POJOKSATU.id – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait fenomena siswa “anak jenderal” yang bersikap kurang ajar kepada guru menuai sorotan luas.

Bukan sekadar anekdot, pernyataan itu membawa pesan moral yang lebih besar tidak boleh ada satu pun siswa yang merasa kebal aturan hanya karena orang tuanya berstatus pejabat atau tokoh penting negara.

Dalam pidatonya pada peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Indonesia Arena, Jakarta, Prabowo menegaskan bahwa kesetaraan disiplin adalah prinsip yang tak bisa ditawar dalam dunia pendidikan.

Baca Juga: Hanya Bayar Pajak, Warga Berpeluang Dapat Hadiah Fantastis dari Pemprov Banten

Ia menyampaikan kritik terbuka terhadap perilaku sebagian siswa masa kini yang kerap melawan ketika ditegur guru, dan menggunakan status sosial keluarga sebagai tameng.

“Ada murid yang kurang ajar ditegur oleh guru dia balas. Merasa dirinya jagoan,”

kata Prabowo dalam pidatonya, seperti diberitakan Liputan6.

Baca Juga: Sekolah Bisa Ajukan Revitalisasi Secara Online Mulai 2026, Begini Mekanismenya

Ia menekankan bahwa perilaku semacam ini tidak boleh dibiarkan berkembang di lingkungan sekolah, terlebih jika pelakunya berasal dari keluarga pejabat tinggi.

Pernyataan paling keras muncul ketika Prabowo menyinggung kasus yang ia temui saat masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

Dalam satu sekolah yang berada di bawah naungan Kemenhan, ada siswa yang menunjukkan sikap tidak sopan terhadap guru.

Baca Juga: Anggaran Pesantren Melonjak 10 Kali Lipat, Pemerintah Siapkan Rp13 Triliun untuk Penguatan Layanan dan Pembinaan

Ketika kepala sekolah hendak memberikan sanksi pencabutan status siswa tersebut, muncul keraguan karena sang siswa disebut sebagai anak seorang jenderal.

Prabowo menegaskan bahwa alasan itu tidak dapat diterima.

“Saya bilang, tidak usah ragu-ragu. Mana jenderal itu, suruh menghadap saya,” ujar Prabowo, dikutip dari detikNews.

Ia menambahkan bahwa orang tua dengan jabatan tinggi justru seharusnya merasa berkewajiban memberi contoh moral kepada anaknya, bukan melindungi perilaku buruk.

Dalam konteks itu, Prabowo mengeluarkan pernyataan yang kini menjadi sorotan utama publik.

Baca Juga: Sekolah Bisa Ajukan Revitalisasi Secara Online Mulai 2026, Begini Mekanismenya

“Kalau bapaknya orang besar, anaknya harus lebih sopan, lebih baik, jangan kurang ajar."

"Kalau bapaknya tokoh, bapaknya jenderal, bapaknya pemimpin, anaknya harus lebih sopan, lebih baik, lebih tertib,” tegasnya.

Pernyataan ini menembus lebih jauh dari sekadar sindiran.

Baca Juga: Lulus PPG Bisa Langsung Jadi PPPK? Benarkah Peserta Tak Perlu Mengajar atau Masuk Dapodik?

Ia menegaskan prinsip kesetaraan hukum dan disiplin, bahwa sekolah harus memiliki keberanian moral untuk menegakkan aturan tanpa pandang bulu.

Status sosial keluarga tidak boleh menciptakan lapisan keistimewaan yang merusak karakter pendidikan.

Selain memberi teguran kepada siswa dan orang tua, Prabowo juga menyoroti posisi guru yang semakin sulit dalam menghadapi perilaku siswa masa kini.

Baca Juga: Hanya Bayar Pajak, Warga Berpeluang Dapat Hadiah Fantastis dari Pemprov Banten

Banyak guru yang merasa takut bersikap tegas karena khawatir berhadapan dengan orang tua yang memiliki kekuasaan, jabatan militer, atau pengaruh politik. Untuk itu, Prabowo menegaskan bahwa negara akan berdiri di belakang guru.

“Tapi memang kalau guru-guru saya dulu tidak tegas, tidak keras sama saya, saya tidak bisa berdiri di sini,” ucapnya,

mengingatkan kembali peran guru dalam membentuk karakter seseorang.

Pernyataan ini menegaskan bahwa ketegasan bukanlah kekerasan, melainkan bagian dari pendidikan moral yang harus tetap dipertahankan.

Pernyataan Prabowo menjadi penting mengingat dinamika sosial yang tengah berkembang, di mana perilaku siswa yang melawan guru semakin sering terjadi.

Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial dan pemberitaan arus utama berkali-kali menampilkan kasus yang melibatkan siswa yang melawan guru atau merasa superior karena latar belakang keluarga.

Baca Juga: Anggaran Pesantren Melonjak 10 Kali Lipat, Pemerintah Siapkan Rp13 Triliun untuk Penguatan Layanan dan Pembinaan

Pesan yang disampaikan Prabowo dalam forum nasional tersebut menegaskan bahwa fenomena ini perlu dihentikan.

Angle kesetaraan disiplin yang ditekankan Prabowo juga merupakan seruan bagi para pemimpin, pejabat, dan keluarga dengan jabatan tinggi untuk mengajarkan kerendahan hati kepada anak-anak mereka.

Dalam konteks pendidikan, jabatan orang tua bukanlah perlindungan, melainkan tanggung jawab moral.

Baca Juga: Abdul Mu’ti Usul Bahasa Indonesia Ganti Nama Jadi Bahasa Sastra Indonesia, Pastikan Sastranya Jalan

Keseluruhan pernyataan ini dapat dibaca sebagai ajakan agar sekolah kembali menjadi ruang yang menjunjung tinggi etika, hormat kepada guru, dan karakter.

Bahwa anak pejabat atau anak jenderal tidak boleh diposisikan sebagai kelas khusus, melainkan harus berada dalam barisan yang sama dalam hal disiplin, integritas, dan sikap.

Pendidikan karakter tidak hanya dibangun dalam ruang kelas, tetapi juga dalam keberanian menolak privilese yang tidak semestinya.

Baca Juga: Merasa jadi Korban Kebohongan, Inara Rusli Tegaskan Pisah dari Insanul Fahmi, Laporkan Penyebaran CCTV di Rumahnya ke Mabes Polri

Dan dalam hal ini, pesan Prabowo berdiri pada satu garis yang jelas wibawa guru adalah fondasi, dan disiplin harus berlaku sama untuk semua.***