POJOKSATU.id - Menumpuk barang-barang kecil hingga ruang tinggal terasa sesak mungkin tampak seperti kebiasaan atau hobi.
Namun, ketika dorongan menyimpan menjadi sangat kuat dan sulit dikendalikan, itu bisa menjadi hoarding disorder, sebuah bentuk gangguan kesehatan mental yang serius.
Ini disebut hoarding disorder atau gangguan mental yang memengaruhi perilaku seseorang.
Penderita merasa sangat sulit untuk membuang barang.
Hal ini terjadi meskipun barang tersebut sudah tidak berguna atau tidak memiliki nilai ekonomis.
Baca Juga: Karya Terbaik Modifikator Dipamerkan di Honda Modif Contest
Individu dengan kondisi ini mengalami dorongan emosional yang kuat untuk menyimpan benda-benda yang orang lain mungkin nilai sebagai sampah.
Rumah mereka dapat dipenuhi barang secara berlebihan, sampai mengganggu fungsi ruang dan keselamatan penghuni.
Perilaku ini berbeda dari sekadar mengoleksi benda pada kolektor, benda disimpan dengan rapi dan terorganisir, sementara pada hoarder, akumulasi barang bersifat kacau dan sulit diatur.
Gangguan penimbunan ini tercatat dalam klasifikasi gangguan mental.
Kondisi ini dapat semakin memburuk seiring waktu jika tidak ditangani dengan tepat.
Baca Juga: Bansos 2025 Disalurkan Sebelum Cuti Bersama Akhir Tahun, Pemerintah Kejar Penyaluran 24/7
Gejala Hoarding Disorder: Dari Kebiasaan hingga Masalah Serius
Perilaku menumpuk barang yang berlebihan bisa jadi lebih dari sekadar barang banyak.
Ada sejumlah tanda penting yang menunjukkan kondisi ini sudah melewati fase hobi dan memasuki wilayah kesehatan mental
1. Kesulitan Membuang Barang
Penderita merasa sangat tertekan ketika dihadapkan dengan gagasan membuang benda, bahkan saat benda itu sudah rusak atau tidak berguna.
Keyakinan bahwa setiap barang bisa berguna di masa depan mendorong penyimpanan secara berlebihan.
Baca Juga: Situasi Rumit Kepala Sekolah Plt, Harus Ikut BCKS Tapi Anggarkan Daerah Tidak Siap
2. Dorongan Emosional Menyimpan
Individu dengan hoarding disorder tidak hanya menyimpan barang karena fungsinya, tetapi karena ikatan emosional sangat kuat.
Ketika orang lain menyentuh barangnya, penderita bisa merasa cemas, marah, atau sedih.
3. Tumpukan yang Menghalangi Fungsi Ruang
Barang menumpuk hingga memenuhi ruangan dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Dapur bisa tidak bisa digunakan, kamar tidur menjadi sempit, bahkan ada risiko bahaya kebakaran atau sanitasi buruk.
Baca Juga: TPG TW 4 Sudah Cair untuk Non ASN, Tapi Mengapa ASN Masih Sepi Kabar?
4. Gangguan Aktivitas Sosial dan Kehidupan Pribadi
Hoarder sering menjauh dari keluarga atau teman karena merasa malu atau takut dihakimi.
Beberapa penderita mengalami kesulitan dalam pekerjaan atau tanggung jawab sosial karena tumpukan barang yang mendominasi ruang mereka.
5. Gejala Berkaitan dengan Kondisi Mental Lain
Hoarding disorder sering muncul bersamaan dengan kondisi lain seperti depresi, gangguan kecemasan, OCD, atau ADHD.
Faktor-faktor psikologis seperti trauma masa lalu atau perasaan kehilangan dapat memperkuat perilaku menimbun.
Penyebab dan Faktor Risiko
Kelahiran hoarding disorder tidak bisa dipandang hanya sebagai kecenderungan menumpuk.
Ada faktor biologis, psikologis, dan sosial yang saling berperan.
Ketidakseimbangan fungsi otak, terutama pada bagian pengambilan keputusan dan pengendalian impuls, menjadi salah satu penyebab.
