POJOKSATU.ID – Fisikawan peraih Nobel, Profesor Brian Schmidt, mengajak Indonesia mengadopsi strategi jangka panjang yang kolaboratif dan berfokus pada riset ilmiah sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi.

Pesan ini ia sampaikan dalam pidatonya pada Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2025 di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB.

Dalam paparannya, Prof. Schmidt menegaskan bahwa manfaat ekonomi terbesar lahir dari budaya riset yang mendorong rasa ingin tahu dan kebebasan berpikir. Ia mengangkat kisah “Tujuh Bersaudara” (Seven Sisters) yang dikenal di berbagai budaya sebagai simbol pencarian pengetahuan universal.

Baca Juga: 18 Agustus 2025 Cuti Bersama HUT ke-80 RI, Karyawan Swasta Libur?

Ia juga mengulas sejarah astronomi dari Copernicus hingga Newton, menekankan bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan fakta, melainkan proses berkelanjutan yang melibatkan prediksi, pengamatan, dan penyempurnaan.

Prof. Schmidt mengungkapkan, negara yang ingin membangun ekonomi berbasis pengetahuan, pelajaran paling berharga bisa datang dari tempat yang paling jauh di alam semesta.

Ia juga membagikan kisah pribadinya. Beliau tumbuh di daerah pegunungan terpencil di Alaska karena pekerjaan ayahnya sebagai ahli biologi.

Baca Juga: Butuh Token Murah & Gas 3 Kg? Cek Apakah KTP Kamu Dapat Subsidi Bulan Agustus 2025

Dari latar belakang tersebut, beliau bersama tim kolaborasi ilmuwan dari Australia dan Amerika Serikat memenangkan Nobel atas riset tentang nasib alam semesta--dengan dana perjalanan sebesar 8.000 dolar Australia. Beliau menegaskan bahwa investasi paling penting adalah pada manusia dan ide-idenya.

“Saya bukan ditakdirkan jadi peraih Nobel. Saya berasal dari keluarga biasa, tempat biasa,” katanya, memberi semangat kepada para ilmuwan Indonesia dari semua latar belakang.

“Ilmu pengetahuan tidak peduli di mana kamu lahir, yang penting adalah apa yang kamu lakukan,” ungkapnya.

Baca Juga: Bukti Rekaman Tak Juga Diperbolehkan untuk Didengarkan di Persidangan, Nikita Mirzani Resmi Laporkan Dugaan Suap Hakim dan Jaksa PN Jaksel ke KPK

Prof. Schmidt juga menjelaskan bagaimana riset fundamental dapat berdampak besar secara ekonomi. Banyak teknologi yang digunakan sekarang berasal dari rasa ingin tahu ilmiah yang awalnya tidak bertujuan komersial, seperti:

1. WiFi yang berasal dari riset astronomi tentang lubang hitam;

2. GPS yang bergantung pada teori relativitas Einstein;

3. Kamera CMOS pada smartphone yang awalnya dikembangkan untuk misi luar angkasa;

Baca Juga: Pemerintah Siapkan 15 Ribu Laptop untuk Sekolah Rakyat, Siswa Senang!

4. Internet dan layar sentuh yang dibuat di CERN untuk memudahkan kolaborasi antarilmuwan.

Untuk Indonesia bisa memetik manfaat yang sama, Schmidt menyarankan empat langkah:

1. Membina Ekosistem Riset Tanpa Hambatan
Beliau mendorong agar jarak antara universitas, lembaga riset, dan industri diperpendek—bahkan jika memungkinkan, ditempatkan berdampingan—untuk memudahkan kolaborasi.

2. Tinjau Ulang Kebijakan Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
Kebijakan HKI yang terlalu ketat dapat menghambat inovasi. Beliau mencontohkan Universitas Stanford yang kekayaannya bukan berasal dari royalti, tapi dari ekosistem yang mendukung pendirian perusahaan-perusahaan sukses oleh alumninya.

Baca Juga: Disdik Pastikan Kepala Sekolah SD Yang Katahuan Nikah Siri Akan Dicopot Jabatannya, Nunggu Hasil Proses Hukuman Disiplin BKPSDM

3. Komitmen Investasi Jangka Panjang
Singapura dijadikan contoh negara yang berhasil meningkatkan GDP tanpa sumber daya alam, tapi konsisten berinvestasi pada riset dan teknologi selama 40 tahun.

4. Berdayakan Peneliti
Schmidt menekankan pentingnya memberikan waktu, fasilitas, dan kebebasan bagi para peneliti untuk berinovasi. Menurutnya, ini adalah bentuk investasi yang paling menguntungkan.

Pidato Profesor Schmidt menjadi penguat bagi visi besar KSTI 2025. U ntuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang adil dan berkelanjutan, Indonesia perlu membangun ekosistem sains yang terhubung erat dengan dunia usaha.

Baca Juga: Kinerja Kapolri Diapresiasi, Dinilai Perkuat Masa Depan Bangsa, Pemimpin Visioner dan Strategis

Beliau menekankan bahwa kesuksesan tidak akan tercapai dengan memaksa ilmuwan untuk langsung membuat produk.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov

Sebaliknya, perlu diciptakan sistem yang memudahkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri, agar ide-ide besar dapat dengan mudah bergerak dari laboratorium ke dunia nyata saat waktunya tiba.***