POJOKSATU.ID - Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sering kali menyamakan istilah libido tinggi dengan kondisi hypersexual.

Padahal, secara klinis, keduanya merupakan hal yang sangat berbeda.

Libido tinggi pada dasarnya masih dalam batas normal dan merupakan bagian dari variasi biologis manusia.

Seseorang dengan libido tinggi mungkin memiliki gairah yang kuat, namun mereka tetap memiliki kontrol penuh atas dirinya, tetap produktif dalam bekerja, dan mampu menjaga hubungan sosial yang sehat dengan menghormati batasan serta konsen pasangan.

Baca Juga: Perkuat Pengamanan dan Kenyamanan dengan Penambahan CCTV Analitik di Stasiun Wilayah KAI Daop 3 Cirebon

Singkatnya, gairah tersebut tidak mendominasi pikiran setiap saat dan tidak mengganggu kualitas hidup mereka.

Sebaliknya, hypersexual atau yang dalam dunia medis dikenal sebagai Compulsive Sexual Behavior Disorder (CSBD), dikategorikan sebagai sebuah gangguan mental.

Kondisi ini ditandai dengan dorongan seksual yang bersifat kompulsif dan sangat sulit dikendalikan, sehingga penderitanya sering kali merasa terjebak.

Pikiran mereka terus-menerus dipenuhi oleh fantasi seksual atau dorongan PMO (Porn, Masturbation, Orgasm) hampir sepanjang waktu.

Baca Juga: Gubernur Al Haris Tinjau Banjir Bandang di Merangin, Pastikan Perbaikan Jembatan dan Fasilitas Umum Dipercepat

Akibatnya, fokus pada pekerjaan menurun drastis, rutinitas harian menjadi berantakan, dan hubungan dengan orang lain sering kali rusak akibat perilaku tidak jujur atau ketidakmampuan menjaga komitmen.

Salah satu perbedaan yang paling mencolok terletak pada perasaan setelah melakukan aktivitas seksual.

Pada kondisi libido normal yang sehat, tidak ada rasa bersalah atau penyesalan yang muncul.

Namun, bagi mereka yang menderita CSBD, aktivitas tersebut sering kali diikuti oleh perasaan hampa, gelisah, rasa bersalah, hingga ketidakpuasan yang mendalam.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tidak sembarangan melabeli seseorang sebagai "hyper" hanya karena mereka memiliki gairah tinggi.

Penting juga untuk ditegaskan bahwa diagnosis hypersexual tidak boleh dijadikan tameng atau pembenaran untuk melakukan tindakan tidak terpuji seperti perselingkuhan atau pelecehan seksual.

Memahami perbedaan ini membantu kita untuk lebih bijak dalam menilai diri sendiri dan orang lain.

Jika seseorang merasa dorongan seksualnya sudah mulai merusak kehidupan dan sulit dikontrol, sangat disarankan untuk mencari bantuan profesional daripada sekadar memberikan label tanpa dasar medis.

Pahami diri sendiri, tetap jaga kontrol, dan selalu hormati batasan orang lain.***