POJOKSATU.id, Kabupaten Bandung Barat - Untuk menciptakan pemerintahan yang terbuka, inklusif, dan modern, lembaga pemerintahan perlu memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana komunikasi yang efektif dengan masyarakat.

Langkah ini dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap informasi yang disampaikan, termasuk program pembangunan yang dijalankan.

Hal tersebut mengemuka dalam lokakarya bertajuk
“Kolaborasi Media Sosial DPR RI dengan Masyarakat Digital untuk Mendukung Open Parliament Indonesia”, yang digelar di Imah Seniman, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (21/11/2024).

Acara ini diinisiasi oleh Bagian Media Cetak dan Media Sosial Biro Pemberitaan Parlemen Setjen DPR RI dan dihadiri 50 pegiat media sosial Jawa Barat, dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Jabar sebagai pemateri.

Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, menyatakan bahwa lokakarya ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat sinergi antara DPR dan masyarakat.

Menurutnya, di era digital, akses informasi yang luas dapat meningkatkan partisipasi publik dalam pengambilan kebijakan.

“Transformasi digital telah mengubah cara kita mengakses informasi. Kini, setiap individu memiliki kendali atas informasi yang diterimanya. Maka, penting bagi DPR untuk memastikan setiap proses kerja dapat diakses dan dipahami masyarakat,” ujar Cucun.

Ia juga mendorong para pegiat media sosial untuk menghadirkan konten kreatif dan edukatif yang relevan bagi masyarakat digital.

Sebagai salah satu narasumber, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Jabar, Dinas Viky Edya Martina Supaat, membagikan pengalaman Pemprov Jabar dalam memanfaatkan teknologi untuk komunikasi publik.

Salah satu inovasi andalan adalah aplikasi Jabar SuperApps Sapawarga, yang mempermudah warga Jabar mengakses informasi, layanan publik, dan menyampaikan aspirasi secara aktif.

“Aplikasi Sapawarga awalnya dirancang untuk komunikasi antara ketua RW dan Gubernur. Kini, aplikasi ini telah berkembang menjadi platform yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat Jabar. Selain menyediakan informasi terkini, aplikasi ini juga menawarkan layanan transaksional hingga layanan khusus yang memudahkan kebutuhan sehari-hari,” jelas Viky.

Di sisi lain, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran sekaligus pegiat media sosial, Tantri Annisa Hanjani, menekankan pentingnya orisinalitas dalam menciptakan konten.

“Konten yang dibuat secara autentik, sesuai dengan kepribadian pembuatnya, cenderung lebih menarik dan dapat diterima audiens dengan baik,” ujar Tantri menutup sesi diskusi.

Lokakarya ini menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan antara pemerintah, masyarakat digital, dan pegiat media sosial dalam mewujudkan pemerintahan yang lebih transparan dan inklusif.***