POJOKSATU.id — Kemandirian teknologi nasional semakin tumbuh ketika pemerintah meluncurkan Laptop Merah Putih sejak 2021 lalu.
Proyek ini menjadi tonggak penting dalam upaya bangsa meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada perangkat teknologi informasi, khususnya untuk mendukung dunia pendidikan tinggi.
Sayangnya, sejak awal kemunculannya, banyak yang salah kaprah mengira Laptop Merah Putih sama dengan laptop pelajar atau Chromebook yang kemarin ramai jadi kasus.
Padahal keduanya berbeda jauh, baik dari segi tujuan, konsorsium, hingga target penggunanya.
Mari kita bedah lebih rinci sejarah, fakta, dan perkembangan Laptop Merah Putih agar tidak lagi bingung.
Kolaborasi Kampus dan Industri
Laptop Merah Putih dikembangkan melalui konsorsium lima perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH): ITB, UI, UGM, ITS, dan Telkom University.
Mereka bekerja sama dengan industri lokal seperti Axioo dan Zyrex, serta menggandeng mitra internasional seperti Intel dalam pengembangan motherboard.
Kolaborasi ini bukan sekadar perakitan, melainkan riset serius mulai dari desain, perangkat lunak, hingga uji kinerja agar laptop benar-benar lahir sebagai karya anak bangsa.
Target Mahasiswa, Bukan Pelajar
Beda dengan proyek pengadaan Chromebook untuk sekolah dasar dan menengah, Laptop Merah Putih dikhususkan bagi mahasiswa dan perguruan tinggi.
Tujuannya jelas, mendukung pendidikan tinggi, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Kesalahpahaman publik muncul karena dua program ini berjalan hampir bersamaan.
Chromebook menjadi bagian dari pengadaan sekolah yang kemudian terseret kasus hukum, sementara Laptop Merah Putih tetap berjalan dalam jalur riset dan hilirisasi.
Tablet Dikti Edu hingga Laptop Merah Putih
Sebelum laptop ini, pada saat itu Kemendikbudristek pernah meluncurkan tablet Dikti Edu berisi ratusan e-modul untuk mahasiswa wilayah 3T.
Meski sering disebut-sebut sebagai pendahulu, sejatinya Laptop Merah Putih bukan kelanjutan langsung, melainkan program baru dengan lingkup lebih luas.
Anggaran dan Produksi
Sejak awal, pemerintah menyiapkan dana besar. Pada 2021, tercatat Rp3,7 triliun untuk 431 ribu unit laptop, sementara laporan lain menyebut total anggaran program TIK ini mencapai Rp17,42 triliun karena mencakup perangkat lain seperti router dan printer.
Volume awal produksi sekitar 10 ribu unit dengan harga mulai Rp5–7 juta per perangkat. Pemerintah juga melibatkan siswa SMK dan mahasiswa vokasi dalam proses perakitan serta layanan purnajual, sebagai ajang pembelajaran langsung di dunia industri.
Spek Laptop Merah Putih (Versi Awal)
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2021 tentang Petunjuk Operasional Dana Alokasi Khusus Fisik Bidang Pendidikan Tahun Anggaran 2021, Laptop Merah Putih hadir dengan spesifikasi sebagai berikut:
-
Prosesor: Dual Core 2 dengan frekuensi 1,1 GHz dan cache 1 MB.
-
Memori: 4 GB DDR4, cukup untuk kebutuhan komputasi dasar.
-
Penyimpanan: Hard drive 32 GB.
-
USB Port: Minimal USB 3.0 untuk kecepatan transfer data lebih baik.
-
Networking: Wireless LAN adapter untuk koneksi internet nirkabel.
-
Grafis: HD integrated graphics, cocok untuk tampilan multimedia standar.
-
Audio: Integrated audio dengan speaker internal.
-
Monitor: Layar minimal 11 inci dengan lampu LED.
-
Daya: Baterai tahan minimal 5 jam pemakaian.
-
Sistem Operasi: Chrome OS atau sistem operasi berbasis open source lainnya.
-
Garansi: 1 tahun, termasuk layanan purna jual.
-
Fitur Tambahan: Ready to checkmate chrome education upgrade.
Perjalanan Tahap demi Tahap
-
2021–2022: Proof-of-concept dan desain TKDN.
-
2022: Dipamerkan di Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-27.
-
Desember 2024: Motherboard generasi kedua sudah memakai Intel Core i5, naik kelas dari versi Celeron.
-
Mei 2025: Masuk tahap hilirisasi; ITB menyerahkan desain referensi komponen ke Axioo dan Intel sebagai transfer teknologi.
-
2025: Laptop mulai didistribusikan ke sekolah mitra dan perguruan tinggi, misalnya SDN Pergiwatu Wetan di Kulonprogo menerima unit spesifikasi i5-1245H, RAM 8 GB, SSD 512 GB, Windows 11.
-
2026: Direncanakan hadir versi baru dengan chip AI lokal, menandai lompatan penting menuju era laptop cerdas buatan Indonesia.
Berbeda dengan Chromebook
Laptop Merah Putih sempat dipersepsikan serupa dengan Chromebook yang dipakai di sekolah-sekolah.
Faktanya, Chromebook menjadi bagian dari pengadaan pendidikan dasar-menengah senilai Rp9,9 triliun yang kini tengah diselidiki.
Laptop Merah Putih sama sekali berbeda: dikembangkan kampus, untuk mahasiswa, dan fokus pada riset serta kemandirian teknologi.
Inilah yang menjadikannya simbol perjuangan bangsa dalam menguasai teknologi sendiri.
Laptop Merah Putih bukan sekadar perangkat, tapi bukti nyata kemampuan Indonesia membangun teknologi dari riset hingga hilirisasi.
Dari konsorsium kampus besar, industri dalam negeri, hingga rencana menghadirkan chip AI lokal, inilah jalan panjang menuju kedaulatan digital.
Semoga informasi ini bermanfaat, ya.
Mohon dibantu tulis tanggapan di kolom komentar dan share info ini ya.
Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami:
-
Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Rizq Azzahra


