POJOKSATU.ID - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan agenda yang sangat mendesak dan menjadi prioritas utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, meskipun penciptaan lapangan kerja sama-sama penting, pemenuhan gizi masyarakat harus didahulukan karena menyangkut kebutuhan dasar dan kelangsungan hidup rakyat.
Rachmat menyampaikan pernyataan tersebut saat menjelaskan alasan pemerintah menempatkan MBG sebagai salah satu program strategis nasional.
Baca Juga: Imbas Faktor Cuaca Ekstrem, Gubernur DKI Perpanjang PJJ dan WFH Hingga 1 Februari
Ia mengungkapkan bahwa dirinya kerap mendapat pertanyaan mengenai urgensi MBG dibandingkan program ekonomi lain, termasuk penciptaan lapangan kerja.
“Pada waktu saya ditanya, mengapa MBG penting? Apakah MBG itu penting? Penting sekali. Apakah MBG lebih penting dari memberi lapangan kerja? Saya mengatakan MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja,” ujar Rachmat, dikutip pojoksatu.id dari instagram @nowdots (29/1/2026).
Ia menjelaskan, pemberian lapangan kerja ibarat memberikan kail kepada masyarakat.
Baca Juga: Ketika Tol Berpadu dengan Pariwisata, BIUTR dan Masa Depan Kota Bandung sebagai Kota Transit Kreatif
Namun, menurutnya, langkah tersebut akan menjadi sia-sia apabila masyarakat belum mampu bertahan hidup karena persoalan kelaparan dan kekurangan gizi yang masih nyata terjadi di berbagai daerah.
“Memberi kail tanpa memastikan orangnya masih hidup itu percuma. Persoalan perut rakyat ini masih nyata,” tegasnya.
Rachmat menyoroti kondisi di sejumlah wilayah terpencil di Indonesia yang masih menghadapi persoalan serius.
Baca Juga: Dikaitkan dengan Isu 'Di Noel kan', Ketua KPK Tegaskan Tak Ada Target dalam Pemberantasan Korupsi
Ia menyebut masih banyak warga yang mengalami kelaparan, bahkan anak-anak usia sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas yang belum mampu membaca dan menulis dengan baik.
Kondisi tersebut, menurut Rachmat, menjadi bukti bahwa pembangunan tidak bisa hanya berfokus pada infrastruktur fisik atau pertumbuhan ekonomi semata.
Pemerintah, kata dia, perlu membangun infrastruktur sosial yang kuat sebagai fondasi pembangunan jangka panjang.
“Kalau anak-anak kita lapar, gizinya tidak terpenuhi, bagaimana mereka bisa belajar dengan baik? Ini fondasi yang tidak bisa ditunda,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi melalui program MBG merupakan investasi jangka panjang bagi bangsa.
Baca Juga: Tol Getaci dan Rekayasa Ulang Ekonomi Jawa Barat Selatan, Jalan Panjang Menggeser Takdir Wilayah
Dengan gizi yang baik, kualitas sumber daya manusia akan meningkat, sehingga program-program pembangunan lain, termasuk penciptaan lapangan kerja, dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Rachmat juga menekankan bahwa MBG bukan berarti pemerintah mengabaikan agenda penciptaan lapangan kerja.
Menurutnya, kedua program tersebut tetap berjalan seiring, namun prioritas harus diberikan pada kebutuhan yang paling mendasar.
Baca Juga: Ada Masalah MBG Viral Tapi BGN Malah Kegirangan, Sebut Bagus Jadi Bahan Evaluasi!
“Lapangan kerja itu penting, tapi memastikan rakyat kita sehat, kuat, dan mampu belajar adalah fondasi dari semuanya,” ujarnya.
Pemerintah berharap program MBG dapat menjadi solusi awal untuk mengatasi persoalan mendasar bangsa, sekaligus memutus mata rantai kemiskinan dan ketimpangan sejak dini.
Dengan pemenuhan gizi yang merata, pembangunan nasional diharapkan dapat berjalan lebih inklusif dan berkelanjutan.***




