POJOKSATU.ID - Ungkapan, “Cukup saya saja yang susah, anak-anak tidak perlu merasakan itu,” terdengar penuh cinta dan keinginan melindungi, bukan?

Tapi, benarkah cara ini membantu anak-anak kita? Menurut Dr. Elvine Gunawan, SPKJ, meski niatnya baik, pola pikir ini sebenarnya bisa keliru karena menghambat perkembangan anak. Hal ini diungkapkannya dalam sebuah podcast di kanal youtube Helmy Yahya Berbicara pada 04 November 2024 lalu.

Sebagai orang tua, kita ingin dunia jadi tempat yang lebih lembut bagi anak-anak.

Tetapi, melindungi mereka dari segala kesulitan justru membuat mereka kehilangan kesempatan untuk belajar dari tantangan.

Tantangan-tantangan kecil mengajarkan mereka keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi masalah.

Baca Juga: Maknai Hari Pahlawan, Kenali 6 Pahlawan yang Baru Tahun Lalu Mendapat Gelar Pahlawan Nasional, Ada yang dari Lampung Hingga Bali

Tanpa ini, anak-anak tumbuh dengan harapan bahwa hidup selalu mudah dan bahwa mereka tak perlu berusaha sendiri.

“Anak yang selalu dijaga dari kesulitan mungkin tumbuh dengan keraguan terhadap kemampuan diri sendiri,” jelas dr. Elvine. “Ini membuat mereka rentan merasa cemas saat dewasa, karena belum pernah berlatih menghadapi situasi yang menantang.”

Inilah dampak yang harus diketahui oleh orang tua yang memiliki pola pikir seperti ini:

1.Kemandirian yang Lemah
Jika kita selalu turun tangan membantu anak, mereka jadi terbiasa bergantung pada kita.

Padahal, kemandirian anak berkembang dari pengalaman belajar, mencoba, dan bahkan gagal.

Jika mereka selalu "diselamatkan," mereka mungkin tidak belajar bagaimana menyelesaikan masalah sendiri.

Baca Juga: Tawaduk Thinking

2.Rapuh Menghadapi Stres
Kesulitan yang terkendali membantu anak belajar menghadapi stres.

Melindungi mereka dari kegagalan malah membuat mereka lebih mudah merasa panik atau tertekan saat dewasa.

Menurut Dr. Elvine, pengalaman menghadapi kekecewaan secara aman membantu anak-anak membangun ketangguhan.

3.Kepercayaan Diri yang Lemah
Anak-anak yang jarang menghadapi tantangan seringkali meragukan kemampuan mereka sendiri.

Sebaliknya, memberikan kesempatan pada anak untuk menyelesaikan masalah memperkuat rasa percaya diri mereka.

Dengan latihan dan dukungan, mereka merasa mampu menangani situasi yang sulit.

Baca Juga: Mengintip Gaya Hidup Mewah dan Karier Politik Titiek Soeharto, Putri Cendana yang Penuh Kontroversi

Inilah Tips Agar Anak Berani Menghadapi Tantangan:

Mengubah pola pikir “cukup saya saja yang susah” menjadi “saya akan mendampingi anak menghadapi tantangan” adalah langkah yang bisa membantu anak tumbuh mandiri dan tangguh. Berikut beberapa cara sederhana yang bisa diterapkan:

1.Mulailah dari Tantangan Kecil
Berikan anak tugas sesuai usianya, misalnya membereskan mainan sendiri atau mengatur jadwal belajar.

Dengan begitu, mereka belajar menghadapi tanggung jawab dan merasakan kepuasan dari usahanya sendiri.

2.Biarkan Anak Merasakan Kegagalan dengan Dukungan
Ketika anak mengalami kegagalan, dampingi mereka untuk memahami apa yang terjadi dan mencari solusi.

Misalnya, jika mereka gagal dalam ujian, ajak mereka berdiskusi tentang cara belajar yang lebih efektif di masa depan.

3.Apresiasi Usaha, Bukan Hanya Hasil
Penting untuk menghargai setiap usaha anak, bukan hanya keberhasilan mereka. Ini membantu mereka melihat bahwa proses belajar adalah hal yang berarti dan mereka tidak takut gagal mencoba lagi.

Baca Juga: SSB AK Fondesion U-12 Kota Cirebon Bertolak ke Bekasi, Mantan Wali Kota Dukung Penuh

4.Ajarkan Nilai Kesabaran dan Kerja Keras
Ajarkan anak bahwa tidak semua hal bisa diperoleh dengan cepat dan mudah.

Misalnya, jika mereka menginginkan sesuatu, dorong mereka untuk menabung atau membantu di rumah. Ini mengajarkan pentingnya usaha dan kesabaran.

Keinginan untuk melindungi anak dari kesulitan memang alami dan tulus.

Namun, perlu diingat bahwa pengalaman menghadapi tantangan adalah bagian penting dari kehidupan mereka.

Dengan mendampingi mereka saat menghadapi rintangan kecil, kita bukan hanya membentuk anak yang tangguh dan percaya diri, tetapi juga anak yang lebih siap menghadapi dunia dengan hati yang kuat.

Dengan pola asuh yang penuh dukungan, kita membantu anak tumbuh dengan keyakinan bahwa apa pun yang mereka hadapi, mereka bisa mengatasinya.

Sebagai orang tua, kita bisa menjadi tempat aman mereka pulang, bukan orang yang selalu “menyediakan jalan” tanpa tantangan. ***