POJOKSATU.id - Dalam ajaran Islam, surga digambarkan sebagai tempat penuh keindahan dan kenikmatan, termasuk bagi laki-laki yang dijanjikan untuk ditemani oleh bidadari.

Bidadari ini adalah makhluk sempurna dengan kecantikan yang luar biasa, tubuh bersih dan wangi, serta selalu siap melayani pasangan mereka yang merupakan para penghuni surga.

Namun, pertanyaannya, bagaimana dengan perempuan yang memasuki surga?

Sebagian besar tafsir menyatakan bahwa laki-laki ahli surga akan ditemani oleh 70 bidadari ditambah dua istri dari kalangan manusia, menjadikan jumlah keseluruhan 72 pendamping.

Gambaran bidadari ini sering kali dijadikan motivasi oleh sebagian umat Islam untuk berbuat baik sesuai ajaran agama.

Baca Juga: Sholat Jumat Bagi Perempuan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Sejumlah Pemikiran

Menanggapi hal ini, sejumlah pemikir Islam, seperti Aminah Wadud dan Quraisy Syihab, mencoba memberi pandangan baru tentang bidadari.

Aminah Wadud, melalui pendekatan kontekstual, berpendapat bahwa ayat-ayat Al-Qur'an tentang kenikmatan surga, termasuk gambaran bidadari, disampaikan dalam konteks masyarakat Arab pada masa itu yang memiliki imajinasi kenikmatan sesuai kondisi lokal dan budaya patriarki yang kuat.

Bagi Wadud, teks tersebut bukan representasi hakikat surga yang sesungguhnya, melainkan gambaran yang relevan dengan pemahaman masyarakat kala itu.

Sedangkan Quraisy Syihab menafsirkan kata-kata dalam Al-Qur'an yang sering dikaitkan dengan bidadari, seperti hurin 'in dan azwaj muthahharah, sebagai istilah yang bisa merujuk pada pasangan ideal tanpa membedakan gender.

Ini berarti, baik laki-laki maupun perempuan, bisa mendapatkan pasangan yang sempurna di surga.

Penceramah Ustadz Adi Hidayat turut memberikan pemahaman yang berbeda terkait hal ini.

Dalam ceramahnya di kanal YouTube, ia menjelaskan bahwa perempuan yang berada di surga akan ditemani oleh pangeran-pangeran surga yang memiliki ketampanan luar biasa, bukan oleh bidadara seperti yang sering diasumsikan.

 Baca Juga: Jodoh Memang Ketetapan Allah SWT, Tapi 13 Wanita Ini Haram Dinikahi, Ini Daftarnya

"Kalau laki-laki mendapat pelayanan bidadari di surga, yang perempuan enggak ada bidadara, yang ada pangeran-pangeran surga," jelas Ustadz Adi Hidayat.

Ada juga yang menyebut, di antara kenikmatan surgaw yang dijanjikan Allah SWT adalah adanya pelayan surga, yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai wildan dan ghilman.

Istilah ini muncul dalam dua ayat, yaitu pada QS. Al-Insan: 19 dan QS. Ath-Thuur: 24, menggambarkan sosok pemuda yang bertugas melayani para penghuni surga dengan penuh keindahan dan ketampanan.

Dalam Al-Qur’an, wildan dan ghilman digambarkan sebagai pelayan muda dengan wajah yang bersinar seperti mutiara. Mereka hadir untuk memenuhi segala kebutuhan penghuni surga, tampan dan bercahaya, bagaikan "mutiara yang bertaburan" atau "mutiara yang tersimpan".

Ayat QS. Al-Insan: 19 menyatakan:

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَٰنٌ مُّخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَّنثُورًا

Artinya: "Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan."

QS. Ath-Thuur: 24 menggambarkan pelayan surga sebagai:

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُونٌ

Artinya: "Dan berkeliling di sekitar mereka (penghuni surga) anak-anak muda untuk melayani mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan."

Baca Juga: Hari Jumat Ziarah Kubur, Begini Urutan Doa dan Bacaan Saat Ziarah, Arab dan Latin, Ketahui Hukum Menabur Bunga dan Menyiram Air di Atas Makam

Penjelasan Wildan dan Ghilman

Dalam Tafsir al-Azhar, wildan merujuk pada para pelayan surga yang berasal dari kalangan manusia, meskipun ada juga yang menafsirkan mereka sebagai malaikat yang selalu muda.

Para penghuni surga dilayani dengan hormat oleh mereka, dan mereka tetap dalam keadaan muda tanpa mengalami penuaan atau kematian. Selain bidadari, di surga juga terdapat pelayan muda yang sering diibaratkan sebagai peri.

Sedangkan dalam Tafsir al-Munir, Wahabah az-Zuhaili menyebut wildan sebagai anak-anak muda yang selalu segar, berseri, dan tak berubah.

Mereka melayani penghuni surga dengan membawa berbagai makanan dan minuman. Sementara itu, ghilman adalah pelayan yang sangat elok, bersinar, dan belum pernah tersentuh oleh tangan, bagaikan mutiara yang tersimpan dalam kerang.

Baca Juga: Kerap Dikaitkan dengan Barokah atau Keramat, Begini Kedudukan Hari Jumat Dibandingkan Hari Lain

Riwayat dalam Kitab Daqa’iqul Akhbar

Baca Juga: Sholat Qobliyah dan Badiyah Saat Shalat Jumat, Tidak Wajib Tapi Sangat Dianjurkan, Bonus Pahala Bagi Kaum Muslimin

Dalam Daqa’iqul Akhbar yang diterjemahkan oleh Musa Turoichan al-Qudsiy, dikisahkan bahwa pada hari kiamat, malaikat Ridwan menerima wahyu untuk menyambut orang-orang yang berpuasa dengan makanan dan buah-buahan surga.

Ia memanggil wildan dan ghilman, yakni pelayan surga dari kalangan anak-anak yang belum mencapai akil baligh. Mereka datang dengan membawa hidangan dalam jumlah yang tak terhingga, bagaikan jumlah tetesan hujan atau bintang di langit.

Para pelayan ini hadir dengan makanan lezat dan minuman menyegarkan bagi orang-orang yang berpuasa, dengan malaikat Ridwan berkata, “Makanlah dan minumlah dengan nikmat dari apa yang kalian inginkan pada hari-hari yang telah lalu.”

Dari semua penjelasan tafsir itu, dapat diartikan Allah SWT memberikan kenikmatan yang setara kepada setiap penghuni surga, baik bagi laki-laki maupun perempuan, sesuai dengan keadilan-Nya. ***(dari berbagai sumber)*


#Ikuti aplikasi berita [Pojok Satu] di Play Store dan App Store: [Android] dan [iOS] untuk mendapatkan informasi terbaru.