POJOKSATU.id, JAKARTA — Presiden Soekarno memiliki peran penting mendesak pemimpin Uni Soviet atau Rusia sekarang memugar kembali makam Perawi Hadist Nabi Muhammad yaitu Imam Bukhori.

Sejarah Soekarno dengan bangsa Uzbekistan dimulai usai Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955. Pemerintah Soviet mengundang Presiden Soekarno untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke Moskow.

Saat itu, Soekarno sadar, sebagai Presiden Indonesia yang dianggap sebagai pemimpin negara-negara Non Blok harus bersikap netral terhadap Blok Timur maupun Blok Barat.

Bung Karno juga menyadari bahwa Indonesia butuh dukungan Soviet untuk melegitimasi eksistensi negara-negara Non Blok dan kesepakatan yang telah dicapai dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung.

Baca Juga :

Misteri Soekarno Menikah dengan Nyi Roro Kidul, Ada Yang Percaya Ada Juga Tidak

Soekarno juga menyadari membutuhkan dukungan Soviet untuk menghadapi berbagai upaya negara-negara Barat yang masih terus berusaha menjajah dan menguasai kembali Indonesia.

Sementara itu, Soekarno mafhum bahwa mayoritas masyarakat Indonesia adalah beragama Islam sehingga tidak mungkin Indonesia ikut Blok Timur yang dipimpin negara komunis Uni Soviet.

Situasi itu disiasati dengan sangat cerdas oleh Soekarno dengan mengajukan syarat agar Pemerintah Soviet mencarikan makam Imam Bukhari seorang perawi Hadist Nabi Muhammad SAW yang termasyhur.

Baca Juga :

Nama Soekarno Abadi di 7 Negara Ini, Sang Proklamator Kuasai 10 Bahasa

Bung Karno hanya akan memenuhi undangan jika pemimpin Uni Soviet bisa ‘menemukan’ kembali makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan.

Pada mulanya pemimpin Soviet enggan, tapi Bung Karno bersikeras.

Akhirnya, lokasi makam Imam Bukhari berhasil ditemukan lagi meski dalam keadaan terlantar.

Untuk menyambut dan menyenangkan hati Soekarno, makam Perawi Hadist Nabi Muhammad SAW itu pun direnovasi.

Ketika akhirnya Bung Karno memenuhi undangan Nikita Khrushchev, ia menyempatkan diri berziarah ke makam tersebut.

Diplomat Kementerian Luar Negeri Sigit Aris Prasetyo yang pernah mendapat tugas riset di Uzbekistan pada 2016 mengaku, Sukarno sangat dikenal oleh para pemuka Islam Samarkand.

Saat bertugas di Uzbekistan ia sempat mengunjungi makam perawi hadis kelahiran Bukhara 810 Masehi itu dan mendapat cerita soal jejak Sukarno di sana.

“Ketika saya berdialog dengan salah satu pemuka Islam di sana, beliau juga menekankan jasa-jasa Sukarno dalam pembangunan makam itu saat berkunjung ke Uni Soviet,” tutur penulis buku Dunia dalam Genggaman Bung Karno (2017).

Sementara menurut Israil, muazim Masjid Imam Bukhari, menjelang kedatangan Bung Karno pada tahun 1956, kondisi makam tidak terawat dengan baik dan berada di semak belukar hingga akhirnya pemerintah Soviet membersihkan dan memugar makam tersebut untuk menyambut kedatangan Soekarno.

Penghormatan Soekarno terhadap Imam Bukhari dilakukannya dengan cara melepas sepatu dan berjalan merangkak dari pintu depan menuju makam ketika turun dari mobil yang mengantarnya.

“Presiden Soekarno merangkak menuju makam lalu memanjatkan doa dan dilanjutkan sholat serta membaca Al-Quran” terang Israil.

Keterangan tersebut diperkuat oleh Muhammad Maksud, penjaga makam Imam Bukhari, bahwa atas jasa Presiden Soekarno, komplek makam Imam Bukhari kini dipugar hingga terlihat sangat megah seperti saat ini.

Sehingga, komplek makam seluas 10 hektar ini menjadi wisata bagi umat Islam di dunia setelah makam Nabi Muhammad SAW di Madinah. (ikror/pojoksatu)