Di sisi psikologis, rasa takut kehilangan dan pengalaman trauma masa lalu ikut memperkuat dorongan menyimpan barang dibanding membuangnya.
Sementara dari sudut sosial, hoarder sering hidup dalam isolasi karena rasa malu, yang kemudian menambah siklus perilaku menumpuk.
Pada masa pandemi, peningkatan perilaku hoarding bisa dipicu oleh kecemasan akan kekurangan barang, terutama di kalangan remaja.
Baca Juga: Pengen Foto Ala Salju? Begini Promptnya di Gemini AI Gratis dan Super Mudah
Dampak Negatif Hoarding Disorder
Dampak perilaku menumpuk barang jauh melampaui kerapian rumah.
Secara fisik, ruang tinggal yang penuh barang dapat meningkatkan risiko jatuh, kebakaran, dan masalah kesehatan akibat lingkungan yang tak higienis.
Dari sisi mental, penderita bisa mengalami isolasi sosial yang mendalam karena sulit menerima bantuan atau kritik.
Hubungan dengan keluarga pun dapat memburuk saat konflik terjadi terkait penataan barang.
Selain itu, hoarding disorder dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
Keteraturan rumah yang kacau bisa menghambat aktivitas sehari‑hari, seperti tidur, memasak, atau sekadar berjalan di rumah.
Baca Juga: 7 Kesalahan Pakai Sunscreen yang Bikin Kulit Tetap Belang!
Kapan Hoarding Disorders Dapat Disebut Masalah Serius?
Mengetahui kapan menyimpan berubah menjadi gangguan tidak selalu mudah.
Batasannya dapat terlihat jelas ketika tumpukan barang sudah membuat ruang tidak bisa digunakan, atau ketika aktivitas harian terganggu.
Diagnosis profesional biasanya dilakukan melalui wawancara psikiatri.
Penilaian ini menggunakan kriteria diagnostic DSM-5.
Kriteria tersebut mencakup kesulitan membuang barang, dorongan menimbun, dan gangguan fungsi ruangan tempat tinggal.
Cara Menghadapi dan Mendukung Penderita
Menangani hoarding disorder memerlukan kesabaran dan dukungan.
Pilihan intervensi utama adalah terapi psikologis.
Terapi ini terutama menggunakan pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT).
CBT membantu penderita mempelajari cara memilah, menyortir, dan mengurangi dorongan menyimpan secara bertahap.
Jika diperlukan, dokter atau psikiater mungkin meresepkan obat seperti antidepresan SSRI guna membantu mengelola emosi dan dorongan kompulsif.
Di lingkungan rumah, dukungan keluarga sangat krusial.
Anggota keluarga dapat membantu dengan menyusun rencana menyortir barang, misalnya membuat kotak dibuang, disimpan, dan sumbangkan.
Melakukan langkah kecil secara konsisten, misalnya membuang beberapa barang setiap hari, dapat membuat proses lebih ringan dan tidak menegangkan bagi penderita.
Kenapa Penting Menyadari Sejak Dini
Jika kebiasaan menimbun hanya dibiarkan, hoarding disorder dapat melemahkan kualitas hidup secara perlahan.
Ruang tinggal yang semakin sempit bisa menimbulkan stres kronis, konflik keluarga, serta masalah kesehatan.
Kesadaran publik tentang hoarding disorder di Indonesia masih terbatas.
Menyadari gejala sejak dini dan mengajak orang terdekat untuk mendapatkan bantuan profesional bisa menjadi langkah awal yang sangat berarti menuju pemulihan.
Hoarding disorder bukan sekadar hobi numpuk barang, tetapi sebuah gangguan mental yang bisa merusak kehidupan fisik, emosional, dan sosial penderitanya.
Menyadari tanda-tandanya adalah langkah awal yang penting.
Dengan pendampingan profesional, terapi, dan dukungan keluarga, ada harapan untuk menyusun kembali hidup dan ruang tinggal agar menjadi lebih sehat dan nyaman.
Untuk siapa pun yang merasakan kecemasan kehilangan barang atau menghadapi tumpukan yang terasa tak terkendali, penting untuk tidak menyepelekan perasaan tersebut.
Mencari bantuan adalah bentuk perhatian pada diri sendiri yang paling realistis dan bijak. ***




