POJOKSATU.id - Investasi saham memang tidak pernah lepas dari naik-turun harga.

Hari ini portofolio bisa menghijau, besok malah bikin deg-degan.

Nah, kondisi seperti inilah yang membuat strategi jangka panjang menjadi penting.

Membangun kekayaan dari pasar saham bukan perkara menemukan satu saham yang bakal meroket atau menebak kapan harga berada di titik terendah.

Hal yang jauh lebih penting adalah memiliki cara berinvestasi yang masuk akal dan mampu dijalankan secara konsisten.

Investor juga perlu memahami bahwa saham yang sedang untung belum tentu harus buru-buru dijual.

Sebaliknya, mempertahankan saham yang terus merugi hanya karena berharap harga kembali naik bisa menjadi keputusan yang mahal.

Lantas, apa saja prinsip yang bisa digunakan untuk membangun investasi saham dalam jangka panjang?

1. Tentukan tujuan dan gunakan perspektif jangka panjang

Investor sebaiknya tidak memperlakukan pasar saham seperti arena untuk keluar-masuk posisi setiap saat.

Jika sebuah perusahaan memiliki fundamental yang baik dan prospeknya masih menarik, perubahan harga dalam hitungan hari atau minggu tidak seharusnya langsung mengubah keputusan investasi.

Pendekatan beli dan tahan juga bisa membantu investor mengurangi godaan untuk bereaksi berlebihan terhadap gejolak pasar.

Salah satu cara yang dapat digunakan adalah investasi secara berkala dengan jumlah yang relatif konsisten.

Strategi ini membuat investor tidak harus sibuk menebak kapan waktu terbaik untuk membeli.

2. Jangan asal percaya rekomendasi saham

Dapat bocoran saham dari teman atau melihat rekomendasi yang viral di media sosial memang menggoda.

Namun, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya dibangun dari informasi semacam itu.

Sebelum membeli saham, investor perlu mengetahui bisnis perusahaan, sumber pendapatannya, kondisi keuangannya, hingga peluang pertumbuhannya.

Jadi, jangan cuma karena ada yang bilang bakal naik, langsung ikut membeli. Riset tetap nomor satu, ya.

3. Jangan panik menghadapi pergerakan harian

Harga saham bergerak karena banyak faktor.

Ada sentimen ekonomi, berita perusahaan, kondisi global, hingga perilaku investor.

Karena itu, perubahan harga dalam jangka pendek tidak selalu menggambarkan perubahan nilai sebuah bisnis.

Investor jangka panjang justru perlu melihat gambaran yang lebih besar.

Apakah perusahaan masih tumbuh? Apakah bisnisnya sehat? Apakah alasan membeli saham tersebut masih relevan?

Kalau jawabannya masih positif, fluktuasi sesaat tidak perlu membuat keputusan berubah secara impulsif.

4. Jangan menilai saham hanya dari rasio P/E

Rasio price-to-earnings atau P/E memang sering digunakan untuk melihat valuasi saham.

Namun, angka tersebut bukan satu-satunya ukuran untuk menentukan apakah sebuah saham menarik atau tidak.

P/E yang rendah belum tentu berarti saham sedang murah.

Bisa saja pasar sedang memberi penilaian rendah karena prospek bisnis perusahaan memang kurang menjanjikan.

Begitu pula sebaliknya. P/E tinggi tidak otomatis berarti saham terlalu mahal apabila perusahaan mempunyai peluang pertumbuhan yang kuat.

Karena itu, valuasi sebaiknya dilihat bersama pertumbuhan pendapatan, posisi perusahaan di industrinya, kualitas bisnis, serta prospek masa depan.

5. Jangan tergoda saham yang sekadar terlihat murah

Harga per lembar saham yang rendah sering membuat sebuah perusahaan terlihat seperti peluang besar.

Padahal, harga saham yang murah tidak otomatis berarti valuasinya menarik.

Ada kemungkinan harga tersebut mencerminkan persoalan fundamental atau tingginya risiko bisnis.

Saham berharga sangat rendah juga bisa memiliki volatilitas yang lebih ekstrem dan likuiditas yang terbatas.

