POJOKSATU.id, PENYAKIT kecacingan masih menjadi masalah serius di Indonesia, terutama pada anak-anak.

Salah satu jenis yang paling sering menyerang adalah askariasis, yaitu infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang (Ascaris lumbricoides).

Infeksi ini termasuk ke dalam kelompok soil transmitted helminths (STH) atau cacing yang membutuhkan tanah untuk berkembang biak sebelum menginfeksi manusia.

Artinya, anak-anak yang sering bermain di tanah tanpa mencuci tangan sangat rentan tertular.

Baca Juga: Kisah Tragis Balita di Sukabumi Meninggal dengan 1 Kg Cacing dalam Tubuh : Kasus Raya Ungkap Pentingnya Gizi dan Peran Orang Tua

Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), lebih dari 1 miliar orang di dunia terinfeksi askariasis.

Di Indonesia sendiri, prevalensi kecacingan cukup tinggi, yaitu sekitar 60–90% pada anak usia sekolah.

Bagaimana Anak Bisa Terinfeksi?

Penularan askariasis biasanya terjadi karena anak mengonsumsi makanan atau minuman yang tercemar telur cacing.

Baca Juga: Pemprov Sumut Perkuat SMK untuk Tingkatkan Daya Saing dan Perluas Lapangan Kerja

Sayur atau buah yang tidak dicuci bersih juga bisa menjadi sumber infeksi.

Selain itu, kebiasaan anak tidak mencuci tangan setelah bermain tanah lalu memasukkan jari ke mulut, membuat telur cacing mudah masuk ke tubuh.

Orang Tua Wajib Ketahui Gejala yang Perlu Diwaspadai

Sebagian besar anak dengan askariasis tidak menunjukkan gejala jelas.

Namun, pada kasus yang parah, cacing bisa bermigrasi ke saluran pencernaan, bilier, bahkan pankreas.

Baca Juga: Siapa Kepala Cabang BRI Cempaka Putih? Ditemukan Tewas di Bekasi Usai Diculik dan Dibunuh

Beberapa gejala yang bisa muncul:

-Sakit perut atau kembung
-Nafsu makan menurun
-Berat badan sulit naik
-Batuk atau gangguan pernapasan (saat larva bermigrasi ke paru-paru)
-Keluar cacing dari feses, hidung, atau mulut
-Jika jumlah cacing terlalu banyak, bisa terjadi komplikasi serius seperti sumbatan usus, malnutrisi, hingga gangguan tumbuh kembang anak.

Bagaimana Cara Mengobati?

Tata laksana askariasis umumnya menggunakan obat cacing atau anthelmintik.

Beberapa pilihan obat yang direkomendasikan WHO dan CDC antara lain:

-Albendazole: 400 mg dosis tunggal
-Mebendazole: 500 mg dosis tunggal atau 100 mg dua kali sehari selama 3 hari
-Pirantel pamoat: 11 mg/kgBB dosis tunggal
-Ivermectin (belum banyak digunakan di Indonesia)
-Obat-obatan ini terbukti efektif dengan tingkat kesembuhan >90%.

Baca Juga: Kronologi Mohamad Ilham Pradipta, Kepala Cabang BRI Cempaka Putih Diculik dan Dibunuh, Jasadnya Dibuang di Bekasi

Namun, untuk anak usia di bawah 2 tahun, penggunaannya harus sangat hati-hati dan menimbang manfaat serta risikonya.

Pencegahan Lebih Penting

Kunci utama agar anak terhindar dari askariasis adalah pencegahan. Orang tua perlu membiasakan anak menjaga kebersihan sejak dini.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

-Biasakan anak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah bermain.
-Pastikan makanan dan minuman anak dimasak hingga matang.
-Cuci bersih buah dan sayuran sebelum dikonsumsi.
-Jangan biarkan anak buang air besar sembarangan.
-Berikan obat cacing secara rutin setiap 6 bulan sesuai anjuran dokter atau program pemerintah.

Mengapa Harus Waspada?

Askariasis bukan hanya soal "ada cacing di tubuh anak".

Baca Juga: Kemenag Buka 10 Pelatihan Gratis di Spesial Merdeka Pintar, Siap Tingkatkan Kompetensi Masyarakat

Jika dibiarkan, infeksi ini bisa menyebabkan malnutrisi, kekurangan vitamin, bahkan menghambat tumbuh kembang anak.

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

 

Mengingat prevalensi kecacingan di Indonesia masih tinggi, orang tua wajib lebih waspada.

Kebersihan lingkungan, pola hidup sehat, dan perhatian terhadap gizi anak adalah benteng utama mencegah kasus serupa terulang. ***