POJOKSATU.id — Citra adalah napas yang perlu dijaga dalam industri perhotelan.

Ia hidup dalam kesan yang menempel di hati tamu, dalam ingatan yang terbawa pulang setelah menginap.

Di era digital, kesan itu tidak berhenti di dalam kamar atau lobi. Ia bergerak ke layar gawai, hadir di linimasa, dan berinteraksi lewat konten media sosial.

Pertanyaannya, bagaimana Onih Hotel bisa menjaga kedekatan emosional di ruang digital yang begitu riuh? Salah satu jawabannya terletak pada humor.

Humor sebagai Bahasa Kedekatan

Sejak lama humor dipandang sebagai katup yang melepaskan ketegangan hidup.

Sigmund Freud menyebutnya mekanisme pertahanan psikis, sementara Henri Bergson melihatnya sebagai bentuk koreksi sosial yang halus.

Baca Juga: Chef Bulmer Rela Tempuh 100 KM Demi Sop Buntut Le Eminence Hotel

Pada era digital, humor menjelma sebagai bahasa paling akrab. Ia mampu mencairkan jarak, menumbuhkan rasa setara, dan menjadikan percakapan lebih hidup.

Bagi Onih Hotel, hal ini berarti peluang emas untuk menjembatani kesan formal industri perhotelan dengan keseharian publik.

Dengan humor, Onih tidak hanya tampil sebagai institusi bisnis, melainkan sahabat dekat yang hadir di linimasa masyarakat.

Sebuah riset di Journal of Interactive Marketing (2019) menunjukkan, konten bernuansa humor berpotensi memicu keterlibatan audiens hingga 37 persen lebih tinggi dibanding konten informatif biasa.

Fakta ini menegaskan satu hal, di tengah kompleksitas hidup, manusia tetap mencari ruang jeda untuk tertawa.

Di titik inilah humor menjadi strategi komunikasi bernilai.

Bukan sekadar hiburan, melainkan pintu masuk untuk membangun engagement yang lebih dalam.

Baca Juga: Pupuk Kujang Percantik Situ Kamojing, Wisata Karawang Kian Diminati

Konten yang lucu akan lebih mudah dibagikan, dikomentari, dan diingat oleh audiens.

Humor, Perpanjangan Hospitalitas

Dalam industri perhotelan, hospitalitas adalah kunci.

Layanan ramah, sapaan hangat, dan perhatian detail adalah wujud nyata hospitalitas.

Namun di ruang digital, hospitalitas juga bisa ditunjukkan dengan konten yang membuat orang tersenyum.

Bayangkan seseorang yang melihat postingan Onih Hotel dengan candaan ringan seputar “drama check-out telat” atau “dilema memilih menu sarapan di buffet”.

Senyum kecil itu bisa menjadi undangan emosional.

Engagement digital pun tidak berhenti pada like atau komentar, melainkan membuka jalan menuju pengalaman nyata—saat audiens memilih datang dan menginap.

Namun, humor punya syarat utama: harus aman, cerdas, dan inklusif.

Baca Juga: Wisata Air Kalimalang Kota Bekasi Bisa Dinikmati Warga Tahun 2026

Candaan yang menyinggung kelompok tertentu justru akan merusak citra yang telah dibangun.

Maka Onih Hotel perlu berhati-hati: pilih humor yang universal, ringan, dan bisa dirasakan siapa pun.

Contoh ideal adalah humor yang menyoroti keruwetan dunia modern tanpa mempermalukan orang lain.

Misalnya, meme ringan tentang perjuangan bangun pagi untuk sarapan hotel, atau ilustrasi jenaka tentang tamu yang selalu menunda check-out karena terlalu betah.

Strategi Kreatif, Dari Meme hingga Storytelling

Onih Hotel bisa memanfaatkan berbagai format konten humor di media sosial:

Baca Juga: Pemkot Bandung dan PT DI Hadirkan Wisata Edukasi Kedirgantaraan untuk Pelajar

  • Meme visual: gambar dengan teks singkat seputar pengalaman menginap.

  • Video pendek: sketsa ringan ala reels atau TikTok yang menampilkan adegan lucu di hotel.

  • Storytelling jenaka: caption kreatif yang menyentuh, dibalut humor ringan.

Semua ini akan memperkuat positioning Onih Hotel sebagai brand yang humanis, dekat dengan publik, dan relevan dengan budaya digital masa kini.

Dengan pendekatan humor, Onih Hotel tampil bukan hanya sebagai bangunan tempat singgah, melainkan ruang hidup yang hadir di keseharian digital masyarakat.

Humor adalah strategi sederhana, murah, tetapi berdaya guna tinggi.

Ia menempatkan hotel sebagai sahabat dekat di tengah percakapan publik, baik di dunia maya maupun dunia nyata. ***

Penulis: Anna Nur Aulia, mahasiswa Prodi Sains Komunikasi Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Djuanda .

Baca Juga: La Vela Green Lake City: Wisata Tematik Baru Bernuansa Eropa di Jakarta

Semoga informasi ini bermanfaat, ya.

Bantu tulis tanggapan di kolom komentar dan share info ini ya.

Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami: