POJOKSATU.id - Mengawetkan makanan mungkin sudah biasa. Tapi bagaimana kalau makanan bisa bertahan hingga lebih dari setahun?
Teknologi iradiasi pangan yang dikembangkan dan diteliti BRIN menawarkan peluang tersebut sekaligus menjadi salah satu cara mengurangi food loss.
Teknologi ini memanfaatkan radiasi pengion untuk menekan mikroorganisme yang dapat mempercepat kerusakan pangan.
Dengan begitu, masa simpan produk bisa diperpanjang tanpa harus mengubah kualitas dasar makanan secara signifikan.
Baca Juga: Ujian Nyata, Rumah Modular BRIN Tetap Berdiri Usai Gempa M7,7 di NTT
Sejumlah pangan olahan siap saji seperti rendang, pepes ikan, semur, dan empal daging bahkan dapat memiliki umur simpan hingga sekitar 12-18 bulan melalui proses yang tepat.
Radiasi Tidak Membuat Makanan Jadi Radioaktif
Mendengar kata radiasi mungkin bikin sebagian orang langsung waswas.
Dalam teknologi iradiasi pangan, radiasi digunakan sebagai energi untuk mengendalikan mikroba, bukan untuk membuat makanan menjadi sumber radiasi.
Jenis radiasi pengion yang digunakan dapat berupa sinar gamma, elektron berenergi tinggi, maupun sinar-X.
Baca Juga: Plt Kapusdatin BNPB Akui Video Viral, Wawancara Gempa NTT di Rumah Makan Dekat Bandara Labuan Bajo
Radiasi tersebut tidak menempel atau tertinggal di dalam makanan setelah proses selesai.
Gampangnya, mekanismenya dapat dianalogikan seperti cahaya lampu yang menerangi sebuah buku.
Buku yang terkena cahaya tentu tidak berubah menjadi benda bercahaya setelah lampu dimatikan.
Energi cahaya hanya digunakan selama proses penerangan.
Prinsip serupa diterapkan pada iradiasi pangan.
Radiasi diberikan dengan dosis yang sudah ditentukan untuk tujuan tertentu dan tidak membuat pangan menjadi radioaktif.
Penggunaannya pun berada dalam kerangka regulasi keamanan pangan.
Di Indonesia, penerapan teknologi ini memiliki dasar antara lain melalui UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2018, serta standar ISO 14470:2014.
Food Loss Mencapai Puluhan Juta Ton
Teknologi tersebut menjadi penting karena persoalan pangan bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga bagaimana makanan tetap berkualitas sampai dikonsumsi.
BRIN menyebut mutu dan daya tahan pangan yang rendah berkontribusi terhadap food loss sekitar 23-48 juta ton setiap tahun.
Jika dihitung per orang, jumlah tersebut setara sekitar 115-184 kilogram per kapita per tahun.
Dampaknya juga terasa dari sisi ekonomi. Berdasarkan data Bappenas 2021 yang dicantumkan dalam materi BRIN, kerugian ekonomi akibat persoalan tersebut diperkirakan mencapai Rp213-551 triliun per tahun.
Food loss sendiri merujuk pada kondisi ketika makanan mengalami penurunan kualitas atau rusak sebelum sampai dikonsumsi.
Masalah itu dapat muncul sejak tahap produksi hingga proses penanganan pangan.
Karena itu, memperpanjang umur simpan dapat menjadi salah satu strategi untuk menekan potensi makanan terbuang.
Sudah Digunakan Dalam Kondisi Darurat
Teknologi iradiasi pangan juga telah mendapat pengakuan dari berbagai lembaga internasional, termasuk Codex Alimentarius dan International Atomic Energy Agency (IAEA).
Pemanfaatannya juga pernah dilakukan dalam konteks pangan darurat, salah satunya saat bencana longsor 2014 di Desa Cikadu, Indonesia.
Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi iradiasi tidak hanya berkaitan dengan penelitian di laboratorium.
Jika diterapkan sesuai standar, teknologi ini dapat mendukung kebutuhan pangan dalam kondisi tertentu ketika daya tahan produk menjadi faktor penting.
BRIN Siapkan Strategi Pengembangan
BRIN mendorong pemanfaatan teknologi iradiasi sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional.
Salah satunya melalui Program RADIANA atau Radiasi Aman Pangan Nasional.
Selain itu, disiapkan pula Pusat Kolaborasi Riset Industri Iradiasi Pangan Nasional.
Penguatan diplomasi perdagangan dan branding produk tropis juga menjadi bagian dari strategi tersebut.
Edukasi masyarakat dan peningkatan literasi mengenai teknologi iradiasi ikut diperlukan agar publik memahami manfaat sekaligus aspek keamanannya.
Penelitian mengenai teknologi tersebut dilakukan Kelompok Riset Radiasi Dekontaminasi, Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi.
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, turut mendorong sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat agar teknologi tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas.
Dengan memperpanjang masa simpan pangan, peluang makanan terbuang dapat ditekan.
Teknologi ini bukan semata soal membuat rendang atau pepes ikan tahan lebih lama, tetapi juga tentang bagaimana Indonesia bisa mengelola sumber pangan dengan lebih efisien.
Di tengah tantangan ketahanan pangan, makanan yang bisa bertahan lebih lama tentu punya arti besar.
Teknologi iradiasi menunjukkan bahwa sesuatu yang selama ini terdengar menakutkan, yaitu radiasi, justru dapat dimanfaatkan secara terukur untuk membantu menjaga pangan.
Hal yang dibutuhkan kini bukan sekadar teknologi yang canggih, tetapi juga pemahaman masyarakat agar inovasi tersebut benar-benar bisa membawa manfaat bagi kehidupan sehari-hari.***


