POJOKSATU.ID - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka angkat suara terkait polemik yang menyeret nama Ferry Irwandi dan sejumlah pihak yang menggalang dana untuk korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Gibran menegaskan bahwa inisiatif tersebut justru merupakan bentuk nyata semangat gotong-royong masyarakat Indonesia, bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan.

Menurut Gibran, masyarakat yang bergerak cepat membuka donasi merupakan kekuatan sosial yang harus diapresiasi.

Baca Juga: Ramai Perdebatan Soal TPG 100 Persen, Ini Penjelasan Agar Guru Tidak Salah Memahami Haknya

“Kalau ada yang menggalang donasi untuk membantu saudara-saudara kita di daerah bencana, ya itu bagus. Itu wujud kepedulian,” ujarnya saat dimintai keterangan.

Ia menilai situasi darurat membutuhkan dukungan dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat umum.

Pernyataan ini muncul setelah penggalangan dana yang dilakukan Ferry Irwandi melalui Kitabisa.com mencuri perhatian publik.

Baca Juga: TPG ASN vs Non ASN 2025: Perbedaan Nominal yang Wajib Dipahami, Begini Rinciannya!

Kampanye donasi tersebut berhasil mengumpulkan dana hingga Rp10 miliar dalam waktu singkat.

Angka tersebut menunjukkan tingginya respons masyarakat terhadap kondisi para korban bencana yang tengah berjuang memulihkan kehidupan mereka setelah banjir bandang dan longsor melanda berbagai wilayah di Sumatera.

Namun keberhasilan itu juga memunculkan sorotan dari sebagian pihak, termasuk Anggota Komisi I DPR Endipat Wijaya.

Baca Juga: 18 Daerah Belum Aman Banjir, Masa Tanggap Darurat Bencana di Sumut Diperpanjang

Ia mempertanyakan beberapa aspek terkait penggalangan dana tersebut.

Menanggapi kritik itu, Ferry menyatakan tidak merasa marah dan menegaskan bahwa dirinya sudah menerima permintaan maaf dari Endipat.

“Semua sudah clear, tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi,” kata Ferry dalam keterangannya.

Baca Juga: Bangga! SMPN 1 Karawang Timur Raih Penghargaan UKS Tingkat Nasional

Gibran menilai bahwa perdebatan soal penggalangan dana seharusnya tidak mengaburkan tujuan utama dari upaya tersebut, yaitu membantu warga yang sedang kesulitan.

Ia mengingatkan bahwa ribuan warga di Aceh, Sumut, dan Sumbar saat ini amat membutuhkan dukungan logistik, tempat tinggal sementara, serta pemulihan jangka panjang.

Masyarakat yang ikut berdonasi adalah bagian dari solidaritas nasional yang harus dirawat.

Bagi Gibran, kritik pun sebenarnya hal wajar, tetapi tidak boleh mematikan semangat gotong royong.

Baca Juga: Perubahan RUU ASN di PROLEGNAS 2026 Ditunda, Belum Bisa Bahas PPPK Jadi PNS, Harus SABAR LAGI, Apa Alasan DPR RI?

Ia menekankan bahwa yang terpenting adalah transparansi dalam penyaluran dana dan fokus pada manfaat bagi korban.

Pemerintah, menurutnya, tetap menghargai inisiatif dari warga maupun tokoh publik yang ingin turun langsung membantu.

Penggalangan dana besar seperti yang dilakukan Ferry dianggap mempercepat proses penanganan darurat, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau.

Banyak warganet pun menyuarakan dukungan terhadap aksi kemanusiaan tersebut, menganggapnya sebagai bukti kuat bahwa solidaritas masyarakat Indonesia tidak pernah padam, terutama dalam kondisi bencana.

Baca Juga: Kapolda Ceritakan Detik-detik Masuki Aceh Tamiang Usai Banjir, Kota Lumpuh Orang Berdiri Kelaparan

Dengan situasi yang masih dinamis di wilayah terdampak, Gibran meminta semua pihak tetap menjaga suasana kondusif dan mengutamakan kerja nyata.

“Yang penting adalah bantuan sampai ke korban. Itu yang harus jadi prioritas,” tegasnya.

Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa perbedaan pendapat boleh terjadi, namun kerja kemanusiaan tetap harus dihormati.

Bagi korban bencana, setiap bantuan kecil atau besar adalah harapan baru untuk bangkit kembali.***