POJOKSATU.ID - Perselisihan jadi faktor terbanyak dalam perceraian di Indonesia, ketika bertengkar dan melakukan gerakan Tepuk Sakinah, mungkin bisa menyelesaikan masalah.

Solusi tersebut terdengar sederhana, tapi  masalah perceraian sangat kompleks dan sepertinya sulit dijinakkan hanya dengan slogan.

Akan tetapi, Menteri Agama Nasaruddin Umar justru optimis terhadap program Tepuk Sakinah yang bisa menyelamatkan rumah tangga.

Baca Juga: Validasi Info GTK Tahap 2 Selesai Dilakukan Tapi Data Kepala Sekolah Masih Belum Valid? Ini 6 Langkah yang Bisa Dilakukan agar TPG TW 3 Bisa Cair!

Menurutnya, Tepuk Sakinah merupakan program yang bisa menyentuh akar masalah keluarga.

Sebagai Menteri Agama, ia mendukung beragam inovasi dari Kantor Urusan Agama dalam melestarikan pernikahan.

Program Tepuk Sakinah yang sangat riang dengan gerakan sederhana, merupakan simbol yang setiap gerakannya punya makna mendalam.

Baca Juga: Melihat Serunya Pemuda Ini Mendaki Gunung Bantar Gebang, Monumen di Bekasi Simbol Kegagalan Pemerintah Kelola Sampah

"Inovasi Tepuk Sakinah ini hadir untuk mendukung itu," ungkap Nasaruddin Umar.

Sakinah bermakna tenang dan damai, tapi kedamaian tak lahir dari tepukan tangan, karena butuh kebijakan yang berpihak, komunikasi sehat, dan dukungan sistem yang adil.

Dari data BPS, angka perceraian di Indonesia masih cukup tingg, sepanjang 2024 jumlahnya mencapai 399.921 kasus perceraian, tapi telah menurun dibanding pada 2022 lalu.

Baca Juga: Guru A2 dan A3 Masih Belum Valid di Info GTK, Ini Langkah Perbaikannya

Angka perceraian paling tinggi berada di Pulau Jawa, sebanding dengan populasi yang padat.

Di antaranya Jawa Barat dengan 88.985 kasus, Jawa Timur sebanyak 79.293 kasus, dan Jawa Tengah 64.937 kasus perceraian.

Alasan klasik jadi faktor penyebab perceraian masih tinggi di Indonesia, seperti masalah ekonomi, perselisihan, hingga KDRT.

Baca Juga: Masih Tertunda karena Jam Mengajar Kurang? Ini Solusi agar TPG Triwulan 3 Segera Cair

Keyakinan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang optimis terhadap program Tepuk Sakinah ini ditanggapi dengan doa oleh sebagian masyarakat, tapi sebagian lagi justru tertawa getir.

Secara konsep, Tepuk Sakinah merupakan gerakan moral tapi bukan untuk menghibur, melainkan menyadarkan pasangan agar menjaga keharmonisan.

Akan tetapi, program ini dianggap seperti gema di ruang kosong, hanya butuh kipas angin untuk meredakan suasana rumah tangga yang memanas.

Baca Juga: Nyaris 3 Ribu Perceraian, Kasus Cerai Akibat KDRT di Kabupaten Bandung Barat Terbanyak di Jabar

"Kalau persoalan rumah tangga hanya butuh tepuk tangan, mungkin KUA cukup menyediakan drum band,” tulis seorang pengguna media sosial X.

Masalah rumah tangga di Indonesia bukan merupakan hal baru, dalam data Kemenag disebutkan 70 persen pasangan yang menikah mengaku belum punya kesiapan ekonomi dan mental.

Sebagian menikah karena desakan sosial, hamil di luar nikah, dan tak sedikit yang menggelar pernikahan karena mimpi romantis seperti di film-film tanpa pernah diimbangi realitas.

Baca Juga: Pas Buat Liburan, Ini 5 Pilihan Hotel di Daerah Ancol

Masalahnya, banyak pasangan tidak punya akses pada konseling pra-nikah yang memadai.

Bimbingan di KUA masih sering bersifat seremonial, hanya beberapa jam dan lebih fokus pada administrasi daripada kesiapan psikologis.

Baca Juga: 544 Perusahaan BUMN dan Swasta Buka Program Magang 2025, Fresh Graduate Wajib Coba!

Belum lagi layanan pendampingan rumah tangga pasca menikah yang hampir tak terdengar, padahal fase rawan konflik biasanya justru datang setelah akad.

Sekolah pra nikah berbasis psikologi seperti di Yogyakarta dan Makassar bisa jadi solusi nyata untuk mendampingi program Tepuk Sakinah.***