POJOKSATU.id – Kembalinya program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah masa libur sekolah kembali menjadi perhatian karena beriringan dengan meningkatnya permintaan sejumlah bahan pangan.
Kondisi ini terlihat dari pergerakan harga ayam hingga komoditas kebutuhan pokok lainnya di sejumlah daerah.
Fenomena tersebut berbeda dengan kondisi ketika sekolah dan program MBG berhenti sementara selama masa liburan.
Saat itu, permintaan dari sektor penyedia makanan sekolah ikut berkurang sehingga beberapa komoditas mengalami penurunan harga.
Kini, setelah aktivitas sekolah kembali normal dan MBG kembali berjalan, harga pangan di sejumlah daerah mulai bergerak naik.
Salah satu contoh terlihat di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Harga daging ayam broiler di Pasar Argosari, Wonosari, dilaporkan mencapai Rp42.000 per kilogram dalam sepekan terakhir.
Pedagang ayam potong, Febrian, menyebut tingginya permintaan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan harga tersebut. Ia juga menilai kebutuhan untuk program MBG turut memberikan pengaruh.
“MBG sangat berpengaruh terhadap harga jual daging ayam di pasaran,” kata Febrian, Rabu (19/8/2026).
Harga Ayam Sempat Turun Saat MBG Libur
Perubahan harga ayam terlihat cukup jelas jika dibandingkan dengan periode libur sekolah.
Saat program MBG dihentikan sementara, harga daging ayam di Gunungkidul sempat turun hingga sekitar Rp30.000 per kilogram.
Namun, setelah sekolah kembali masuk dan MBG berjalan sejak pertengahan Juli, harga ayam kembali naik secara bertahap.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Gunungkidul, Ris Heryani, mengatakan harga ayam yang sebelumnya berada di kisaran Rp30.000 per kilogram kemudian naik menjadi sekitar Rp40.000 hingga Rp42.000 per kilogram.
“Saat liburan sekolah, harga daging ayam di kisaran Rp30.000, terus merangkak naik saat MBG kembali dijalankan jadi Rp40.000 hingga sekarang di kisaran Rp42.000 per kilogram,” ujar Ris.
Baca Juga: Rupiah Ambruk, Harga Pangan Dasar Melonjak, Presiden Didesak Copot Menko Zulhas
Meski demikian, kenaikan harga ayam tidak semata-mata dikaitkan dengan MBG. Permintaan masyarakat untuk keperluan lain, seperti hajatan, juga ikut memberikan tekanan terhadap pasar.
Bukan Hanya Ayam, Telur dan Cabai Ikut Naik
Dampak meningkatnya permintaan pangan juga terlihat pada komoditas lain.
Di Gunungkidul, harga telur ayam ras tercatat naik dari Rp23.500 menjadi Rp24.500 per kilogram. Sementara harga cabai rawit merah meningkat dari Rp45.000 menjadi Rp50.000 per kilogram.
Artinya, perubahan harga pangan setelah berakhirnya libur sekolah tidak hanya terjadi pada satu jenis komoditas.
Namun, tidak semua bahan kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Harga minyak goreng di Gunungkidul masih berada di sekitar Rp21.000 per kilogram.
Sedangkan beras berada di kisaran Rp13.200 hingga Rp14.900 per kilogram tergantung jenis dan kualitas.
Baca Juga: Harga Ayam di Kota Bandung Tembus Rp48 Ribu, Farhan Akui Belum Bisa Kendalikan Kenaikan
Harga Pangan Nasional Juga Perlu Dicermati
Pergerakan harga di daerah tersebut berlangsung ketika harga sejumlah komoditas pangan nasional juga menunjukkan dinamika.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, pada 20 Agustus 2026 harga daging ayam ras segar secara nasional tercatat Rp41.650 per kilogram.
Beras medium I berada di Rp15.950 per kilogram, sementara beras medium II Rp15.250 per kilogram.
Harga cabai rawit merah juga berada pada level cukup tinggi, yakni Rp52.750 per kilogram. Sementara bawang merah tercatat Rp32.250 per kilogram dan bawang putih Rp31.000 per kilogram.
Baca Juga: Harga Cabai Makin Pedas Ditemani Telur dan Minyak Goreng, Berikut Kisaran Harganya
Data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak bisa seluruhnya dilekatkan pada pelaksanaan MBG. Ada sejumlah faktor lain seperti pasokan, distribusi, permintaan masyarakat, serta kondisi produksi masing-masing komoditas.
MBG Menjadi Salah Satu Sumber Permintaan Baru
Program MBG memang menciptakan kebutuhan pangan dalam jumlah besar karena bahan makanan harus disediakan secara rutin untuk penerima manfaat.
Penelitian mengenai implementasi MBG juga mencatat bahwa program tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai bahan pangan seperti beras, sayuran, telur, ikan, tempe dan komoditas lokal lainnya.
Peningkatan permintaan tersebut dapat memberikan pasar yang lebih stabil bagi UMKM serta pelaku usaha pangan lokal.
Dari sisi peternakan, Badan Pangan Nasional sebelumnya juga mengawal agar produksi telur peternak dapat terserap melalui program MBG dengan harga yang baik.
Baca Juga: Harga Pangan Indonesia Terkendali Selama Ramadan, Presiden Prabowo: Good Job
Dengan demikian, MBG memiliki dua sisi. Di satu sisi, program tersebut dapat membuka pasar bagi petani, peternak dan UMKM.
Namun di sisi lain, peningkatan permintaan yang tidak diimbangi pasokan dapat memberikan tekanan terhadap harga komoditas.
Pemerintah Diminta Menjaga Keseimbangan Pasokan
Kondisi ini membuat pengawasan harga pangan menjadi penting, terutama setelah aktivitas sekolah dan MBG kembali berjalan.
Di Gunungkidul, pemerintah daerah menyatakan pemantauan harga dilakukan secara rutin untuk mengetahui perkembangan harga sekaligus memastikan ketersediaan bahan pokok di pasar.
Persoalannya bukan sekadar apakah MBG menyebabkan harga naik atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana peningkatan permintaan akibat program tersebut dapat diimbangi dengan pasokan yang memadai.
Jika pasokan mampu mengikuti pertumbuhan permintaan, MBG dapat menjadi pasar yang menguntungkan bagi petani, peternak dan pelaku UMKM tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada konsumen.
Sebaliknya, jika permintaan tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan pasokan, komoditas yang menjadi bahan utama menu MBG berpotensi mengalami kenaikan harga lebih lanjut.***



