POJOKSULSEL, MAROS - Wakil Bupati Maros Suhartina Bohari mengajak kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) agar lebih fokus menangani stunting. Terlebih, target untuk mengejar target prevalensi stunting 14 persen di tahun 2024 tersisa setahun lagi.

Menurut Suhartina, angka stunting di Kabupaten Maros terbilang tinggi. Suhartina selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Maros sudah melakukan intervensi untuk menurunkan stunting.

Ia meminta kepada seluruh dinas untuk memperkuat pelaksanaan kegiatan dan anggaran sebagai upaya penurunan stunting sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dinas.

Menurutnya, keluarga berisiko dan berkasus terkait stunting daoat diintervensi melalui program dan kegiatan di dinas didukung dengan bantuan dari BAAS.

"Kerja sama dan intervensi penanganan stunting telah terjalin dengan sangat baik, dimana peran seluruh mitra sangat membantu dalam percepatan penurunan stunting," katanya.

Namun demikian, tantangan terberat yang dihadapi Pemkab Maros saat ini, adalah mempertahankan capaian tahun sebelumnya terkait penurunan stunting.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel Andi Ritamariani menjelaskan, audit kasus stunting (AKS) menjadi strategi dalam upaya mencegah kejadian stunting pada anak.

Identifikasi potensi penyebab terjadinya kasus stunting baik penyebab langsung yaitu ketidakcukupan kebutuhan gizi dan infeksi penyakit maupun penyebab tidak langsung yang terjadi pada calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas dan baduta untuk mencegah terjadinya kasus serupa.

“Audit Kasus Stunting penting dilakukan untuk mengidentifikasi risiko dan penyebab potensi penyebab terjadinya stunting pada kelompok sasaran,"ujar Andi Rita

Ia mengharapkan, audit kasus stunting tahun 2023 dapat menyasar kecamatan yang belum dilakukan AKS. Sehingga, dapat diidentifikasi sesuai dengan status risiko di masing-masing wilayah.

Data hasil SSGI tahun 2022, ada 11 kabupaten di Sulsel yang mengalami penurunan angka stunting. Salah satunya Kabupaten Maros.

Kabupaten Maros, kata Rita, mengalami penurunan tertinggi kedua se-Sulsel,yakni 7,4 persen. Pada tahun 2021 hanya di angka 37,9 persen. Sementara, pada tahun tahun 2022 turun ke angka 30,1 persen.

"Kita berharap target pemerintah 14 persen di tahun 2024 dapat kita capai bersama,” ujar Andi Rita

Rita pun mengapresiasi kerja keras Pemkab Maros yang sukses menurunkan stunting. Capaian tersebut berkontribusi besar terhadap penurunan angka stunting di Sulsel.

Andi Rita juga berpesan agar bantuan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang KB Tahun 2023 yang diserahkan BKKBN kepada Pemerintah Kabupaten Maros senilai 5,36 miliar bisa dimaksimalkan dalam mendukung pelaksanaan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dan upaya Percepatan Penurunan Stunting (PPS) di Kabupaten Maros.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh dan kembang pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang terjadi dalam jangka waktu yang lama atau kronis pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan.

Selain menyebabkan anak tumbuh lebih pendek dari anak seumurannya, stunting juga mempengaruhi pertumbuhan organ tubuh lainnya, termasuk otak anak.

(*/adnan muthalib/pojoksulsel)