POJOKSATU.id, JAKARTA— Nilai tukar rupiah ini kembali mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah Indonesia berdiri.
Satu Dolar saat perdagangan Senin (8/6) sekira pukul 19.00 WIB tembus Rp18.151 seperti dilihat Pojoksatu.id.
Rupiah kembali mengalami penurunan dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.036 per dolar AS.
Bahkan dalam perdagangan intraday, rupiah sempat menyentuh level Rp18.205 per dolar AS, sebelum akhirnya ditutup sedikit lebih baik.
Pelemahan ini menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang yang tertekan di kawasan Asia.
Hanya ringgit Malaysia yang mengalami pelemahan lebih dalam, yakni sebesar 1,03 persen.
Menanggapi situasi kritis tersebut, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB, Marwan Jafar, mendesak pemerintah dan otoritas moneter untuk melakukan intervensi dengan segera mengambil langkah darurat yang cepat, cerdas, dan terukur demi memulihkan kepercayaan (trust) pasar yang mulai goyah.
“Pelemahan rupiah yang sangat dalam dan amblesnya IHSG ini adalah sinyal bahaya. Pemerintah harus segera melakukan intervensi pasar yang tepat. Kondisi darurat seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa arah kebijakan yang jelas,” tegas Marwan Jafar di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Baca Juga: 40 Contoh Soal PAT Bahasa Inggris Kelas 8 SMP Semester 2 Lengkap dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan
Dia menilai, kejatuhan IHSG dipicu oleh tingginya kepanikan investor yang memicu aksi jual massal.
Jika sentimen negatif ini dibiarkan tanpa kepastian komunikasi publik dari pemerintah, risiko penarikan dana asing secara besar-besaran (capital outflow) akan semakin memperpuruk nilai tukar.
Bagi Marwan, faktor psikologis pasar dan kepastian regulasi jauh lebih menentukan stabilitas ekonomi saat ini dibandingkan sekadar data fundamental di atas kertas.
“Sentimen investor memegang kendali besar. Ketika pelaku pasar melihat pemerintah punya strategi mitigasi yang jelas dan respons cepat, tekanan terhadap rupiah bisa diredam,” ujarnya.
“Sebaliknya, jika ketidakpastian dipelihara, pasar keuangan kita bisa lumpuh,” jelasnya lagi.
Marwan mengingatkan bahwa krisis di sektor keuangan ini bukan sekadar angka di papan saham, melainkan bom waktu bagi masyarakat kecil.
Melemahnya rupiah ke level Rp18.000-an akan langsung mengerek biaya impor bahan baku industri dan memicu inflasi harga barang-barang kebutuhan pokok di pasar.
Marwan Jafar berharap agar pemerintah cepat memulihkan kepercayaan publik, semakin cepat kepercayaan pasar dipulihkan, semakin besar peluang pemerintah melindungi masyarakat dari dampak ekonomi yang lebih luas.
“Pemerintah harus hadir dengan langkah yang meyakinkan—bukan sekadar menenangkan dengan retorika, tapi menyelamatkan daya beli rakyat dari hantaman badai ekonomi ini,” tegas Marwan.***




