POJOKSATU.id, KAMU mungkin sering mendengar istilah clean eating, kan? Ya, ini adalah jenis pola makan yang memilih makanan yang belum melalui banyak proses pengolahan.

Gaya hidup clean eating ini kini sedang naik daun, terutama di kalangan Gen Z yang ingin tampil segar, berenergi, dan percaya diri.

Namun, di balik tren positif tersebut, ada sisi gelap yang jarang disadari.

Terlalu fokus pada makanan sehat ternyata bisa menimbulkan gangguan makan berbahaya bernama orthorexia.

Baca Juga: Waspadai Kesalahan Meal Prep, Ini Tips Dokter Agar Stok Makanan Aman dan Tetap Bergizi

Fenomena ini kini mulai banyak dialami generasi muda yang terobsesi dengan pola makan sempurna.

Apa Itu Orthorexia?

Secara harfiah, orthorexia berasal dari dua kata Yunani, ortho (benar) dan orexis (nafsu makan).

Artinya, gangguan makan yang ditandai oleh obsesi berlebihan terhadap makanan yang dianggap sehat atau “benar”.

Penderitanya akan merasa bersalah atau cemas jika mengonsumsi makanan di luar standar sehat yang mereka tetapkan sendiri.

Baca Juga: Xiaomi Pad 8 dan Pad 8 Pro Resmi Meluncur, Tampil Mewah dengan Layar 3.2K dan Performa Gahar, Cek Daftar Lengkap Harganya

Tak jarang, hal ini menyebabkan stres, gangguan hubungan sosial, dan bahkan mengarah pada isolasi diri.

Menurut peneliti, orthorexia bukan tentang ingin kurus, melainkan tentang keinginan ekstrem untuk makan “sempurna”.

Namun, akibatnya justru bisa membahayakan tubuh dan pikiran.

Mengapa Gen Z Rentan Terkena Orthorexia?

Generasi Z dikenal sangat peduli dengan gaya hidup sehat.

Mereka senang mengonsumsi makanan organik, menghindari gula, serta mengikuti berbagai tren diet yang sedang viral.

Baca Juga: Cara Mudah Perpanjang STNK Motor Secara Online, Gunakan Aplikasi Samolnas, Cek Syaratnya

Sayangnya, paparan media sosial dan influencer kesehatan sering menciptakan standar yang tidak realistis.

Keinginan untuk terlihat sempurna dan hidup “sehat versi internet” justru bisa memicu kecemasan dan tekanan sosial.

Sebuah studi dalam Journal of Eating Disorders (2021) menyebut, sekitar 21 persen orang dewasa muda usia 18–25 tahun menunjukkan tanda-tanda orthorexia.

Angka ini menjadi sinyal bahwa obsesi terhadap makanan sehat kini berkembang menjadi fenomena psikologis baru di era digital.

Tanda-Tanda Orthorexia yang Perlu Diwaspadai

Tidak semua orang yang menjalani clean eating berarti menderita orthorexia. Namun, ada beberapa tanda yang patut diperhatikan:

Baca Juga: Jokowi dan Megawati Tak Hadiri HUT TNI ke 80 di Lapangan Monas, SBY Duduk Dampingi Prabowo

Obsesi terhadap makanan sehat.

Merasa cemas atau bersalah jika mengonsumsi makanan yang dianggap “tidak sehat”.

Menghindari makanan tertentu secara ekstrem.

Menolak gluten, gula, atau produk susu tanpa alasan medis yang jelas.

Kecemasan berlebihan terhadap makanan.

Panik atau takut saat harus makan makanan yang tidak sesuai standar pribadi.

Mengisolasi diri dari lingkungan sosial.

Enggan makan bersama orang lain karena takut makanannya tidak “sehat”.

Bahaya Orthorexia bagi Tubuh dan Pikiran

Meski berawal dari niat baik, orthorexia bisa menyebabkan kekurangan gizi karena membatasi asupan makanan penting.

Baca Juga: Ditolak PSSI dan Penonton Timur Tengah, Wasit Ahmed Al-Ali Tetap Pimpin Laga Arab Saudi vs Indonesia

Selain itu, obsesi terhadap “kesempurnaan makan” dapat memicu gangguan mental, seperti kecemasan, stres, dan perasaan bersalah berlebihan.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga berpotensi menyebabkan isolasi sosial, karena penderita sering menarik diri dari kegiatan yang melibatkan makanan bersama orang lain.

Cara Mengatasi Orthorexia

Kunci untuk mengatasi orthorexia adalah dengan mengubah cara pandang terhadap kesehatan. Makan sehat bukan berarti harus sempurna setiap saat.

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

-Latih fleksibilitas dalam pola makan — tidak apa-apa sesekali menikmati pizza, es krim, atau camilan manis.

Baca Juga: Telkom Raih Gelar BUMN Terbaik 2025 di Indonesia Economic Summit, Bukti Nyata Kiprah Digital untuk Indonesia Emas

-Fokus pada keseimbangan gizi, bukan hanya “makanan bersih”.

Ingat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Jika merasa cemas berlebihan soal makanan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau ahli gizi.

Tren clean eating memang membawa banyak manfaat, tetapi jika dijalani tanpa keseimbangan, justru bisa berbalik menjadi sumber masalah.

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Reizka Kemala Nazar

Untuk Gen Z dan siapa pun yang tengah mengejar hidup sehat, penting untuk mengingat satu hal: makan sehat itu penting, tapi mencintai diri sendiri jauh lebih penting. ***