JAKARTA, POJOKSATU.id, Perkembangan teknologi satelit orbit bumi rendah atau Low Earth Orbit (LEO) tidak lagi sebatas menghadirkan akses internet di wilayah yang sulit dijangkau jaringan komunikasi konvensional. Teknologi ini mulai berkembang menjadi bagian dari infrastruktur komunikasi untuk kebutuhan yang lebih strategis.
Salah satu pengembangan yang menjadi perhatian adalah Starshield, program SpaceX yang memanfaatkan teknologi dan infrastruktur LEO dari ekosistem Starlink.
Meski demikian, Starshield masih kerap disebut sebagai "Starlink versi militer". Istilah tersebut dinilai terlalu menyederhanakan fungsi dan tujuan pengembangannya.
Project Manager Starlink di Indonesia, Egi Yogaswara, menjelaskan, Starshield dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pemerintah, pertahanan, keamanan nasional, serta berbagai misi yang membutuhkan tingkat keamanan dan ketahanan komunikasi lebih tinggi.
"Banyak yang masih menganggap Starshield hanya sebagai Starlink versi militer. Padahal, konsepnya lebih luas. Kalau Starlink komersial berfokus pada konektivitas internet untuk masyarakat dan bisnis, Starshield dikembangkan untuk kebutuhan yang lebih mission-critical, secure, dan resilient," kata Egi, Selasa (6/10/2026).
Menurut Egi, perbedaan Starlink dan Starshield tidak semata-mata ditentukan oleh kecepatan internet. Perbedaan utamanya terletak pada peruntukan, kebutuhan keamanan, ketahanan konektivitas, serta kemampuan integrasi dengan kebutuhan misi tertentu.
Lima Kemampuan Utama
Pertama, komunikasi yang lebih aman atau secure communications.
Starshield dirancang untuk mendukung komunikasi yang membutuhkan tingkat keamanan dan perlindungan data lebih tinggi. Komunikasi terenkripsi menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung kebutuhan strategis.
Kedua, konektivitas yang tangguh atau resilient connectivity.
Jaringan satelit LEO dapat menjadi jalur komunikasi alternatif ketika jaringan komunikasi di darat mengalami gangguan atau tidak tersedia.
Kemampuan ini dinilai relevan untuk wilayah terpencil, kondisi darurat, maupun lokasi yang memiliki keterbatasan infrastruktur komunikasi.
Ketiga, komunikasi untuk kebutuhan misi kritis atau mission-critical communications.
Starshield dapat mendukung kebutuhan komunikasi yang bersifat penting dalam suatu operasi, termasuk koordinasi, komunikasi lapangan, serta kebutuhan command and control, sesuai dengan konfigurasi dan kebutuhan misi.
"Untuk kebutuhan mission-critical, yang diperhatikan bukan hanya seberapa cepat koneksinya. Yang lebih penting adalah bagaimana konektivitas tersebut dapat mendukung komunikasi yang andal dan terintegrasi dengan kebutuhan operasional," ujar Egi.
Keempat, kemampuan modular dan hosted payload.
Starshield tidak hanya berfokus pada konektivitas internet. Platform ini juga dikembangkan untuk mendukung integrasi payload atau perangkat muatan tertentu sesuai dengan kebutuhan misi.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi berbasis satelit dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan khusus.
Kelima, integrasi sebagai infrastruktur berbasis ruang angkasa.
Starshield dapat dipahami sebagai bagian dari infrastruktur komunikasi berbasis ruang angkasa yang menggabungkan konektivitas, keamanan, ketahanan jaringan, dan kemampuan integrasi untuk kebutuhan strategis.
Bukan Sekadar "Starlink untuk Militer"
Egi menilai, penyebutan Starshield sebagai "Starlink untuk militer" kurang menggambarkan keseluruhan konsep yang dikembangkan.
Starlink komersial pada dasarnya merupakan layanan konektivitas yang ditujukan untuk masyarakat, bisnis, dan berbagai kebutuhan pengguna komersial.
Sementara itu, Starshield dikembangkan dengan orientasi pada kebutuhan pemerintah, pertahanan, keamanan nasional, dan misi strategis.
Karena itu, perangkat Starlink komersial juga tidak otomatis menjadi perangkat Starshield hanya karena digunakan oleh institusi pemerintah atau militer.
"Yang membedakan bukan hanya bentuk perangkatnya. Kita harus melihat keseluruhan ekosistemnya, mulai dari layanan, keamanan, arsitektur jaringan, integrasi, hingga kebutuhan misi yang ingin didukung," kata Egi.
Potensi bagi Indonesia
Perkembangan teknologi LEO memiliki relevansi tersendiri bagi Indonesia yang memiliki wilayah geografis luas, ribuan pulau, serta kawasan laut yang sangat besar.
Teknologi komunikasi berbasis satelit dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat konektivitas di wilayah terpencil dan kawasan yang sulit dijangkau infrastruktur komunikasi terrestrial.
Selain akses komunikasi, pemanfaatannya dapat dikembangkan untuk mendukung operasi maritim, komunikasi darurat, penanganan bencana, wilayah perbatasan, serta kebutuhan strategis pemerintah.
Namun, penerapan teknologi tersebut tetap perlu memperhatikan aspek regulasi, keamanan, integrasi sistem, pengelolaan data, dan kebutuhan nasional.
Menurut Egi, Indonesia perlu melihat perkembangan teknologi LEO secara lebih luas dan tidak hanya sebagai solusi internet.
"LEO bukan lagi hanya soal menyediakan internet. Teknologi ini mulai menjadi bagian dari perkembangan infrastruktur komunikasi berbasis ruang angkasa," ujarnya.
Pada akhirnya, Starlink dan Starshield memiliki akar teknologi yang sama dalam ekosistem LEO, tetapi dikembangkan dengan fokus yang berbeda.
Starlink merupakan layanan konektivitas komersial, sedangkan Starshield merupakan pengembangan teknologi dan layanan berbasis ruang angkasa untuk mendukung kebutuhan pemerintah, pertahanan, keamanan nasional, serta misi strategis tertentu.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan teknologi satelit ke depan tidak hanya berbicara mengenai kecepatan internet, tetapi juga mengenai keamanan, ketahanan jaringan, kemampuan integrasi, dan bagaimana teknologi ruang angkasa dapat menjadi bagian dari infrastruktur komunikasi di bumi.

