POJOKSATU.ID - Kontroversi baru kembali menyelimuti DPR RI setelah pernyataan Anggota Komisi I DPR Fraksi Gerindra, Endipat Wijaya.

Yang menyindir relawan Ferry Irwandi dinilai tidak pantas dan memperkeruh suasana di tengah bencana besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Dalam rapat resmi bersama Kementerian Komunikasi dan Digital.

Endipat melontarkan komentar yang terkesan merendahkan kerja relawan.

Baca Juga: Data Terbaru Korban Bencana Sumatera Hari ke-15, 964 Orang Meninggal, 293 Masih Hilang

Menyebut ada pihak yang “sok paling bekerja” meski hanya menyumbang Rp 10 miliar.

Ucapan ini langsung memicu gelombang kemarahan publik.

Ferry Irwandi, influencer sekaligus relawan kemanusiaan yang sejak awal berada di lokasi bencana, akhirnya buka suara setelah pernyataan tersebut viral di media sosial.

Melalui unggahan Instagram Story, Ferry menanggapi pertanyaan seorang netizen mengenai sindiran tersebut.

Baca Juga: Di Tengah Derita Banjir Rakyat Aceh, Mualem Ungkap Ada Bupati Lari ke Medan Cari Hiburan Karaokean

Dengan nada rendah tetapi penuh ironi, ia menjawab, “Gue malah ngerasa kurang euy, beneran. I wish I can do more.”

Jawaban singkat itu justru membuat publik semakin simpati, sementara kritik terhadap Endipat semakin menggema.

Pernyataan Endipat dinilai tidak hanya tidak sensitif terhadap situasi bencana.

Tetapi juga menunjukkan sikap antipati terhadap upaya relawan yang selama ini menjadi garda terdepan membantu korban.

Ketika warga masih berjuang bertahan hidup, kehilangan keluarga, dan tinggal di pengungsian.

Anggota DPR justru memicu polemik dengan mempermasalahkan siapa yang paling terlihat bekerja.

Rapat yang seharusnya membahas perbaikan komunikasi pemerintah dalam menangani bencana justru berubah menjadi ajang menyalahkan pihak lain.

Endipat mengeluhkan bahwa narasi relawan lebih viral dibanding pemerintah, dan menyebut banyak pihak datang sekali lalu membuat seolah-olah negara tidak hadir.

Baca Juga: Imbas Tudingan Terlibat dengan Anggota Geng Kriminal, Komedian Cho Sae Ho Mundur dari Semua Program, Bantah Rumor dan Minta Maaf ke Publik

Ucapannya dianggap menutupi fakta bahwa banyak bantuan pemerintah terlambat menjangkau wilayah terdampak.

Terutama daerah terisolasi yang hingga kini kesulitan mendapatkan logistik dan akses listrik.

Alih-alih menerima kritik publik sebagai evaluasi, Endipat justru menyindir pihak yang membantu dari dana pribadi.

Pernyataan “cuma nyumbang 10 miliar” dianggap publik sebagai bentuk arogansi pejabat yang lupa bahwa bantuan kemanusiaan bukan kompetisi.

Baca Juga: Kabar KENAIKAN GAJI ASN Jangan Jadi PHP, Kemenkeu Beberkan KLARIFIKASI Ini, Ekspektasi Berlebihan Perpres 79 Tahun 2025, Tidak Semudah Itu Fergusso!

Kondisi ini menambah daftar panjang ketimpangan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat yang selama ini kerap mengeluhkan minimnya transparansi.

Respons Ferry yang merendah justru memperlihatkan kontras dengan gaya bicara Endipat yang dianggap arogan.

Banyak warganet menilai, bila seorang relawan bisa hadir langsung dan mengerahkan dana pribadi.

Seharusnya pejabat publik merasa malu jika hanya bisa menyalahkan pihak yang benar-benar bergerak.

Kemarahan publik semakin membesar setelah video pernyataan Endipat menyebar di X.

Warganet menuduh anggota DPR tersebut tidak memahami penderitaan warga dan tidak menghargai upaya masyarakat sipil.

Bahkan sejumlah tokoh menilai bahwa pemerintah seharusnya mengapresiasi keterlibatan relawan, bukan malah meremehkan.

Baca Juga: Hirup Asap Pekat Diduga Penyebab 22 Karyawan Terra Drone Meninggal di Lokasi Kebakaran Cempaka Putih

Kasus ini kembali menunjukkan buruknya komunikasi pejabat publik dalam menangani situasi krisis.

Di tengah bencana besar, yang dibutuhkan adalah kerja nyata, bukan pernyataan merendahkan yang hanya memecah solidaritas masyarakat.***