Kota Bandung, POJOKSATU.id - Uang digital kini sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat kekinian untuk segala transaksi pembayaran.
Dari mulai pedagang besar hingga pedagang kecil bahkan ibu rumah tangga nyaris sudah tak asing menggunakan uang digital.
Begitupun bagi para pelajar uang digital sudah menjadi hal biasa.
Pasalnya bekal atau uang jajan kini sudah mulai banyak dimasukan ke dompet elektronik (e wallet). Namun demikian pemahaman atau literasi uang digital masih sangat minim.
Disampaikan Chief of Treasury Permata Bank, Suryadi Ong tingkat inklusi keuangan cukup tinggi.
"Kita nggak punya data yang tersebar-sebar berapa persen pelajar menggunakan uang digital, cuma memang yang kita perhatikan itu tingkat inklusi. Tingkat inklusi di permata bank itu memang cukup tinggi tapi tingkat literasinya itu masih rendah. Jadi, berbeda. Inklusi sama diterasi. Inklusinya mungkin udah tinggi, tapi literasinya masih kurang," ujar Suryadi dalam acara Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) 2026 dengan tema “24 Tahun, 24 Kota, 1 CERITA”, yang dilaksanakan di 24 kota di Indonesia.
Karena minim itulah, pihaknya menggelar program tersebut. Seperti dilakukan di SMP Ganesa Kota Bandung, ratusan siswa diberikan edukasi dan literasi bagaimana mengelola keuangan saku, pengenalan pembayaran digital melalui QRIS, hingga cara mengenali dan menghindari penipuan digital melalui metode *3A (Amati, Awasi, Adukan).
"Nah, itu salah satu fokus kenapa (1:08) program kita hari ini, jadi kalau misalnya adik-adik ini terima uang jajan. Kita mengajari mereka gimana sih mengelola uang jajannya. Gimana sih, kalau bahasa kerajaan itu mengambil keputusan finansial yang (1:30) bijak. Nah, itu fokusnya," imbuhnya.
"Jadi, udah bukan yang inklusi, tapi gaya literasi. Cara mengelola uang atau terima uang. Cara belanja yang bijak seperti apa. Kalau misalnya membahayakan rawan, bagaimana memastikan. Nah, itu semua pengetahuan langsung dari sumbernya," jelasnya.
Masih kata Suryadi sangat penting mengedukasi para pelajar bagaimana mengelola keuangan, terlebih kebanyakan anak sekarang memiliki handphone masing-masing dan ada aplikasi e wallet.
"Kalau kita perhatikan, mungkin pas masa-masanya udah mulai dikasih uang jajan lebih besar. Handphone, orang pasti udah punya, rekening ada. Nah, jadi sangat penting untuk mereka memiliki pemahaman yang baik tentang pengelolaan uang, itu yang basic dulu," tuturnya.
Suryadi juga berharap informasinya ini tidak berhenti di pelajar tersebut namun saat ke rumah, sampai ke orangtua dan saudaranya.
Suryadi pun menghimbau agar para pelajar mulai membiasakan tidak membagi-bagikan OTP ataupun no PIN kepada siapapun.
"Wajib nih, nggak boleh dikasih ke siapa-siapa OTP dan PIN, apalagi dengan teknologi semakin canggih tapi risikonya juga tinggi. Jadi ini sangat penting buat adik-adik, memiliki pengetahuan basic yang baik, contoh, pintu yang boleh di-sharing," pungkasnya.






