POJOKSATU.id — Istilah adopsi orangutan mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat.
Berbeda dengan adopsi hewan peliharaan, program adopsi orangutan yang dilakukan lembaga konservasi bukan berarti seseorang dapat membawa satwa tersebut pulang dan memeliharanya di rumah.
Adopsi orangutan merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap upaya konservasi.
Orangutan yang diadopsi secara simbolis tetap berada di bawah perawatan lembaga konservasi dan ditangani oleh tenaga profesional.
Baca Juga: Mengenal Googlebook, Laptop Premium Google yang Berbeda dari Chromebook dan Windows
Salah satu lembaga yang menyediakan program tersebut adalah Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation.
Melalui program adopsi, masyarakat dapat memberikan dukungan terhadap orangutan yang sedang menjalani proses rehabilitasi.
Lantas, bagaimana mekanisme dan cara mengadopsi orangutan?
Calon adopter terlebih dahulu dapat memilih orangutan yang tersedia dalam program adopsi.
Baca Juga: Sekolah Kedinasan 2026 Punya Aturan Khusus untuk Calon Taruna Perempuan, Ini yang Perlu Dicek
Profil tersebut biasanya berisi informasi mengenai nama, kondisi, serta perjalanan rehabilitasi orangutan yang dipilih.
Setelah menentukan orangutan, calon adopter melakukan pembayaran atau donasi sesuai dengan ketentuan program.
Dana tersebut kemudian digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan konservasi.
Mulai dari penyediaan pakan, perawatan kesehatan, fasilitas rehabilitasi hingga kegiatan penyelamatan orangutan.
Program adopsi juga dapat memberikan paket atau fasilitas tertentu kepada adopter.
Di antaranya berupa sertifikat adopsi, informasi mengenai orangutan yang dipilih, foto, serta pembaruan mengenai perkembangannya selama mengikuti program.
Baca Juga: Silent Hill: Townfall Eksklusif PS5 Selama 6 Bulan, Versi PC Langsung Tersedia
Meski menggunakan istilah adopsi, masyarakat perlu memahami bahwa program tersebut tidak memberikan hak kepemilikan atas orangutan.
Adopter tidak diperbolehkan membawa satwa tersebut ke rumah ataupun mengambil alih perawatannya.
Orangutan tetap menjalani proses rehabilitasi bersama lembaga konservasi.
Dalam proses tersebut, orangutan yang masih memiliki peluang untuk kembali ke alam akan mendapatkan pelatihan agar mampu bertahan hidup secara mandiri.
Baca Juga: Rekening Rp80,9 Juta Diblokir Jelang Demo, Bank Mandiri Ungkap Alasan hingga Disorot Jefri Nichol
Proses rehabilitasi dapat meliputi kemampuan mencari makanan alami, memanjat pohon, membuat sarang, berinteraksi dengan orangutan lain hingga mengenali kondisi lingkungan yang diperlukan untuk hidup di alam.
Setelah dinilai memenuhi persyaratan, orangutan dapat dipersiapkan untuk menjalani proses pelepasliaran ke habitat yang sesuai.
Namun, tidak semua orangutan dapat dikembalikan ke alam.
Satwa yang memiliki kondisi tertentu atau tidak mampu bertahan hidup secara mandiri dapat tetap menjalani perawatan di fasilitas konservasi.
Baca Juga: Anak SD di Bandung Digigit Pitbull, Kepala dan Telinga Terluka hingga Jalani Operasi
Dengan demikian, adopsi orangutan lebih tepat dipahami sebagai bentuk kepedulian dan kontribusi masyarakat terhadap pelestarian satwa liar.
Masyarakat dapat membantu kebutuhan rehabilitasi orangutan tanpa harus memiliki atau memeliharanya secara langsung.
Program seperti ini juga menjadi salah satu cara bagi masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan populasi orangutan yang menghadapi berbagai ancaman di habitat alaminya.
Bagi masyarakat yang tertarik, informasi mengenai program adopsi sebaiknya diperoleh melalui lembaga konservasi resmi.
Dengan demikian, dukungan yang diberikan dapat disalurkan untuk kegiatan penyelamatan, rehabilitasi, dan pelestarian orangutan secara tepat.***




