POJOKSATU.id – Depresi merupakan kondisi gangguan pada suasana hati yang menyebabkan perasaan sedih dan kehilangan minat yang berlarut-larut.

Gangguan depresi dibagi menjadi 4 klasifikasi, yakni gangguan depresi mayor, gangguan depresi persisten (distimia), gangguan disforia pramenstruasi, dan gangguan depresi karena kondisi medis lain.

Depresi adalah salah satu gangguan kesehatan mental yang umum terjadi di masyarakat.

Depresi ditandai dengan emosi sedih dan muram yang terjadi berlarut-larut. Terkadang, depresi dapat ditandai juga dengan gejala fisik dan psikis pada penderitanya.

Baca Juga: UM Bawa Teknologi AR dan VR ke Desa, Guru Desa Sidomulyo Belajar Langsung Dunia Digital

Gejala fisik yang biasa dialami oleh penderitanya adalah gangguan pola tidur, mudah merasa lelah, serta menurunnya tingkat aktivitas, efisiensi, dan produktivitas kerja.

Gejala psikis yang biasa dirasakan oleh penderita depresi, antara lain hilangnya rasa percaya diri, selalu merasa tidak berguna, munculnya perasaan bersalah terus-menerus, dan menjadi lebih sensitif.

Depresi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yakni faktor kepribadian, faktor kegagalan yang berulang, faktor kognitif, faktor psikososial, faktor genetik, dan faktor karena mengidap penyakit lain.

Dampak negatif gangguan depresi pada penderitanya sangat besar. Tak hanya mengganggu kondisi mental, tetapi juga mengganggu kondisi fisik.

Baca Juga: Program Beasiswa Ayo Pintar Buka Kesempatan Dapat Dana Pendidikan Rp24 Juta dan Pelatihan Pengembangan Diri

Gangguan fisik yang dialami oleh penderita depresi, antara lain sebagai berikut;

1. Masalah Sistem Pencernaan

Penderita depresi biasanya akan mengalami peningkatan atau penurunan pada nafsu makan.

Hal ini didorong karena nafsu makan penderita didorong oleh kondisi suasana hatinya sehingga nutrisi makanan yang dikonsumsi pun tidak terkontrol.

2. Melemahnya Sistem Imunitas Tubuh

Seseorang dengan menderita depresi dapat menurunkan motivasi untuk menjalani hidup sehat.

Hal tersebut menyebabkan tubuh kekurangan energi serta penurunan imunitas.

Ketika imunitas tubuh melemah, tubuh akan lebih mudah terpapar virus dan bakteri sehingga tubuh akan lebih mudah terserang penyakit.

Baca Juga: Beasiswa Cahaya Prestasi 2025 Masih Dibuka, Gratis untuk Semua Jenjang, Segera Cek Cara Daftar dan Syarat

3. Gangguan Fungsi Otak

Ketika seseorang mengalami depresi, beberapa bagian otak yakni hipokampus dan korteks prefrontal menyusut.

Dampak dari penyusutan ini menyebabkan menurunnya kemampuan mengingat, mengolah emosi, dan membuat keputusan.

Gangguan depresi juga menyebabkan bagian amigdala pada otak bekerja berlebihan sehingga berdampak pada pola tidur penderitanya.

4. Masalah pada Jantung

Seseorang yang menderita depresi mengalami lonjakan pada degup jantung sehingga jantung bekerja lebih cepat dan kencang.

Jika kondisi ini dibiarkan dalam jangka waktu yang lama maka akan meningkatkan risiko penyakit jantung. Salah satunya adalah penyakit jantung koroner.

Beberapa dampak yang muncul jika gangguan depresi tidak segera ditangani. Oleh karena itu, perlunya kewaspadaan dan penanganan dengan segera kepada penderita depresi.

Baca Juga: Fulbright S2 atau S3, Program Beasiswa Menggapai Impian ke Amerika Dibuka! Cek Persyaratan Lengkapnya Sekarang!

Berikut cara penanganan ketika mengalami gangguan depresi.

1. Perlunya Perubahan Pola Hidup

Ketika merasa memiliki ciri-ciri dalam gejala depresi, diperlukannya perubahan dalam pola hidup, terutama pola hidup yang buruk.

Beberapa cara untuk memperbaiki pola hidup, antara lain dengan berolahraga, mengatur pola makan dengan lebih baik, berdoa, memiliki keberanian untuk berubah menjadi lebih baik, dan berekreasi jika merasa suasana hati sedih berlarut.

2. Konseling Psikolog

Gangguan depresi yang dirasa telah mempengaruhi beberapa kebiasan hidup, sebaiknya segera melakukan konsultasi pada psikolog.

Konseling pada psikolog dilakukan supaya dapat mengetahui dan mengenal sejauh mana gangguan depresi yang terjadi pada penderita.

Konseling ini melibatkan terapi interpersonal, konseling kelompok dan dukungan sosial, terapi humor, dan terapi kognitif.

Baca Juga: Kontes Robot Terbang Indonesia 'KRTI' 2025, Ini Daftar Mahasiswa Juara Inovator

3. Pengobatan

Langkah terakhir menangani gangguan depresi adalah dengan melakukan pengobatan dan konsultasi pada dokter kejiwaan atau psikiater.

Jika gangguan depresi yang dialami cukup mayor, diperlukannya obat-obatan untuk menunjang kesembuhan depresi.

Gangguan depresi sangat berdampak pada kondisi tubuh penderitanya. Oleh karena itu, diperlukannya pencegahan untuk menghindari gangguan depresi tersebut.

Pencegahan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, yakni tidak menyalahkan diri sendiri atau orang lain ketika mengalami kegagalan, kerap bersikap realistis, tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dan tidak menyimpan emosi secara berlarut.

Baca Juga: Komdigi Perkuat Infrastruktur Digital Sekolah Rakyat Jamin Pemerataan Pendidikan Berbasis Data

Untuk mendampingi penderita depresi, diperlukan pula dukungan dari keluarga dan sekitar sehingga depresi yang dialami dapat ditangani dengan bijak. ***