Kota Bandung, POJOKSATU.id - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membenarkan pertemuan dengan sekertaris daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Kamis kemarin merupakan pertemuan informal membahas sejumlah permasalahan mulai dari sampah, banjir, hingga penertiban bangunan liar (bangli).
Kata Farhan Kota Bandung tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Butuh pemerintah provinsi untuk melakukan koordinasi penyelesaian, terutama di daerah perbatasan.
"Saya kan dalam tiga hari terakhir ini di Cibiru terus. Nah, Cibiru kan daerah perbatasan yang lumayan banyak. Nah, ini makanya ketika Pak Sekda Provinsi ada waktu, langsung saya diundang hari ini ngobrol banyak tentang beberapa hal, ya, strategi-strategi yang sifatnya nonformal. Pendekatan kepada tokoh, bahasa yang akan digunakan, narasi apa yang akan digunakan. Contohnya untuk bangli dan PKL, narasinya adalah penataan dan penertiban. Tidak boleh ada kata-kata represif. Nah, untuk menghindari kata-kata represif ini, maka harus ada pemberdayaan," tegas Farhan.
Untuk pemberdayaan tersebut kata dia yang harus segera didorong oleh semua sektor, terutama sektor KUKM, baik yang di provinsi maupun di pemerintah kota, ataupun KUKM yang ada di sektor swasta dan itu belum digerakkan.
"Kalau penataan dan penertiban akan jalan terus sesuai dengan semangat yang telah dicontohkan oleh Pak Gubernur. Nah, sementara itu juga, dengan demikian sebetulnya, pesan yang mau disampaikan juga bahwa tidak ada dikotomi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kota, antara gubernur dengan wali kota. Semuanya sejalan dan sinkron, gitu," paparnya.
Terkait masalah sampah sendiri kata Farhan
100% harus selesai di hulu, agar bisa mengurangi tekanan ke TPA.
Di Kota Bandung sendiri sudah ada Gaslah yang bukan sekadar petugas, tapi juga memberikan edukasi. Gaslah ini sekarang baru bisa meng-handle paling banyak 70 ton sampah organik per hari dan masih butuh untuk menambah kapasitas.
Karenanya Sekda kata Farhan mengajak perguruan tinggi agar para mahasiswa, dalam tanda kutip, melakukan KKN, yaitu dengan pengelolaan sampah, membantu Gaslah untuk mengolah dan memilah-milah sampah.
"Itu sudah mulai berjalan. Percobaan di Arcamanik berhasil dengan sangat baik, maka kita akan replikasi di beberapa tempat lain. Nah, program yang lain juga tentunya kita kan akan meluncurkan program pembangunan komposter pit. Komposter pit ini adalah sebuah kompos, kotak kompos, yang ukurannya 1 x 1 meter lebar panjang, sedangkan kedalamannya 2 meter," paparnya.
Dengan demikian, di setiap RW akan ada tiga atau total sekitar ada 4.800-an titik.
Yang nanti akan menampung penambahan jumlah sampah organik yang sudah dipilah lewat Gaslah dan para mahasiswa tersebut dengan target bisa mengurangi sampai 20% atau sekitar 120 - 150 ton dari 600 ton sampah organik yang dibawa ke TPA.





