POJOKSATU.id - Setiap kali Muharram tiba, berbagai amalan mulai beredar di media sosial, grup WhatsApp, hingga ceramah keagamaan.
Mulai dari doa khusus awal tahun, amalan malam satu Muharram, hingga berbagai ritual yang diyakini membawa keberkahan sepanjang tahun.
Padahal, tidak semua amalan yang populer di masyarakat memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur'an maupun hadis shahih.
Dalam Islam, sebuah ibadah tidak cukup hanya didasari niat baik, tetapi juga harus memiliki landasan yang benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Baca Juga: Daftar Lengkap SMP Gratis di Bekasi 2026, Cek Nama Sekolah dan Alamatnya Sebelum Daftar
Karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami mana amalan yang benar-benar dianjurkan dan mana yang tidak memiliki dalil yang kuat agar ibadah yang dilakukan tidak sia-sia.
Pentingnya Dalil dalam Setiap Amalan
Sebelum membahas amalan-amalan yang sering dikaitkan dengan Muharram, umat Islam perlu memahami prinsip dasar ibadah dalam syariat.
Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa hukum asal ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang memerintahkan atau membolehkannya.
Berbeda dengan urusan muamalah yang pada dasarnya boleh dilakukan selama tidak ada larangan.
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang membuat hal baru dalam urusan kami (agama) ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak." (HR Bukhari dan Muslim).
Baca Juga: Tengah Sorotan Publik, Aliansi BEM Bersatu Dukung MBG, Anggap Kebutuhan Mendasar Masyarakat
Hadis ini menjadi landasan penting dalam menilai berbagai praktik ibadah yang muncul di tengah masyarakat.
Bahaya Mengamalkan Ibadah Tanpa Dalil
Mengamalkan sesuatu tanpa dasar syariat bukan sekadar persoalan perbedaan pendapat. Islam mengajarkan bahwa amal yang diterima harus memenuhi dua syarat utama, yakni ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Seseorang mungkin memiliki niat yang baik, tetapi apabila cara beribadahnya tidak sesuai dengan tuntunan syariat, maka amalan tersebut tidak bernilai di sisi Allah.
Lebih jauh lagi, penyebaran amalan yang tidak berdalil dapat menyebabkan masyarakat sulit membedakan antara sunnah dan bid'ah sehingga praktik-praktik yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW terus berkembang dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Prediksi Skor Austria vs Yordania: Das Team Lebih Diunggulkan pada Laga Perdana Grup J
Amalan Muharram yang Sering Dianggap Sunnah Padahal Tidak Ada Dalil Shahih
Ada sejumlah amalan yang populer dilakukan ketika memasuki tahun baru Hijriah, namun para ulama hadis menilai tidak memiliki dasar yang kuat.
Pertama, doa khusus akhir tahun dan awal tahun Hijriah yang banyak beredar di media sosial.
Doa dengan susunan tertentu yang diklaim harus dibaca menjelang pergantian tahun maupun setelah masuk 1 Muharram tidak ditemukan dalam hadis shahih.
Kedua, mengkhususkan malam satu Muharram dengan ritual ibadah tertentu.
Tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan Rasulullah SAW atau para sahabat menjadikan malam pergantian tahun Hijriah sebagai malam istimewa untuk ibadah khusus.
Baca Juga: Prediksi Skor Argentina vs Aljazair: Albiceleste Diunggulkan Menang Berapa Gol?
Ketiga, membuat makanan atau hidangan khusus Asyura dengan keyakinan sebagai amalan sunnah.
Tradisi seperti bubur Asyura lebih merupakan budaya masyarakat di beberapa daerah dan bukan ajaran yang berasal dari Rasulullah SAW.
Keempat, mengadakan peringatan Muharram dengan ritual atau upacara tertentu yang diyakini memiliki keutamaan khusus dalam agama.
Praktik seperti ini tidak memiliki landasan yang jelas dalam sunnah.
Kelima, mengkhususkan sedekah pada hari Asyura dengan keyakinan pahala yang berlipat secara khusus dibanding hari lainnya.
Sedekah memang amalan mulia setiap waktu, tetapi tidak ada hadis shahih yang menetapkan keutamaan khusus sedekah pada hari Asyura.
Baca Juga: Prediksi Skor Irak vs Norwegia: Ujian Berat Singa Mesopotamia Hadapi Tim Haaland
Penjelasan Para Ulama
Sejumlah ulama hadis telah menjelaskan persoalan ini dalam karya-karya mereka.
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaaif Al-Ma'arif menjelaskan bahwa tidak terdapat amalan khusus yang ditetapkan Rasulullah SAW untuk malam pertama Muharram maupun perayaan pergantian tahun Hijriah.
Sementara itu, Ibnu Hajar Al-Asqalani juga menjelaskan bahwa banyak hadis mengenai keutamaan amalan tertentu di awal Muharram yang berstatus lemah bahkan palsu sehingga tidak bisa dijadikan dasar ibadah.
Amalan Muharram yang Berdalil Shahih
Meski demikian, Muharram tetap menjadi bulan yang sangat istimewa dalam Islam. Ada sejumlah amalan yang memiliki dasar hadis shahih dan dianjurkan untuk dikerjakan.
Baca Juga: Aliansi BEM Bersatu Ungkap Fortuner Tiyo Ardianto Terdaftar atas Nama Siti Nuraeni, Ini Sosoknya
- Pertama, puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa ini menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu.
- Kedua, puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram. Rasulullah SAW menganjurkan puasa ini untuk membedakan amalan umat Islam dengan tradisi kaum Yahudi yang juga berpuasa pada hari Asyura.
- Ketiga, memperbanyak puasa sunnah selama bulan Muharram. Rasulullah SAW bersabda, "Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram." (HR Muslim).
- Keempat, memperbanyak doa kepada Allah SWT. Tidak ada doa khusus yang ditentukan untuk Muharram, tetapi berdoa dengan kalimat-kalimat yang baik dan sesuai syariat sangat dianjurkan.
- Kelima, melakukan muhasabah dan memperbaiki niat dalam menjalani kehidupan. Meskipun bukan ibadah khusus Muharram, introspeksi diri merupakan sikap yang dianjurkan dalam Islam kapan saja.
Baca Juga: FORMASI Desak BK DPRD Kabupaten Cirebon Periksa Anggota Dewan yang Terlibat Pengelolaan SPPG MBG
Dengan menjalankan amalan-amalan yang memiliki landasan kuat, seorang Muslim dapat meraih keutamaan Muharram tanpa khawatir terjatuh pada praktik yang tidak sesuai sunnah.
Mencintai bulan Muharram adalah sesuatu yang baik. Namun kecintaan tersebut hendaknya diwujudkan dengan ilmu dan tuntunan yang benar.
Sebab ibadah yang paling dicintai Allah bukanlah yang paling ramai dilakukan manusia, melainkan yang paling sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW. ***




