menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen penuh untuk PSI dengan menghimbau kader bekerja habis-habisan untuk partai. Karena Jokowi pun pun akan bekerja habis-habisan untuk PSI.
Prediksi yang palng menakutkan di Pemilu 2029 adalah konsekuensi mukadimah Jokowi tentang politik ekspansi. Diperkirakan tiga parpol berwarna biru akan tenggelam, PAN, Demokrat dan Nasdem. Ketiga partai ini akan lolos di DPR karena ambang batas parlemen ( Parlemen Threshold).
Baca Juga: Diduga Dikucilkan di Sekolah, Guru SD di Sebatik Tak Boleh Masuk Ruang Guru hingga Tunjangan Mandek
Lantas apa reaksi dan pergerakan politik yang dilakukan oleh Elite Parpol tersebu?
Paksa Duet Prabowo-Zulhas, reaksi saat ditanya mengenai peluang posisi calon wakil presiden pendamping Prabowo pada Pilpres 2029, Zulkifli Hasan masih malu-malu. Tidak atau enggan memberikan komentar lebih jauh.
Sementara Gibran mengatakan akan fokus mengerjakan program presiden. Namun, berbeda dengan para elite PAN lainnya, mereka sepertinya menerima sinyal ancaman serius bagi partainya dan kedudukan di koalisi, pemerintahan.
Pada akhirnya, PAN secara terbuka mengusung Ketua Umumnya, Zulkifli Hasan (Zulhas), sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.
Ambil Zulkifli Hasan menjadi wapres tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum PAN, Eddy Soeparno, di Kompleks Parlemen Senayan. Ia menegaskan bahwa meski PAN telah berkomitmen mendukung kembali Prabowo, paket calon presiden dan wakil presiden masih terbuka.
Alibi kuno didaulat sebagai alasan dukungan ke Prabowo dia periode. PAN menggarisbawahi bahwa dukungan kepada Prabowo bukan hal baru, diklaim sudah mendukung Prabowo tiga kali, keempat kalinya itu sudah jadi jawaban kita.
Baca Juga: Ironi Jalan Rusak di Bogor, Pemkot Ditegur Usai Perbaiki Jalan yang Bukan Tanggung Jawabnya
Polarisasi politik sedang menjadi tren baru dan mengancam Kekuatan politik lama, koneksi putus. Terutama partai yang saat ini berada dalam satu kolam dukungan ke Prabowo Subianto dan Gibran. Golkar dan PAN disinyalir akan tergerus dalam posisi dukungan kader dan logistik.
Banyak kader simpatisan Jokowi ditanam di Golkar dan PAN. Mengingat kembali Airlangga secara tiba-tiba dilengserkan dan digantikan oleh Bahlil Lahadalia.
Seperti diketahui, Bahlil begitu menyanjung Jokowi dan Golkar termasuk parpol yang setuju Gibran menjadi Wapres Prabowo. Sementara paska Zulkifli Hasan diangkat menjadi Menteri Perdagangan oleh Jokowi, parpol berlogo matahari ini harus jatuh dalam pengaturan dan pengaruhnya di lingkaran kekuasaan Jokowi.
Kemudian dalam politik nasional, PAN betul-betul memberikan karpet merah untuk Jokowi. Zulhas menjadikan Jokowi panglima perang PAN.
Pada akhirnya, PAN tergabung dalam KIB yang awalnya mendorong Paslon Ganjar-Erick harus bertekuk lutut komando Jokowi untuk mendukung Paslon Prabowo-Gibran.
Target besar PSI memakan kandang parpol besar ataupun kantong-kantong perolehan suara parpol tengah. Jatim konon dijadikan garis embarkasi basis PAN dan Jateng kandang banteng.
Manifestasi politik PSI dan Jokowi yang ekspansi hingga berdampak eskalasi politik nasional memanas, baik pergerakan organik di lapangan ataupun pengaruh psikologis media sosial.
Dampaknya adalah kondusivitas politik nasional labil, rawan perselisihan dan benturan ideologi ataupun platform partai terus terjadi.
Secara umum tidak menguntungkan bagi pemerintah yang sedang berjalan dan bagi keberlanjutan pembangunan. Siapa yang diuntungkan dalam situasi ini??
Penulis Pengamat Politik Alumni Fisipol UGM, Heru Subagia




