JAKARTA, POJOKSATU.id, Merek BlackBerry yang dahulu merajai pasar ponsel kini menempuh jalur berbeda untuk mempertahankan eksistensinya di industri teknologi.

Perusahaan asal Kanada tersebut tidak lagi menjadikan smartphone sebagai andalan, melainkan mengembangkan perangkat lunak yang mendukung operasional kendaraan modern dan robot berbasis teknologi canggih.

Salah satu produk utama yang menopang perubahan strategi itu adalah QNX.

CEO BlackBerry John Giamatteo menyampaikan bahwa sistem operasi tersebut telah tertanam di lebih dari 275 juta kendaraan.

Pemanfaatannya juga meluas ke berbagai sektor lain, seperti robotika, peralatan medis, instansi pemerintah, serta sistem rantai pasok.

Giamatteo menjelaskan bahwa produk BlackBerry saat ini lebih banyak bekerja di balik layar daripada hadir sebagai perangkat yang digunakan langsung oleh konsumen.

“Produk yang kami jual saat ini tidak bisa digenggam di telapak tangan, (tapi) produk itu ada di mana-mana di sekitar kita,” tutur Giamatteo.

Pergeseran tersebut menggambarkan perubahan model bisnis BlackBerry dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Dari perusahaan yang terkenal dengan ponsel berkeyboard QWERTY, BlackBerry kini mengandalkan perangkat lunak yang menjadi bagian dari infrastruktur berbagai perangkat elektronik dan mesin pintar.

Popularitas BlackBerry di Indonesia sendiri pernah mencapai puncaknya pada era kejayaan smartphone.

Berdasarkan data GfK, perusahaan tersebut masih menguasai sekitar 51 persen pangsa pasar ponsel di Indonesia hingga Desember 2011.

Akan tetapi, persaingan yang semakin ketat membuat perusahaan harus mengubah arah bisnisnya.

Pada September 2016, BlackBerry menyatakan tidak lagi mengembangkan perangkat keras secara mandiri dan memilih mengalihkan fokus ke pengembangan serta penjualan perangkat lunak.

Perubahan strategi itu belum sepenuhnya mengembalikan nilai perusahaan ke masa kejayaannya.

Kapitalisasi pasar BlackBerry saat ini berada di kisaran 5,4 miliar dolar AS atau setara Rp97,2 triliun.

Jumlah tersebut masih terpaut jauh dari nilai hampir 85 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.530 triliun yang pernah dicapai pada 2008.

Meski demikian, pergerakan saham BlackBerry menunjukkan tren positif sepanjang 2026.

Harga sahamnya telah meningkat sekitar 142 persen dibandingkan posisi pada awal tahun.

Nilai Royalti QNX Melampaui Rp21 Triliun

Transformasi bisnis BlackBerry semakin ditopang oleh QNX, sistem operasi yang dirancang untuk berbagai perangkat dengan tuntutan keandalan dan keselamatan tinggi, terutama di industri otomotif.

Giamatteo mengungkapkan bahwa nilai royalti QNX yang sudah tercakup dalam kontrak melampaui 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp21,6 triliun.

Angka tersebut menggambarkan nilai royalti berdasarkan perjanjian yang telah disepakati, bukan jumlah uang yang seluruhnya sudah masuk ke kas perusahaan.

Sebagai perbandingan, pada penutupan tahun fiskal 2026 pada Februari lalu, nilai royalti tersebut masih sekitar 950 juta dolar AS atau setara Rp17,1 triliun.

Menurut Giamatteo, peningkatan bisnis QNX dipengaruhi oleh tiga tren.

Kebutuhan produsen otomotif terhadap kemampuan komputasi yang lebih maju menjadi faktor pertama.

Berikutnya, BlackBerry terus menambah kemampuan dan variasi produk perangkat lunaknya.

Faktor ketiga berasal dari perkembangan physical AI yang semakin dibutuhkan di berbagai industri.

Physical AI merujuk pada teknologi kecerdasan buatan yang diterapkan pada perangkat fisik sehingga dapat menjalankan tugas di lingkungan nyata.

Contoh penerapannya meliputi robot industri, mesin otonom, hingga kendaraan yang mampu mengemudi sendiri.

Untuk memperluas pasar, BlackBerry turut menghadirkan Alloy Kore.

Produk ini mengintegrasikan sistem operasi QNX dengan middleware, yaitu perangkat lunak yang memungkinkan berbagai komponen dalam suatu sistem berkomunikasi dan bekerja bersama.

Coretura menjadi perusahaan pertama yang menjalin kontrak untuk Alloy Kore.

