Pojoksatu.id - Sebuah komunitas lokal di Kota Bandung kembali menggelar kegiatan rutin touring berjalan kaki yang mengombinasikan wisata dan pendidikan sejarah.
Komunitas Aleut, yang berdiri sejak tahun 2006, mengajak puluhan peserta untuk menyusuri berbagai lokasi historis di Bandung dengan pendekatan santai dan interaktif.
Kegiatan yang diberi nama “Ngaleut” dari istilah bahasa Sunda yang berarti berjalan beriringan, dilakukan setiap akhir pekan, dan menjadi salah satu cara komunitas ini mengenalkan sejarah kota Bandung kepada masyarakat umum.
Baca Juga: Presiden Donald Trump Berjoget Bersama PM Anwar Ibrahim di Malaysia, Hadiri KTT ASEAN ke 47
Rute yang dilalui tidak hanya kawasan pusat kota, tetapi juga gang-gang sempit, kawasan pemukiman lama, hingga situs-situs yang jarang disorot.
Menurut salah satu pendiri Komunitas Aleut, kegiatan ini lahir dari keinginan untuk menghadirkan metode belajar sejarah yang tak sekadar berada di dalam kelas, melainkan melalui pengalaman langsung di lapangan.
Sebelum terbentuknya Aleut, terdapat kelompok mahasiswa yang merasa bahwa walking tour saja belum cukup memberikan pengetahuan sejarah yang lebih dalam. Dari sinilah komunitas ini kemudian berkembang.
Baca Juga: Kuota Impor BBM Naik 110%, Swasta Dapat Porsi Lebih Besar
Program Ngaleut dirancang agar peserta tidak hanya berjalan kaki, tetapi juga mengamati arsitektur, lingkungan sosial di area sejarah, hingga membaca jejak-jejak masa lalu Kota Bandung.
Selain itu, Komunitas Aleut juga mengadakan kelas literasi, workshop menulis, dan dokumentasi hasil perjalanan.
Dengan demikian, anggota komunitas tidak hanya aktif secara fisik, tetapi juga diharapkan tumbuh kesadarannya terhadap lingkungan sekitar serta warisan budaya lokal.
Baca Juga: Cara Download Piagam JOTA-JOTI 2025 Lewat Situs Resmi JOTA JOTI
Ketua pelaksana kegiatan menyatakan bahwa dengan cara “jalan sambil belajar”, para peserta dapat lebih peka terhadap kondisi bangunan-bersejarah maupun situs cagar budaya yang mungkin terlupakan.
Melalui pengalaman langsung, mereka bisa “membaca” sejarah kota melalui jejak fisik yang masih ada di kota Bandung.
Selain kegiatan rutin di dalam kota, Komunitas Aleut juga menjalankan aksi literasi dalam bentuk “Memotoran”, yaitu perjalanan menggunakan motor ke daerah-pinggiran atau kawasan perkebunan yang memiliki sejarah sendiri, seperti daerah Priangan.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Tegaskan TKD Tak Pantas Ditunda Jika Jabar Tunjukkan Kinerja Terbaik
Tujuannya adalah menciptakan pengetahuan yang tidak hanya terpusat di kota besar tetapi juga menyentuh wilayah luar kota.
Pada masa pandemi Covid-19, komunitas ini sempat menyesuaikan metode kegiatannya.
Alih-alih bertatap muka langsung, acara dialihkan ke format daring, termasuk kelas literasi online dan virtual tour menggunakan platform digital.
Baca Juga: Tingkatkan Kesejahteraan Petani, di MSPP Kementan Jabarkan HET Pupuk
Meskipun terbatas secara fisik, partisipasi masih terus berjalan.
Bagi yang tertarik bergabung, Komunitas Aleut menyediakan pendaftaran yang terbuka bagi publik dengan persyaratan sederhana, tertarik sejarah kota Bandung dan siap berjalan kaki bersama rombongan.
Anggaran yang diperlukan untuk bergabung pun cukup ringan sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian warisan budaya lokal.
Melalui aktivitas yang menggabungkan jalan-jalan, interaksi sosial, dan pembelajaran literasi ini, komunitas tersebut berharap generasi muda dapat lebih mengenal dan menghargai kota tempat tinggal mereka.
Dengan demikian, bukan hanya wisata, tetapi juga pemahaman terhadap sejarah dan identitas kota dapat semakin terbangun.***

