POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Salah satu ujung tombak dibidang pangan selain petani yaitu para THL Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), tapi honor yang diterima para PPL ini intensifnya memprihatinkan bahkan bila dibandingkan dengan kuli bangunan honornya lebih besar para kuli bangunan.
Para petugas THL PPL ini memiliki tanggung jawab yang besar untuk meningkatkan produksi kebutuhan pangan berupa bahan pokok untuk kebutuhan perut seluruh rakyat indonesia, tapi berbanding terbalik dengan penghasilan yang mereka peroleh.
Keberadaan PPL ini sepertinya masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah, terbukti dengan masih minimnya intensif yang diterima oleh para THL PPL masih jauh panggang dari api artinya honor yang diterima oleh PPL jauh untuk mencukupi keluarganya.
Setiap bulan mereka hanya mendapatkan honor tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga wajar saja bila para THL PPL ini terkadang kurang fokus untuk mengurus pertanian yang ada di wilayah arealnya.
Sebagai perbandingn, dari informasi yang berhasil dihimpun untuk honor THL PPL dengan pendidikan Sarjana (SI) dikisaran 2 jutaan/bulan, PPL pendidikan D3 dikisaran 1,5 jutaan/bulan dan untuk PPL dengan pendidikan SMA sederajat dikisaran 1,2 jutaan.
Bila melihat intensif atau honor yang diterima oleh para Penyuluh non ASN tersebut, maka bila dibandingkan dengan kuli bangunan pendapatannya masih tinggi para kuli bangunan. Untuk kenek pada kuli bangunan sendiri seharinya 110 ribu atau satu bulannya mencapai 3,3 juta, sedangkan untuk tukang bisa dikisaran 4,2 hingga 4,5 juta/bulannya.
Baca Juga : Gita KDI Beberapa Kali Kedapatan Selalu Melirik Dedi Mulyadi, Gita Juga Mulai Akrab Dengan Anak Sulung Dedi
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi meminta kepada pemerintah untuk lebih memprioritaskan intensif para PPL, agar tanggungjawabnya sebagai ujung tombak akan kebutuhan pangan bisa dipertanggungjawabkan bila mereka mendapatkan honor yang layak.
“Pemerintah perlu memperhatikan regulasinya, salah satu yang paling perlu diperhatikan masalah honor atau intensif para PPL tersebut,” kata Dedi Mulyadi, saat dimintai tanggapan terkait masalah kebutuhan pangan bagi masyarakat indonesia.
Selama ini, ketika pemerintah merasa stok beras mulai berkurang, dikit – dikit impor, dikit – dikit impor, yang diuntungkan bukan petani tapi para importir dan kroco-kroconya itu. Sementara petani pastinya akan merasa dirugikan, karena berdampak pada harga beras yang akan mengalami penurunan.
“Padahal tinggal memberdayakan para PPL untuk meningkatkan produksi padi, sederhana saja setiap wilayah yang ada PPL nya bila produksi padinya meningkat tinggal PPL nya diberi penghargaan atau reward,” tambah Dedi Mulyadi.
Untuk intensif atau honornya juga harus ditingkatkan, karena honor PPL dengan para kuli bangunan saja honornya lebih besar kuli bangunan. Tidak akan cukup honor para PPL ini untuk kebutuhan sehari -harinya.
“Standarnya beri intensif/honor diangka 3 – 4 juta, kemudian mereka diberi tanggungjawab untuk mengurus para petani, dengan honor segitu minimalnya luas areal sawah yang menjadi tanggungjawab PPL itu 200 Hektare,” tutup Dedi Mulyadi, mengakhiri pembicaraan. (Ade Winanto / pojoksatu)




