POJOKSATU.id - Kata healing kini melesat jadi populer dari caption Instagram hingga event self care. Liburan mendadak, spa mewah, atau membuat jurnal kebahagiaan bisa terlihat sebagai simbol pemulihan mental.

Ya, saat ini, banyak orang mengira bahwa merasa sudah lebih baik usai melakukan aktivitas dicap healing itu berarti sudah sembuh.

Momen selesai dari suatu masalah sering dianggap sebagai akhir dari proses.

Namun kenyataannya, banyak yang merasa lega secara situasi masalahnya telah usai tetapi pikiran masih berantakan, emosi belum tenang, dan rutinitas belum kembali normal.

Tapi apakah aktivitas yang kerap disebut healing itu selalu berarti penyembuhan?

Banyak yang hanya kabur untuk sementara dengan menghindar dari perasaan tanpa benar-benar memproses.

Baca Juga: PPG Calon Guru 2025: Pengumuman Kelulusan Seleksi Administrasi Rilis Hari Ini, Cek Akun SIMPKB!

Tren healing culture dan salah kaprah masyarakat

Perubahan sosial dan tekanan hidup membuat banyak orang mengadopsi gaya hidup sehat mental sebagai citra bukan proses.

Self care menjadi hashtag, tetapi validasi emosi negatif sering terlewat.

Termasuk fenomena yang disebut toxic positivity atau kecenderungan memaksa bahagia dan menutup luka hanya demi penampilan.

Dampaknya nyata, justru emosi negatif terpendam bisa berujung stres, kecemasan, atau gangguan tidur.

Baca Juga: Guru PPG Wajib Tahu! 5 Cara Mindfulness Efektif Atasi Stres Menjelang Tes Substantif

Ciri-ciri healing yang sebenarnya cuma pelarian

Mereka yang sedang kabur dari masalah sering menampilkan gejala yang tampak produktif, seperti jalan-jalan, belanja, media sosial nonstop, tapi tidak ada perubahan yang bertahan.

Introspeksi dihindarı, rutinitas lama kembali, dan emosi belum diproses.

Sering muncul rasa bersalah karena masih terbebani masalah yang tampak sudah selesai.

Aktivitas healing yang hanya tampak bagus di luar belum tentu menyentuh akar luka.

Baca Juga: PT Tenma Indonesia Peringati Hari Pahlawan Lewat Pekan Olahraga

Tanda seseorang benar-benar pulih

Pemulihan sejati tampak ketika seseorang mampu melihat luka, menerima emosi secara jujur, dan membangun rutinitas baru yang lebih sehat.

Tidak lagi sekadar berbagi foto spa atau liburan, tetapi mulai menerapkan self compassion, berbicara jujur pada diri sendiri, dan menerima bahwa proses butuh waktu.

Self healing yang efektif terkait dengan pola pikir positif dan dukungan sosial yang kuat.

Cara mulai healing yang sehat dan bermakna

Pertama, mulai dengan validasi emosi dengan mengakui perasaan sedih, kecewa, atau lelah bukan kelemahan.

Baca Juga: Magang Nasional Batch 2, Ini Perubahan Utama dari Batch 1 yang Harus Kamu Tahu! Kuota Naik dan Akses Luas!

Hindari memaksakan kebahagiaan instan tersebab media sosial atau peer pressure.

Kedua, praktik sederhana seperti mindfulness, menulis jurnal, atau berbicara dengan orang dipercaya membantu mengurai pikiran.

Bagi yang merasa stuck, tidak ada salahnya mencari dukungan profesional.

Healing lebih dari sekadar liburan atau ritual instan, itu adalah proses mendalam untuk mengenali diri, memahami emosi, dan membangun rutinitas baru yang lebih sehat.

Kabur mungkin memberi kelegaan sementara, tetapi pulih memberi kebebasan jangka panjang. Dalam akhir yang hangat:

Terkadang bukan masalahnya yang perlu diganti, tetapi keberanian untuk berhenti kabur dan mulai merawat diri. ***