POJOKSATU.id — TikTok bukan sekadar platform hiburan biasa.
Dengan lebih dari 157,6 juta pengguna di Indonesia per Juli 2024, negara ini menjadi yang terbesar dalam jumlah pengguna TikTok di dunia.
Popularitasnya yang terus meningkat menjadikan TikTok sebagai salah satu kekuatan utama dalam membentuk opini publik di era digital.
Namun, di balik daya tariknya, TikTok juga membawa konsekuensi, seperti terbentuknya filter bubble, penyebaran misinformasi, dan polarisasi opini di masyarakat.
Cara Kerja Algoritma TikTok
Di balik video-video pendek yang menghibur, algoritma TikTok bekerja secara canggih menggunakan kecerdasan buatan.
Sistem ini menganalisis berbagai faktor, seperti interaksi pengguna, waktu menonton, dan jenis konten yang sering diakses untuk menyajikan video yang sesuai dengan preferensi individu.
Semakin sering pengguna berinteraksi dengan suatu jenis konten, semakin besar kemungkinan mereka terus melihat konten serupa, menciptakan pengalaman yang sangat personal dan adiktif.
Penelitian menunjukkan bahwa algoritma TikTok secara aktif memfilter konten berdasarkan pola interaksi pengguna, menciptakan ekosistem digital yang dapat membentuk kebiasaan dan pola pikir.
Teknologi machine learning yang diterapkan memungkinkan platform ini untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan pengguna, membuat pengalaman berselancar di TikTok semakin menarik dan sulit dilepaskan.
Pengaruh TikTok
Sebagai platform berbasis algoritma, TikTok memiliki peran besar dalam membentuk opini publik.
Salah satu efek utama yang ditimbulkan adalah terciptanya filter bubble, di mana pengguna hanya terpapar informasi yang mendukung pandangan mereka sendiri.
Hal ini memperkuat bias konfirmasi dan mengurangi wawasan terhadap perspektif lain, yang pada akhirnya dapat memicu polarisasi sosial.
Konten sensasional atau kontroversial cenderung mendapatkan lebih banyak perhatian dibandingkan konten informatif yang kurang menarik secara visual atau naratif.
Akibatnya, misinformasi lebih mudah tersebar dan membentuk opini publik tanpa proses verifikasi yang memadai.
Algoritma TikTok juga berkontribusi dalam menciptakan echo chamber, di mana pengguna hanya melihat sudut pandang tertentu tanpa mendapat paparan terhadap perspektif yang berbeda.
Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai peristiwa politik dan krisis global, seperti pemilihan umum dan pandemi COVID-19.
Selama masa pemilu, TikTok sering digunakan untuk menyebarkan propaganda politik dan mendukung kandidat tertentu.
Sementara itu, pada masa pandemi, berbagai informasi mengenai COVID-19 tersebar luas tanpa verifikasi yang jelas, menyebabkan kebingungan di masyarakat terkait vaksin, protokol kesehatan, dan teori konspirasi.
Baca Juga: Ingin Perdalam Islam Tanpa Banyak yang Mempengaruhi, Celine Evangelista Kurangi Aktivitas di Medsos
Pemerintah di berbagai negara mulai menyadari dampak algoritma TikTok terhadap opini publik dan mencoba mengatur distribusi kontennya untuk mengurangi dampak negatif.
Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan upaya mitigasi risiko polarisasi yang semakin tajam.
Pengguna TikTok yang Kritis
Menghadapi pengaruh TikTok yang begitu besar dalam membentuk opini publik, pengguna perlu memiliki sikap kritis dalam mengonsumsi konten.
Tidak hanya mengandalkan TikTok sebagai sumber utama informasi, tetapi juga melakukan verifikasi terhadap kebenaran informasi yang diterima.
Menelusuri sumber berita, mengecek kredibilitas konten, dan tidak mudah terpancing oleh judul sensasional menjadi langkah penting dalam menghadapi era digital yang penuh dengan informasi yang belum tentu akurat.
Selain itu, pengguna harus menyadari bahwa algoritma TikTok dirancang untuk mempertahankan keterlibatan pengguna, bukan untuk menyajikan informasi yang objektif.
Dengan memahami cara kerja algoritma dan berpikir kritis, pengguna dapat lebih bijak dalam memanfaatkan platform ini.
Baca Juga: Viral! Warga Desa Wunut Kebanjiran THR. Kades Bagikan Rp457 Juta, Ternyata ini Sumber Uangnya
TikTok memiliki potensi besar untuk menghubungkan orang, menyebarkan pengetahuan, dan menginspirasi perubahan positif.
Namun, tanpa pemahaman literasi digital yang memadai, platform ini juga dapat menjadi alat penyebaran disinformasi dan polarisasi sosial.
Oleh karena itu, dengan pendekatan yang lebih kritis dan aktif dalam menerapkan literasi digital, pengguna dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan informatif.
*** Marsya Regitha Avantie - Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University.


