POJOKSATU.id - Pantun resmi diakui dunia. UNESCO menetapkan pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage yang digelar di Paris, Perancis, 17 Desember 2020.

Pengakuan tersebut menjadi tonggak penting bagi Indonesia. Pantun, yang selama ini hidup dalam keseharian masyarakat, kini mendapatkan legitimasi global sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi.

Mengutip laman resmi Perpustakaan Nasional, penetapan pantun oleh UNESCO bukan proses singkat.

Pengajuan telah dilakukan sejak 2016 dan melalui berbagai tahapan kajian hingga akhirnya disetujui pada 2020.

Baca Juga: Bupati Tangerang Serap Aspirasi Warga Taman Raya Rajeg, Penanganan Banjir Jadi Prioritas

Momentum ini sekaligus menandai pengakuan dunia internasional terhadap kearifan lokal bangsa Indonesia.

Sebagai bentuk penghargaan atas pengakuan tersebut, pemerintah kemudian menetapkan tanggal 17 Desember sebagai Hari Pantun Nasional.

Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 163/M/2025.

Keputusan tersebut ditandatangani langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, pada 7 Juli 2025.

Hari Pantun Nasional diharapkan menjadi pengingat sekaligus penguat komitmen untuk menjaga pantun tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pantun bukan sekadar rangkaian kata berima. Ia adalah sarana menyampaikan nasihat, kritik sosial, hingga nilai moral yang diwariskan lintas generasi.

Baca Juga: Bupati Tangerang Salurkan Sambungan Air Bersih Gratis untuk 250 KK di Desa Tanjakan Mekar

Sebagai Warisan Budaya Takbenda, pantun mencerminkan identitas, kearifan lokal, dan cara berpikir masyarakat Indonesia.

Karena itu, pelestarian pantun menjadi tanggung jawab bersama. Upaya perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pantun tetap relevan bagi generasi masa kini dan mendatang.

Dalam rangka merayakan Hari Pantun Nasional, berbagai kegiatan bisa digelar.

Mulai dari lomba cipta pantun, lomba berbalas pantun, seminar kebudayaan, pelatihan dan workshop, hingga pameran pantun di ruang publik maupun sekolah.

Pantun telah berjalan jauh dari lisan ke panggung dunia. Kini, tantangannya adalah memastikan warisan ini tidak hanya dikenang pada tanggal peringatannya, tetapi terus hidup, dibaca, diucapkan, dan dirasakan maknanya dalam kehidupan sehari-hari. ***