POJOKSATU.id — Warga Jakarta akan memiliki lebih banyak pilihan lokasi untuk mendapatkan layanan kesehatan bagi hewan peliharaan maupun hewan lainnya.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta diketahui sedang menambah lima Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang tersebar di sejumlah lokasi di Ibu Kota.
Informasi tersebut disampaikan Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Francine Widjojo.
Menurutnya, penambahan fasilitas kesehatan hewan ini ditujukan untuk membuat pelayanan lebih mudah dijangkau masyarakat.
Sebelum pembangunan lima fasilitas tambahan tersebut, layanan Puskeswan di Jakarta tersedia di Ragunan, Jakarta Selatan, dan Pondok Ranggon, Jakarta Timur.
Baca Juga: Barantin Dorong Dokter Hewan Karantina Perkuat Integritas dan Kompetensi
Francine menyebut lima lokasi yang kini menjadi tempat pembangunan Puskeswan baru, yakni Pusat Produksi, Inspeksi, dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP) Pluit, Kebun Anggur Pulo Gebang, Training Center Klender, Sentra Flora dan Fauna Semanan, serta Gedung Kantor Dinas KPKP Provinsi DKI Jakarta.
Ia mengungkapkan, penambahan fasilitas tersebut telah menjadi salah satu agenda yang diperjuangkannya sejak 2025.
"Setelah selesai dibangun, lima Puskeswan ini akan mempermudah akses warga DKI Jakarta pada layanan kesehatan hewan," ujar Francine.
Menurut Francine, keberadaan Puskeswan di beberapa titik baru akan memangkas jarak yang harus ditempuh masyarakat ketika membutuhkan pengobatan atau layanan kesehatan bagi hewan.
Baca Juga: Penabrak Hewan Peliharaan Sampai Mati Bisa Dipidana? Begini Hukum di Indonesia
Persoalan jarak tersebut salah satunya dirasakan masyarakat Jakarta Utara yang memiliki hewan peliharaan seperti kucing.
Francine menjelaskan, warga Jakarta Utara selama ini harus menuju Puskeswan Ragunan apabila ingin membawa kucingnya mendapatkan pelayanan kesehatan.
Sementara itu, Puskeswan Pondok Ranggon tidak menjadi pilihan untuk kasus tersebut karena fasilitas itu melayani hewan ternak.
"Puskeswan Pondok Ranggon hanya melayani hewan ternak. Jadi warga Jakarta Utara kalau mau bawa kucingnya berobat ke Puskeswan harus ke Ragunan yang jaraknya jauh sekali. Sedangkan transportasi publik kita belum membolehkan membawa kucing di armadanya, meski menggunakan carrier," kata Francine.
Dengan penambahan lokasi pelayanan, masyarakat nantinya tidak harus menempuh perjalanan sejauh sebelumnya untuk mengakses Puskeswan.
"Dengan adanya Puskeswan yang lebih dekat, warga akan sangat terbantu dari sisi waktu maupun biaya untuk datang ke Puskeswan," tambahnya.
Francine turut mengaitkan pembangunan fasilitas kesehatan hewan tersebut dengan konsep One Health One Welfare.
Baca Juga: Mau Periksa atau Steril Kucing? Cek Jadwal Mobil Klinik Hewan Jakarta Barat dan Tarifnya
Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan hewan juga memiliki keterkaitan dengan upaya menjaga kesehatan masyarakat.
Ia mengatakan peningkatan jumlah Puskeswan di Jakarta dapat berjalan beriringan dengan tumbuhnya kesadaran warga untuk lebih memperhatikan kesehatan hewan.
"Dengan meningkatnya jumlah Puskeswan di Jakarta, serta tingginya kesadaran dan kepedulian warga Jakarta terhadap kesehatan hewan, ini juga akan membantu menjaga kesehatan masyarakat Jakarta itu sendiri," katanya.
Meski demikian, Francine mengingatkan agar pembangunan Puskeswan tidak hanya berfokus pada penyediaan infrastruktur fisik.
Menurut dia, fasilitas yang telah dibangun harus mendapatkan dukungan anggaran agar pelayanan kepada masyarakat dapat berlangsung secara optimal.
Baca Juga: Tarif Klinik Hewan Keliling Jaksel September 2026, Cek Biaya Pemeriksaan hingga Sterilisasi
"Kami sudah memperjuangkan pembangunan Puskeswan ini sejak 2025. Ini merupakan perkembangan yang baik dan harus kita kawal bersama-sama," tambahnya.
Ia meminta Pemprov DKI Jakarta memperhitungkan kebutuhan tenaga medis yang kompeten, obat-obatan, peralatan pendukung, serta biaya operasional dalam pengelolaan Puskeswan baru.
"Kehadiran Puskeswan-Puskeswan baru ini harus disertai dengan pengalokasian anggaran yang cukup untuk memastikan operasionalnya dapat berjalan lancar. Tidak hanya bangunannya, tapi kualitas layanan medisnya serta ketersediaan obat dan penunjang medis juga harus diperhatikan," tegasnya.
Di sisi lain, Francine mendorong agar pengembangan fasilitas kesehatan hewan di Jakarta tidak berhenti pada pembangunan Puskeswan.
Ia berharap Puskeswan Ragunan nantinya dapat ditingkatkan status dan fasilitasnya menjadi rumah sakit hewan yang mampu menangani kondisi darurat selama 24 jam.
Hal tersebut dinilai penting karena sampai saat ini Jakarta belum memiliki rumah sakit hewan milik Pemprov DKI yang menyediakan layanan kegawatdaruratan selama 24 jam.
"Seiring kami mengawal pembangunan Puskeswan-Puskeswan yang dijanjikan akan rampung pada tahun ini, kami juga akan terus mengawal upgrade Puskeswan Ragunan menjadi Rumah Sakit Hewan dengan layanan gawat darurat 24 jam," pungkasnya.***




