POJOKSATU.id - Dalam ajaran Islam, ibadah tidak hanya berkaitan dengan fisik seperti salat dan puasa. 

Ada pula ibadah maliyah yang berhubungan dengan harta, seperti zakat, haji, dan sedekah. 

Keduanya saling melengkapi dalam kehidupan seorang Muslim. 

Bahkan, ibadah badaniyah pun tetap membutuhkan aspek materi, mulai dari pakaian penutup aurat hingga makanan sebagai sumber tenaga.

Keseimbangan antara ibadah dan harta ini telah disinggung para ulama. 

Imam Abdul Rauf Al-Munawi menukil ungkapan ulama salaf:

 المال سلاح المؤمن

Artinya, "Harta benda adalah senjata orang mukmin.”

Ungkapan tersebut menegaskan bahwa harta, jika dikelola dengan niat baik, justru menjadi alat menjaga kehormatan dan kemandirian agama.

Namun, memperoleh rezeki bukan perkara mudah. 

Karena itu, Islam mengajarkan amalan batin yang bisa mendukung ikhtiar lahir. 

Salah satu zikir yang dikenal luas adalah bacaan hauqalah:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi.

Artinya, “Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Abi Ad-Dunya disebutkan, siapa yang membaca kalimat tersebut seratus kali setiap hari, tidak akan tertimpa kemiskinan. 

Riwayat lain dari Imam At-Thabrani menyebutkan bahwa kalimat ini adalah salah satu harta karun surga dan di dalamnya terdapat obat bagi 99 penyakit, yang paling ringan adalah kesedihan.

Kisah menarik juga disampaikan Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsir Marah Labid. 

Diceritakan bahwa putra sahabat Auf bin Malik Al-Asyja’i ditawan musuh. 

Nabi Muhammad SAW menasihatinya agar bertakwa, bersabar, dan memperbanyak hauqalah. 

Tak lama kemudian, sang anak kembali dengan membawa 100 ekor unta karena musuh lengah. 

Kisah ini kerap dijadikan contoh keberkahan zikir yang disertai ketakwaan.

Para ulama menjelaskan, hauqalah memiliki banyak faedah: menguatkan jiwa, mengusir godaan setan, memudahkan urusan, hingga membuka pintu rezeki. Namun, zikir bukan berarti meninggalkan usaha.

Sahabat Umar bin Khattab pernah mengingatkan agar tidak hanya berdoa tanpa bekerja. 

Ia menegaskan bahwa langit tidak menurunkan emas dan perak begitu saja. 

Pesan ini selaras dengan firman Allah dalam QS Al-‘Ankabut ayat 17, yang memerintahkan manusia mencari rezeki dari Allah dan beribadah kepada-Nya.

Imam Al-Qusyairi dalam tafsir Lathaif Al-Isyarat menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut, perintah mencari rezeki didahulukan sebelum perintah beribadah. 

Alasannya, seseorang memerlukan kekuatan untuk beribadah, dan kekuatan itu hadir melalui kecukupan rezeki.

Karena itu, amalan pembuka rezeki bukan sekadar memperbanyak zikir, melainkan menyeimbangkan ikhtiar batin dan lahir. 

Bertakwa, bersabar, memperbanyak hauqalah, lalu diiringi kerja keras dan tanggung jawab.

Rezeki bukan hanya soal jumlah, tetapi juga keberkahan. 

Dan keberkahan hadir ketika hati bergantung pada Allah, sementara tangan tetap giat bekerja. 

Di situlah harmoni hidup seorang Muslim terjaga antara doa yang lirih dan langkah yang terus berikhtiar.***