POJOKSATU.id, Serang - Sebanyak 32 Ruang Kelas dari ribuan yang rusak untuk Sekolah Dasar (SD) Negeri se-Kota Serang, akan diperbaiki, dengan total anggaran sekitar Rp1,8 Miliar, yang bersumber dari APBD Kota Serang dan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2023.

Hal tersebut dilakukan guna kenyamanan dan kelancaran para siswa dan guru dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Kabid SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang, Dedi mengatakan, saat ini banyak ruang kelas di sekolah mengalami kerusakan, sehingga menimbulkan kekhawatiran dan ketidaknyamanan bagi para siswa, guru, dan orang tua.

"Karena itu, kita memprioritaskan ruang kelas mana saja yang mengalami kerusakan berat, dan perlu segera dilakukan perbaikan tahun 2023 ini," katanya, Kamis (25/05/2023).

Dijelaskan Dedi, total ruang kelas SD se Kota Serang yang mengalami kerusakan yakni sebanyak 848, terdiri dari rusak sedang ada 573 ruang kelas, dan rusak berat ada 275 ruang kelas.

Namun, Anggaran yang tersedia baik dari APBD Kota Serang maupun bantuan DAK tahun 2023, hanya mampu untuk memperbaiki sedikitnya 32 Ruang kelas.

"Sesuai dengan ketersediaan anggaran, tahun 2023 ini kami hanya dapat memperbaiki sedikitnya 32 Ruang kelas beserta fasilitas pendukungnya dengan total anggaran sekitar Rp1,8 Miliar," jelasnya.

Dedi mengungkapkan, kerusakan ruang kelas tersebut diketahui beragam, seperti kebocora atap, tembok retak, hingga rusaknya fasilitas pendukung seperti kamar mandi. Hal itu disebabkan karena kurangnya pemeliharaan dan faktor cuaca atau bencana alam.

"Bahkan akibatnya, ada beberapa sekolah terpaksa menutup sebagian ruangan dan mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke ruangan yang masih layak," ungkapnya.

Karena itu, Dedi berharap Pemerintah Pusat dapat memberikan bantuan dana lebih besar tahun berikutnya, agar mempercepat perbaikan seluruh sekolah SD yang ada di Kota Serang, baik rusak ringan, sedang, maupun berat, demi kenyamanan belajar.

"Selain itu, saat ini kami juga kekurangan pegawai, sehingga menjadi salah satu faktor minimnya peninjauan atau kunjungan ke sekolah yang ada di daerah perbatasan, untuk mengetahui kondisi sekolah," katanya. (Dinar)