POJOKSATU.ID - Bantuan dari luar negeri terus berdatangan ke Aceh di tengah kondisi pemerintah pusat yang belum secara resmi membuka akses bantuan internasional.
Di saat banjir bandang dan tanah longsor masih meninggalkan duka mendalam, Pemerintah Aceh mengambil langkah cepat.
Dengan menerima berbagai bentuk bantuan kemanusiaan dari luar negeri demi mempercepat penanganan korban.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Aceh telah menyebabkan ribuan warga kehilangan tempat tinggal.
Banyak korban hingga kini masih bertahan di pengungsian karena rumah mereka rusak parah atau tertimbun lumpur.
Kebutuhan mendesak seperti obat-obatan, layanan kesehatan, dan logistik menjadi tantangan utama di lapangan.
Baca Juga: Pemkot Tangsel Lakukan Penanganan Cepat Tumpukan Sampah, Bau Ditekan dengan Terpal dan
Hanya berselang beberapa hari setelah bencana terjadi, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem menerima bantuan obat-obatan dari kerabatnya di Malaysia.
Bantuan tersebut diterima pada Sabtu 29 November 2025 dan langsung disalurkan ke wilayah terdampak parah, khususnya di Aceh Utara.
Tak lama berselang, Pemerintah Aceh kembali menerima bantuan berupa tenaga relawan pendeteksi mayat dari China.
Baca Juga: Anggaran Dikembalikan ke Menkeu Purbaya Tembus Rp4,5 Triliun, Ada Menteri Tak Siap Belanja
Tim yang berjumlah lima orang itu diterima langsung oleh Mualem di Pendopo Gubernur Aceh pada Sabtu 6 Desember 2025.
Mereka dilengkapi perangkat khusus untuk mendeteksi korban bencana yang tertimbun lumpur.
“Mereka punya alat mendeteksi mayat dalam lumpur. Ini sangat membantu,” ujar Mualem, dikutip dari Kompas, 16 Desember 2025.
Setibanya di Aceh, tim tersebut langsung diterjunkan ke wilayah terdampak berat seperti Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang.
Namun, setelah bekerja selama hampir sepekan, upaya pencarian korban mengalami kendala serius.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Medan yang dipenuhi tumpukan kayu dan material banjir membuat pencarian tidak berjalan optimal.
“Tidak maksimal karena medan masih digenangi kayu-kayu. Mereka kewalahan mendapatkan mayat,” kata Mualem, Rabu 10 Desember 2025 malam.
Mualem menjelaskan bahwa tim pendeteksi tersebut datang bukan atas nama pemerintah China, melainkan sebagai bagian dari lembaga swadaya masyarakat.
Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Dipastikan Cair 1 Januari 2026, Tapi Ada Syarat Wajib
Meski demikian, kontribusi mereka dinilai penting di fase awal pencarian korban.
Gelombang bantuan luar negeri berlanjut pada 11 Desember 2025.
Kali ini, bantuan datang dari Blu Sky Rescue Malaysia berupa tiga ton logistik dan delapan tenaga kesehatan.
Baca Juga: Eks Menag Yaqut Dipanggil KPK Lagi, Kasus Kuota Haji Makin Panas!Ada Apa Sampai Dipanggil Dua Kali?
Bantuan tersebut terdiri dari dua ton obat-obatan dan satu ton makanan anak.
Kedatangan tim Malaysia bahkan dijemput langsung oleh Mualem di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar.
Pada Senin 15 Desember 2025 malam, Aceh kembali menerima bantuan dari perusahaan multinasional Upland Resources yang beroperasi di Inggris, Malaysia, dan Indonesia.
Mualem menyampaikan apresiasi atas solidaritas yang diberikan dan menegaskan bahwa kemanusiaan harus menjadi landasan utama dalam situasi bencana.
“Pada prinsipnya kita ini kemanusiaan. Siapa saja yang menolong kita, tetap ikhlas kita terima,” ujar Mualem, dikutip dari Kompas, 16 Desember 2025.
Ia menambahkan, bantuan tersebut akan disalurkan ke wilayah paling terdampak seperti Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Takengon, Beutong, dan Langsa.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Menurut Mualem, tidak ada larangan menerima bantuan luar negeri selama untuk kepentingan kemanusiaan.
“Kita ditolong, masak dipersulit. Itu bodoh,” tegasnya.
Demikian perkembangan informasi seputar bantuan asing terhadap Aceh yang diterima langsung oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf.***