Perusahaan tersebut merupakan hasil usaha patungan Volvo Group dan Daimler Truck.

Kesepakatan itu memberikan tambahan lebih dari 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,8 triliun terhadap backlog QNX.

Istilah backlog merujuk pada nilai pesanan atau kontrak yang sudah diperoleh perusahaan, tetapi belum seluruhnya dibukukan sebagai pendapatan.

Teknologi BlackBerry Bantu Robot Beroperasi dengan Aman

Ekspansi BlackBerry ke bidang robotika tidak dilakukan dengan menciptakan mesin atau robot sendiri.

Perusahaan memilih menyediakan perangkat lunak yang berperan menjaga keselamatan operasional robot dan mesin otomatis.

Solusi tersebut antara lain digunakan pada robot yang menjalankan tugas di gudang, forklift yang beroperasi tanpa pengemudi, serta perangkat untuk memindahkan palet secara otomatis.

Posisi BlackBerry di sektor ini turut diperkuat oleh kerja sama dengan Nvidia.

Perusahaan teknologi tersebut telah menjadikan QNX sebagai standar bagi Halos Safety Stack, seperangkat teknologi keselamatan yang dikembangkan untuk mendukung sistem berbasis AI.

Giamatteo menilai kemitraan dengan Nvidia memiliki potensi besar untuk memperluas jangkauan bisnis BlackBerry.

“Nvidia adalah mitra yang hebat,” ungkapnya.

Dalam presentasi kinerja pada September 2026, Giamatteo mengatakan lebih dari 20 perusahaan sedang mengeksplorasi kemungkinan penggunaan platform berbasis Nvidia yang dikembangkan bersama BlackBerry.

Perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari sejumlah bidang teknologi, mulai dari pengembangan robot humanoid dan robot untuk keperluan bedah hingga pesawat nirawak atau drone.

Keterlibatan berbagai pengembang tersebut membuka peluang bagi QNX untuk digunakan pada lebih banyak perangkat yang mampu menjalankan tugas secara mandiri.

Dalam aplikasi semacam ini, sistem keselamatan menjadi komponen penting untuk memastikan mesin bekerja sesuai batas operasional yang ditetapkan.

Pendapatan BlackBerry Tumbuh 26 Persen

Perkembangan bisnis perangkat lunak BlackBerry juga tercermin dalam laporan keuangan kuartal yang berakhir pada 31 Agustus 2026.

Pada periode tersebut, pendapatan perusahaan mencapai 163,3 juta dolar AS atau sekitar Rp2,94 triliun.

Pencapaian itu meningkat 26 persen dibandingkan pendapatan pada kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Kontributor penting pertumbuhan tersebut adalah QNX. Pendapatan dari bisnis ini tercatat sebesar 80,3 juta dolar AS atau sekitar Rp1,45 triliun, naik 27 persen secara tahunan.

Selain pertumbuhan pendapatan, QNX mencatat margin kotor sebesar 87 persen.

Indikator ini menunjukkan proporsi pendapatan yang masih tersisa setelah biaya langsung penyediaan produk atau layanan dikurangi, sebelum memperhitungkan beban lain seperti biaya administrasi dan pemasaran.

Dalam pernyataan resmi perusahaan, Giamatteo menyampaikan bahwa QNX membukukan hasil kuartalan terbaiknya, dengan bisnis otomotif tetap menjadi pendorong utama pencapaian tersebut.

“QNX mencatat kinerja rekor pada kuartal ini, didorong kekuatan bisnis otomotif inti kami,” katanya.

Walaupun peluang dari robotika dan physical AI terus berkembang, bisnis di luar sektor otomotif masih menyumbang sekitar 20 persen dari keseluruhan pendapatan QNX.

Dengan demikian, industri kendaraan tetap menjadi pasar utama bagi sistem operasi tersebut.

BlackBerry juga belum memublikasikan rincian kontribusi robotika terhadap nilai royalti QNX yang kini telah melampaui 1,2 miliar dolar AS.

Perjalanan BlackBerry memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi dapat mengubah arah bisnis ketika produk andalannya kehilangan dominasi pasar.

Alih-alih kembali bersaing di pasar ponsel pintar, perusahaan kini mengembangkan teknologi yang mendukung kendaraan, robot, dan berbagai perangkat otomatis.

Ke depan, keberhasilan strategi tersebut akan bergantung pada kemampuan BlackBerry memperluas penggunaan QNX sekaligus mempertahankan kepercayaan industri terhadap teknologi keselamatannya.***