POJOKSATU.ID - Hubungan ekonomi Indonesia–Yordania memasuki babak baru.
Raja Yordania, Abdullah II ibn Al Hussein, secara resmi mengundang Indonesia melalui Badan Pengelola Investasi Danantara untuk menanamkan modal dalam proyek-proyek strategis bernilai US$1,3 miliar atau sekitar Rp21,7 triliun.
Undangan ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pengaruh investasi di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Tak Semua ASN Bisa Pensiun di Usia 70, BKN Beberkan 3 Syarat Khususnya
Sekaligus memperkuat kerja sama bilateral yang selama ini cenderung terbatas pada perdagangan fosfat dan kerja sama diplomatik.
Undangan tersebut disampaikan langsung oleh Raja Abdullah II dalam pertemuan dengan jajaran Danantara.
Yordania memberikan penawaran investasi di tiga sektor prioritas yang dianggap sangat vital untuk pertumbuhan ekonomi negara tersebut pipanisasi gas, jalan tol, dan logistik.
Baca Juga: Pelaku Pembacokan dan Perampasan Motor di Karawang Ditangkap
Proposal ini sekaligus menegaskan keseriusan Yordania dalam menjalin kemitraan jangka panjang dengan Indonesia, bukan sekadar pembicaraan simbolis tingkat tinggi.
Dari total investasi yang ditawarkan, sektor pipanisasi gas menjadi proyek paling besar, dengan nilai mencapai US$1 miliar atau sekitar Rp16,7 triliun.
Proyek ini berkaitan dengan pembangunan infrastruktur jaringan gas yang akan memperkuat sistem energi Yordania.
Di luar itu, dua sektor lainnya jalan tol dan logistik memiliki nilai gabungan sekitar US$300 juta.
Baca Juga: Mengapa BKN Usulkan ASN Bisa Bekerja Sampai 70 Tahun? Ini Alasan dan Tantangannya
Ketiganya masuk kategori proyek prioritas nasional Yordania dan dianggap krusial untuk efisiensi industri serta konektivitas wilayah.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan kajian mendalam untuk memastikan proyek-proyek ini memenuhi kriteria investasi secara bisnis.
Karena skema yang digunakan adalah business-to-business (B2B), maka seluruh keputusan harus mempertimbangkan return dan profil risiko yang sesuai.
Baca Juga: Cerita di Balik Pria Aniaya Kekasih di Depok, Ajakan Kriminal Hingga Cekcok Ekonomi
Selain menawari Indonesia investasi besar, Yordania juga menyatakan ketertarikan terhadap struktur Danantara sebagai lembaga pengelola investasi nasional.
Pemerintah Yordania disebut tengah mempertimbangkan pembentukan sovereign wealth fund (SWF) mereka sendiri, dan melihat Danantara sebagai model yang relevan.
Kesempatan ini membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, bukan hanya sebatas pembangunan infrastruktur tetapi juga pertukaran keahlian dan peningkatan kapasitas tata kelola investasi negara.
Raja Abdullah II resmi mengundang Danantara untuk datang ke Amman pada Desember 2025.
Pertemuan itu disiapkan untuk tahap finalisasi rencana kerja dan pembahasan detail teknis setiap proyek, termasuk pembagian peran, target jangka panjang, hingga skema pembiayaan kolaboratif.
Bagi Indonesia, undangan ini menjadi sinyal positif bahwa Danantara memiliki posisi strategis di mata negara lain.
Ini juga menjadi momentum penting untuk memperluas portofolio internasional yang selama ini masih terbatas di kawasan Asia Tenggara dan sebagian Timur Tengah.
Baca Juga: PPPK Bisa Diangkat Jadi PNS Tanpa Tes? Ini Penjelasan DPR dan Skema Pensiun yang Diusulkan
Jika proyek-proyek ini berjalan, Indonesia berpotensi mendapatkan beberapa keuntungan strategis:
Akses lebih luas ke pasar energi dan logistik Timur Tengah.
Peningkatan reputasi Danantara sebagai investor global.
Peluang bagi perusahaan Indonesia terlibat dalam proyek konstruksi, energi, dan infrastruktur internasional.
Memperkuat hubungan diplomatik sekaligus membuka pintu kerja sama baru di sektor mineral fosfat dan potas yang selama ini menjadi komoditas ekspor Yordania.
Baca Juga: Kalian Harus Tahu! BBM dari Jerami Mulai Diuji di Jabar, Bisakah Bobibos Jadi Sumber Energi Baru?
Namun, para analis mengingatkan bahwa investasi luar negeri berskala besar perlu melalui kajian ketat, terutama soal stabilitas politik, regulasi, serta potensi pengembalian modal.
Danantara telah memastikan bahwa semua proses akan dilakukan secara terukur dan tidak terburu-buru.***