Jadi, jangan sampai murah di harga malah mahal di risiko.

6. Pilih gaya investasi yang sesuai dan konsisten

Tidak ada satu pendekatan yang wajib digunakan semua orang.

Sebagian investor mungkin nyaman mencari perusahaan dengan valuasi rendah.

Yang lain lebih memilih saham dengan pertumbuhan tinggi atau perusahaan yang rutin membagikan dividen.

Apa pun pendekatannya, konsistensi menjadi bagian penting.

Memiliki strategi yang jelas membuat investor tidak mudah ikut-ikutan setiap kali muncul tren baru di pasar.

Ketika harga bergerak berlawanan dengan harapan, investor juga memiliki dasar untuk mengevaluasi keputusan secara lebih tenang.

7. Perhatikan masa depan perusahaan

Kinerja masa lalu memang berguna sebagai bahan analisis, tetapi bukan jaminan bahwa sebuah saham akan terus menghasilkan keuntungan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana prospek perusahaan beberapa tahun ke depan.

Apakah produknya masih dibutuhkan? Apakah pasarnya berkembang? Apakah perusahaan mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan persaingan?

Investor perlu melihat potensi tersebut sebelum menentukan apakah sebuah saham masih layak dipertahankan.

8. Jangan buru-buru menjual saham yang terus berkembang

Salah satu kesalahan psikologis yang sering muncul adalah menjual saham yang sudah memberikan keuntungan, tetapi justru mempertahankan saham yang terus merugi.

Padahal, keputusan jual seharusnya tidak semata-mata didasarkan pada persentase keuntungan atau kerugian.

Saham yang sudah naik cukup tinggi masih bisa memiliki prospek bagus apabila fundamental dan pertumbuhannya tetap kuat.

Sebaliknya, saham yang turun tidak otomatis akan kembali ke harga pembelian.

Kalau alasan fundamental untuk memilikinya sudah berubah, investor perlu berani melakukan evaluasi.

Dengan kata lain, jangan membiarkan harapan menentukan keputusan investasi.

9. Perluas pandangan saat mencari peluang

Nama perusahaan besar memang lebih mudah dikenal.

Namun, peluang investasi tidak hanya datang dari perusahaan yang sudah populer.

Perusahaan yang saat ini masih kecil atau belum banyak diperhatikan bisa saja berkembang menjadi pemain besar di masa mendatang.

Bukan berarti investor harus mengejar semua saham berkapitalisasi kecil.

Hal yang lebih penting adalah membuka ruang untuk melakukan riset terhadap perusahaan di berbagai sektor dan ukuran.

Peluang kadang muncul sebelum sebuah perusahaan menjadi pusat perhatian pasar.

10. Pertimbangkan pajak, tetapi jangan sampai kehilangan fokus

Efisiensi pajak tetap menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam investasi.

Namun, mengejar keuntungan pajak seharusnya tidak membuat investor mengabaikan kualitas investasi itu sendiri.

Keputusan utama tetap perlu didasarkan pada tujuan keuangan, kualitas aset, risiko, valuasi, serta jangka waktu investasi.

Dengan begitu, pertimbangan pajak menjadi bagian dari strategi, bukan satu-satunya alasan untuk membeli atau menjual saham.

Investasi jangka panjang bukan berarti bebas risiko

Istilah investasi jangka panjang umumnya merujuk pada kepemilikan aset selama beberapa tahun atau lebih.

Dalam periode tersebut, investor tetap akan menghadapi berbagai kondisi pasar, mulai dari reli panjang hingga koreksi tajam.

Karena itu, diversifikasi juga penting. Menempatkan seluruh dana pada satu saham atau satu sektor dapat membuat portofolio jauh lebih rentan ketika terjadi masalah pada aset tersebut.

Tidak ada investasi yang benar-benar bebas risiko.

Instrumen dengan risiko lebih rendah biasanya juga memiliki potensi imbal hasil yang berbeda dibandingkan aset yang lebih agresif.

Investor perlu menyesuaikan pilihan dengan tujuan keuangan, toleransi risiko, dan kebutuhan dana.***