POJOKSATU.id- Pidato Surya Paloh di acara Apel Siaga Perubahan Partai NasDem masih menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat.

Pasalnya pidato Ketum Partai NasDem itu, selain tak menyentuh siapa sosok cawapres yang mendampingi Anies Baswedan.

Surya Poloh juga seakan mulai mengkritik revolusi mental yang dicanangkan Jokowi selama pemerintahannya.

Baca Juga: Terus Percepat Transformasi Digital Pemprov Sumut, Ilyas Sitorus: Sudah Ada, Manfaatkan Secara Optimal

"SP memang memberi gambaran revolusi mental sebagai titik temu SP dengan Pak Jokowi. Tetapi ketika sampai ke pengakuan bahwa revolusi itu tidak seperti yang diharapkan, tetiba pidato SP memutar ke topik lain," kata pengamat politik Ray Rangkuti dihubungi pojoksatu.id, Selasa (18/7/2023).

Ray Rangkuti juga menilai, pidato Surya Paloh dan Anies Baswedan itu tak ada kejalasan sosok cawapres yang akan dipilih.

Bahkan pidato keduanya itu dinilai tidak mempertegas arah koalisi politik yang dibangun Partai NasDem kedepannya.

Baca Juga: Bantu Percepatan Digitalisasi di Daerah, Nawal Lubis Serahkan 30 Unit Tablet ke Kabupaten Batubara

"Pernyataan ini perlu untuk mempertegas garis politik yang dipilih. Perubahan. Sampai akhir pidato SP, ketegasan ini juga tidak didapatkan," ujarnya.

Karena itu, Ray Rangkuti menyayangkan apel siaga yang dibangun megah dan memakan anggaran tak sedikit, nyatanya hanya sebatas upacara seremoni, kumpul-kumpul, dan diselingi atraksi budaya.

"Sangat disayangkan, apel siaga yang begitu megah, wah, dan mahal. Acara semahal itu, nampaknya, tak akan banyak membantu masyarakat memahami ke mana, di mana dan bagaimana pilihan politik NasDem dan koalisi akan berjalan," ujarnya.

Baca Juga: Hadir di 63 Kota, XL SATU Fiber Kenalkan Teknologi Terbaru Fiber To The Room (FTTR)

Sebelumnya, capres Anies Baswedan menyampaikan pidato politik di acara Apel Siaga Perubahan Partai NasDem.

Dalam pudatonya, Anies mengingatkan, dorongan akan perubahan harus dilandasi semangat, untuk menjaga persatuan.

Surya Paloh juga menyampaikan pidatonya. Dalam pidatonya, Ia menyatakan Indonesia didirikan oleh tokoh bangsa yang mewariskan alat pemersatu.

Baca Juga: Jamaah Haji Asal Indramayu Wafat Dalam Pesawat Saat Penerbangan Menuju Indonesia

Namun, kekinian bangsa Indonesia kini semakin jauh dari budaya kegotongroyongan.

Kini bangsa Indonesia berubah menjadi bangsa yang individual dan pragmatis atau kepura-puraan.

"Bangsa kita telah berubah, dari semangat penuh kegotongroyongan dan kebersamaan, berubah menjadi bangsa dengan semangat keakuan, individualistik," kata Surya.

Reporter : Firdausi