POJOKSATU.id— Novel "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer hingga kini masih menjadi salah satu karya sastra yang paling banyak diperbincangkan di Indonesia.
Lebih dari sekadar novel sejarah atau roman klasik, karya ini merupakan bentuk perlawanan terhadap dominasi kolonial, ketidakadilan sosial, dan terutama rasialisme yang dilembagakan di tanah jajahan.
Terbit pertama kali pada 1980, "Bumi Manusia" menggambarkan kehidupan Hindia Belanda pada awal abad ke-20, masa ketika sistem kolonial menempatkan pribumi di posisi paling rendah dalam hierarki sosial dan hukum.
Baca Juga: Target Juara Umum, Jakarta Timur Kirim 357 Atlet ke POPPROV & PORPROV DKI
Kisahnya berpusat pada Minke, seorang pemuda pribumi terpelajar yang bersekolah di lembaga pendidikan bergaya Eropa (Hoogere Burgerschool).
Melalui sudut pandang Minke, pembaca diajak menyelami masyarakat kolonial yang sarat ketimpangan.
Dalam struktur sosial tersebut, ras menentukan nilai kemanusiaan: Eropa dianggap unggul, kaum Indo berada dalam posisi abu-abu, dan pribumi nyaris tidak diakui sebagai manusia seutuhnya.
Baca Juga: Bendera One Piece dan Simbol Perlawanan, Ketika Fiksi Menjadi Media Kritik Sosial
Isu rasialisme dalam novel ini tidak hanya muncul dalam hubungan antarindividu, tetapi juga tertanam dalam sistem hukum dan pendidikan.
Minke, meskipun cerdas dan mampu mendapatkan pendidikan Barat, ia tetap diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah.
Surat kabarnya dianggap “tidak layak” hanya karena ia seorang pribumi. Dalam konflik hukum, kebenaran bukan ditentukan oleh fakta, melainkan oleh warna kulit dan garis keturunan.
Begitu pun hubungan Minke dengan Annelies Mellema, seorang gadis Indo yang cantik, Indo adalah sebutan untuk mereka yang lahir dari campuran darah Eropa dan pribumi yang seringkali dipandang setengah-setengah dan tidak benar-benar diterima di kedua sisi.
Cinta mereka bukan sekadar urusan dua insan, melainkan gambaran bagaimana latar belakang sosial dan kekuasaan kolonial bisa ikut campur dalam urusan paling pribadi.
Di tengah kisah itu hadir sosok Nyai Ontosoroh, ibu Annelies, yang bukan hanya menjadi simbol emansipasi, tetapi juga perempuan pribumi tangguh yang menantang stigma sosial, sistem hukum kolonial, dan budaya patriarkis.
Melalui karyanya, Pramoedya mencoba merangkai ulang sejarah dari sudut pandang mereka yang selama ini disingkirkan.
Dengan gaya bercerita yang tajam dan jujur, ia mengajak pembaca menyaksikan sisi gelap kolonialisme: dari eksploitasi dan pembungkaman intelektual hingga penghancuran jati diri bangsa.
Baca Juga: Transaksi Judi Online Turun 70 Persen, PPATK Aktifkan Lagi 28 Juta Rekening yang Sempat Diblokir
Secara struktural, novel ini memadukan gaya bahasa yang indah dan reflektlif, namun tetap tajam. Bahasa dalam "Bumi Manusia" bukan hanya alat komunikasi, melainkan senjata untuk melawan narasi penguasa.
Lewat tokoh Minke, Pramoedya menegaskan bahwa pengetahuan, kesadaran, dan tulisan adalah bentuk tertinggi dari perlawanan.
Meski sempat dilarang beredar pada masa Orde Baru karena dianggap menyebarkan ideologi berbahaya, larangan itu justru mengukuhkan "Bumi Manusia" sebagai karya yang abadi.
Novel ini terus dicetak ulang, menjadi bahan ajar sastra dan sejarah, bahkan diadaptasi ke layar lebar pada 2019.
Lebih dari sekadar kisah cinta berlatar sejarah, "Bumi Manusia" adalah manifesto kesadaran bangsa.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage edugov
Ia menantang pembaca untuk merenungkan kembali apa arti menjadi manusia dalam sistem yang menindas. Apakah karena ras, budaya, atau kelas sosial, kita harus tunduk pada ketidakadilan? ***



