POJOKSATU.id - Meski tidak sepopuler Candi Borobudur atau Candi Prambanan, Candi Jiwa Karawang merupakan sebuah situs bersejarah yang kaya akan warisan budaya.

Terletak sekitar 70 km dari Jakarta, Candi Jiwa Karawang berada di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Pakis Jaya dan Kecamatan Batu Jaya.

Akses menuju kompleks Candi Jiwa Karawang terbilang mudah meskipun posisinya berada di tengah sawah.

Dari jalan utama, perjalanan hanya sekitar 100 meter masuk ke jalan desa yang berujung di tepi sawah, hingga menemukan komplek Candi Jiwa Karawang yang unik dan mengagumkan.

Baca Juga: Bukan Kabah, Umat Ini Mengitari Candi di Karawang, Ini Alasannya!

Kompleks di Candi Jiwa Karawang ini juga dilengkapi dengan beberapa bangunan untuk menyimpan benda-benda purbakala.

Saat cuaca cerah, keindahan candi ini semakin terlihat dengan kontras memperlihatkan susunan batu bata merah, langit biru, dan hijau sawah yang membentang.

Para pengelola Candi Jiwa di Karawang akan dengan senang hati menceritakan sejarah dan cerita menarik tentang percandian ini.

Kisah di percandian Batu Jaya ini konon bermula dari unur unur, yang merupakan tanah berbentuk gundukan bukit yang banyak ditemukan di area persawahan sekitar candi.

Istilah unur-unur di Karawang mengacu pada gundukan tanah yang sebagian besar terletak di tengah sawah.

Masyarakat setempat menyebutnya unur atau onur. Istilah unur juga berarti bukit kecil atau tanah tinggi.

Unur-unur juga disebut atau lemah duhur (tanah tinggi). Istilah unur juga merujuk pada timbunan bata yang berbentuk seperti sarang rayap di tengah ladang padi.

Baca Juga: Tiket Wisata di Karawang Ini Murah Banget dan Rute Mudah, Kunjungi Candi Jiwa Siapkan Topi dan Kacamata Hitam

Sebelum diketahui sebagai situs candi kuno, unur-unur ini sering digunakan sebagai tempat menggembala hewan ternak dan tempat mengungsi saat banjir.

Penemuan situs Cibuaya, sebuah situs megalitikum di dekat Batu Jaya, menjadi awal dari penelitian lebih lanjut di kawasan ini.

Namun begitu, belum diketahui secara pasti mengapa situs Candi Batu Jaya terkubur dalam lapisan tanah yang cukup tebal.

Penelitian arkeologis menemukan lebih dari 30 unur-unur di kawasan ini, tetapi baru sebagian kecil yang telah diteliti secara mendalam.

Beberapa unur telah diberi nama, seperti Unur Jiwa, Blandongan, Serut, Lempeng, Lingga, Asem, Damar, dan Gundul.

Sementara itu, sejumlah unur lainnya masih belum memiliki nama dan tersebar di area seluas 5 kilometer persegi atau 500 hektar di wilayah Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya Kabupaten Karawang.

Kaisin, penjaga kompleks Percandian Batujaya yang berasal dari Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, menjelaskan bahwa beberapa unur diberi nama sesuai dengan identifikasi yang dilakukan oleh warga terhadap lokasi tersebut.

Baca Juga: Bukan Borobudur, Candi Tertua Ini Luput dari Perhatian, Jadi Wisata Sejarah di Karawang yang Bikin Terkagum-kagum

Contohnya, Unur Jiwa dinamai demikian karena seringkali ada kejadian domba atau kambing milik warga mati tanpa sebab jelas saat diikatkan di area tersebut.

“Tahun 1960-an, satu dari dua ekor kambing saya mati di sini, seperti beberapa kali menimpa hewan gembalaan warga lain sebelumnya,” ujarnya.

Ada juga nama unur Blandongan yang menggambarkan tempat tersebut sebagai lokasi berkumpul.

Ketika terjadi banjir karena meluapnya Sungai Citarum, Unur Blandongan dijadikan titik pertemuan oleh warga.

Keberadaannya yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di sekitarnya membuatnya terhindar dari genangan banjir.

Candi Batu Jaya memiliki hubungan dengan Kerajaan Tarumanegara pada masa lampau menurut penelitian Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) tahun 1985.

Dukungan dari sumber-sumber sejarah, seperti prasasti dan naskah, menunjukkan bahwa wilayah Batu Jaya dan Cibuaya dahulu merupakan bagian dari kekuasaan Tarumanagara.

Kompleks candi ini juga menjadi bukti tentang penyebaran agama Hindu-Buddha di kalangan masyarakat Sunda Kuno.

Dibangun pada abad ke-6 atau ke-7 Masehi, Candi Batu Jaya merupakan bagian dari kompleks candi Budha Mahayana yang lebih tua dan lebih luas daripada Candi Borobudur.

Baca Juga: Keajaiban Candi Sukuh: Peninggalan Terakhir Kerajaan Majapahit di Jawa Tengah

Informasi dari warga menyebutkan bahwa di Batujaya, banyak ditemukan bata berukuran besar yang terpendam di tanah atau membentuk tumpukan di tengah sawah.

Lebih dari 20 reruntuhan bangunan terlihat tersebar di kompleks yang berjarak sekitar 500 meter dari Sungai Citarum.

Temuan artefak seperti arca manusia, prasasti, dan fragmen keramik menunjukkan keberadaan agama Budha di kawasan ini.

Bangunan candi ini dibangun dengan teknologi tinggi di masa itu, yaitu menggunakan batu bata yang diperkaya dengan kulit padi untuk menghasilkan batu bata berkualitas.

Beberapa bangunan candi lainnya masih diteliti untuk mengetahui lebih banyak tentang kompleks candi ini.

Selain menjadi situs sejarah yang penting, kompleks candi ini juga menjadi tempat upacara bagi penganut agama Budha pada hari-hari tertentu.***