POJOKSATU.id, JAKARTA -- Polemik di internal Nahdlatul Ulama (NU) kembali mencuat setelah muncul kritik terhadap pidato Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dalam penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan.

Kritik tersebut disampaikan HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, warga NU sekaligus kiai kampung, yang menyoroti isi pidato berbahasa Arab tersebut.

Sebagai lulusan MAN-PK dan santri Denanyar, dirinya merasa memiliki kemampuan untuk menelaah isi pidato berbahasa Arab tersebut.

"Saya menyimak pidato berbahasa Arab Kiai Miftahul Akhyar dalam Munas-Konbes NU di Bangkalan melalui siaran langsung kanal NU Online. Sebagai lulusan MAN-PK dan santri Denanyar, telinga saya masih cukup terlatih untuk menelaah isi pidato semacam itu," kata Khalilur dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).

Baca Juga: Turut Dihujat Gegara Pengakuan Ayu Ting Ting Dapat Tiket Konser BTS Jalur Ordal, Vicky Shu Klarifikasi jadi Korban Fitnah, Tegaskan Ikut 'War'

Khalilur menilai persoalan utama bukan hanya mengenai sumber kutipan, tetapi juga sejumlah kekeliruan dalam pembacaan teks Arab yang menurutnya muncul dalam pidato tersebut.

Ia mempertanyakan tidak adanya penyebutan kitab maupun pengarang saat menyampaikan materi yang disebut berasal dari karya Imam Al-Ghazali.

"Saya merasa pantas untuk bertanya: bukankah praktik seperti ini dalam ilmu balaghah dapat dikategorikan sebagai sariqah atau dalam istilah akademik modern, plagiasi?," ujarnya.

Baca Juga: Pembekalan Calon Manajer Kopdes, Biaya Latsarmil Rp30 Juta, Subtansi Koperasi Cuma Rp15 Juta

Selain persoalan sumber rujukan, Khalilur juga menyampaikan sejumlah catatan mengenai kesalahan penyebutan angka tahun Hijriah, harakat, hingga pelafalan beberapa bagian teks Arab.

"Menurut saya, kekeliruan-kekeliruan semacam ini tidak seharusnya muncul dari seorang Rais Aam PBNU, terlebih ketika yang dibaca hanyalah sebuah teks yang telah tersedia," ucapnya.

Menurutnya, sosok pemimpin NU harus mampu menjadi teladan dalam keilmuan, ketelitian, serta menjaga marwah organisasi.

"Rais Aam yang plagiat, tidak tahu pasang harkat, dan punya riwayat sebagai penebar pertengkaran di tubuh NU, tidak layak lagi jadi Rais Aam," tutupnya.***