POJOKSATU.id, SUMUT- Salah satu bangunan sejarah Islam yang memiliki keistimewaan bagi umat Muslim adalah Masjid Nabawi. Bagi jemaah haji maupun umrah yang datang ke tanah suci untuk menjalankan ibadah, kurang lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke Masjid Nabawi.
Masjid Nabawi merupakan masjid kedua yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW setelah Masjid Quba. Beliau membangun Masjid Nabawi dengan tangannya sendiri dibantu oleh para sahabat dan kaum muslimin.
Masjid Nabawi memang terkenal dengan payung raksasanya. Namun tak hanya itu saja, kubah Masjid Nabawi pun juga sangat spesial. Kubah tersebut bisa menutup dan membuka pada waktu-waktu tertentu. Hal tersebut tentu memiliki alasan tersendiri yang belum banyak diketahui oleh para jemaah.
BACA JUGA: Polda Sumut Gagalkan Pengiriman Sabu 10 Kg Dari Aceh Menuju Medan
Kubah Masjid Nabawi memiliki keistimewaan tersendiri, dan memang harus diakui keindahannya. Tak hanya indah, kubah tersebut juga didesain agar bisa bergerak sendiri dalam kondisi tertentu. Momen seperti inilah yang biasanya ditunggu-tunggu oleh para jemaah yang berkunjung ke Masjid Nabawi.
Kubah Masjid Nabawi merupakan sebuah karya dengan kombinasi desain teknik, seni arsitektur, dan teknologi yang sangat luar biasa. Dalam desain itu terdapat kontrol otomatis yang membuat siapapun bisa berdecak kagum dengan keindahannya.
Kubah Masjid Nabawi berjumlah 27 kubah yang didesain bisa bergeser untuk membuka dan menutup sesuai dengan keperluan. Ada 12 kubah yang masing-masing berada di bangunan sayap kiri dan kanan. Kemudian 3 kubah di bangunan sayap belakang.
Pembangunan kubah tersebut adalah bagian dari proyek perluasan Masjid Nabawi oleh Raja Fahd. Bahkan beliau sendiri yang meletakkan batu fondasinya pada tahun 1984- 1994.
Proyek perluasan Masjid Nabawi oleh Raja Fahd ini disebut-sebut sebagai proyek perluasan paling menyeluruh dalam sejarah Masjid Nabawi. Dari bagian utama Masjid Nabawi seluas 16.500 meter persegi, kemudian ditambah dengan bangunan perluasan di masa pemerintahan Raja Fahd yang seluruhnya seluas 82.000 meter persegi.
BACA JUGA: Ranperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Sumut TA 2022 Disetujui DPRD
Dua hal yang paling menarik perhatian dalam proyek ini adalah 27 sliding dome dan dipasangnya 105 payung raksasa untuk memayungi pelataran terbuka di sekitar Masjid Nabawi. Payung Masjid Nabawi ini pun di kemudian hari ditiru dan menjadi tren bagi masjid-masjid di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Dalam pembangunan kubah Masjid Nabawi tersebut melibatkan banyak pihak di dalamnya. Mulai dari perencanaan, pemilihan material, pemilihan teknologi, perancangan, pemilihan seniman, hingga orang-orang yang ahli dalam proses membuat, merakit, memasang, hingga merawatnya.
Beberapa tenaga ahli dari berbagai negara, turut diterjunkan dalam proyek tersebut, salah satunya adalah arsitek asal Jerman bernama Mahmoud Bodo Rasch. Ia merancang bangun struktural kubah dan payung-payung raksasa di Masjid Nabawi.
Untuk pembuatan kubah masjid dilakukan secara terpisah pada negara yang berbeda tergantung dengan spesialisasi yang diperlukan.
Rasch mengatakan kubah itu bisa bergerak ke samping menggunakan penggerak di rel yang terintegrasi. Bentuk kubahnya ada pengaruh Maroko dan kombinasi arsitektur tradisional dengan teknologi yang canggih. Lalu di bagian luar dan dalam kubah ada struktur baja yang menopang kubah serta terdapay komposit yang biasanya hanya digunakan untuk pembuatan pesawat.
Untuk lapisan luar kubah menggunakan laminasi epoksi serat karbon atau serat kaca dan ubin keramik heksagonal. Lalu untuk pelapis interior kubah berbahan kayu dan laminasi epoksi dengan panel veneer maple.
BACA JUGA: Intip 5 Fakta Menarik Padang Arafah, Tempat Suci yang Wajib Dikunjungi Jemaah Haji
Selain itu juga dihiasi dengan ornamen cedar ukiran tangan yang dibuat di Maroko. Segmen dari kubah dipersiapkan dan dikemas di Jerman, baru kemudian dikirim ke Madinah untuk dipasang pada atap masjid.
Material-material yang dipilih adalah material yang ringan. Tujuannya adalah agar bisa mengurangi beban struktur yang menopangnya.
Alasan di Balik Bergesernya Kubah Masjid Nabawi
Kubah Masjid Nabawi yang bisa bergeser tentu memiliki alasan khusus. Di mana agar bisa memperlancar sirkulasi udara secara alami ke dalam bangunan masjid. Sedangkan saat cuaca sedang panas, maka kubah-kubah itu bisa menutup atas.
Dengan begitu, jemaah yang sedang beribadah di dalamnya tidak kepanasan. Diketahui bahwa membuka dan menutupnya kubah Masjid Nabawi bisa dilakukan secara manual maupun otomatis.
Garis tengah dari kubah Masjid Nabawi adalah 7,375 meter. Sedangkan tinggi kubahnya adalah 4 meter. Ketika dibuka atau ditutup secara manual, maka perlu waktu 30 menit. Lalu saat dibuka atau ditutup otomatis, maka membutuhkan waktu hanya 30 detik.
Kombinasi keahlian tradisional dan produksi industri, berpadu dengan teknologi Computer Aided Design (CAD) yang inovatif, membuat proyek tersebut mendapatkan penghargaan Best Innovation Award of the Houston-based International Association for Automation and Robotics in Construction (IAARC). Proyek ini juga memenangkan Abdullatif Al Fozan Award for Mosque Architecture in 2014. (TIK/pojoksatu)
BACA JUGA: Dilepas AHY, Anies Baswedan Berangkat ke Tanah Suci dan Siap Umumkan Nama Cawapres Sepulang Ibadah Haji




