POJOKSATU.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan akan mulai kembali melanda sejumlah wilayah Indonesia pada Oktober 2026.

Perkiraan tersebut disampaikan Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan pada akhir Juli 2026.

Menurutnya, datangnya musim hujan akan berlangsung setelah Indonesia melewati periode puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.

Baca Juga: BGN Tutup 504 Dapur MBG karena Tak Layak Sanitasi, 3.000 Masih Diperiksa

Ardhasena menyebut musim kemarau tahun ini secara umum akan berakhir menjelang pertengahan Oktober.

"Pada umumnya musim kemarau tahun 2026 di Indonesia akan berakhir di sekitar pertengahan bulan Oktober," ujar Ardhasena.

Setelah kemarau berakhir, hujan diperkirakan datang secara bertahap dan tidak langsung terjadi secara bersamaan di seluruh wilayah Indonesia.

Daerah-daerah di bagian barat Indonesia diprediksi menjadi wilayah yang lebih dahulu memasuki musim hujan.

Baca Juga: Ayam Goreng Bawang Putih Gagal Crispy? Begini Trik Gorengnya Biar Renyah dan Tidak Lengket

Memasuki November 2026, kondisi tersebut diperkirakan semakin meluas.

Sejumlah wilayah lain, termasuk sebagian besar Pulau Jawa, mulai kembali mendapatkan curah hujan.

Ardhasena mengatakan tanda dimulainya musim hujan juga terlihat dalam peta prakiraan iklim BMKG.

Baca Juga: Kemarau Panjang 2026 Picu Kebakaran Lahan Lebih 1.000 Hektar di Pulau Jawa, Ini Daftarnya

Pada Oktober dan November, warna kuning pada peta menunjukkan kondisi hujan mulai kembali berada dalam kategori normal di sejumlah wilayah.

Meski demikian, curah hujan di Pulau Jawa pada November diperkirakan masih berada di bawah kondisi normal.

Namun, hujan sudah mulai masuk dan menandai peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

"Pada bulan Oktober dan November kita mulai muncul warna kuning yang menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia mulai normal. Walaupun kita juga lihat di bulan November, hujan di Pulau Jawa misalkan masih di bawah normal, tapi hujannya sudah mulai datang dan masuk ke wilayah Jawa," jelasnya.

Baca Juga: Ini Skuad Indonesia di Kejuaraan Dunia BWF 2026, Mampukah Akhiri 7 Tahun Puasa Gelar Juara Dunia?

Musim hujan 2026 juga diperkirakan berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino.

Fenomena iklim tersebut diprediksi masih bertahan hingga awal 2027 dan mencapai puncaknya pada Desember 2026.

El Nino sendiri dikenal dapat meningkatkan kondisi lebih kering di sejumlah wilayah.

Kendati demikian, Ardhasena menilai fenomena tersebut tidak serta-merta akan memberikan dampak besar terhadap musim hujan di Indonesia.

Baca Juga: Bukan Cuma Bangladesh, 5 Negara Ini Diisukan Bakal Gantikan Timnas India di FIFA ASEAN Cup 2026

Menurutnya, pengaruh El Nino justru diperkirakan lebih terasa ketika Indonesia kembali memasuki periode puncak musim kemarau.

Ardhasena menjelaskan dampak El Nino terhadap Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu laut di sekitar wilayah Indonesia.

Oleh karena itu, dampaknya tidak selalu sama pada setiap kejadian El Nino.

"Dampak El Nino di Indonesia itu juga sangat bergantung dengan bagaimana kondisi panasnya laut di sekitar wilayah Indonesia. Jadi tidak serta-merta dampaknya akan persis sama dengan tahun-tahun sebelumnya," tuturnya.

Baca Juga: Usai Dikukuhkan Bupati, Dandim dan Forkopimda Beri Semangat 50 Paskibraka Karawang

Ia menambahkan, setiap fenomena El Nino memiliki karakteristik dan dampak yang berbeda.

Dengan demikian, kondisi yang terjadi pada 2026 tidak dapat disamakan begitu saja dengan kejadian El Nino pada tahun-tahun sebelumnya maupun fenomena serupa di masa mendatang.

"Tidak ada satu kejadian El Nino yang selalu sama dengan El Nino tahun sebelumnya, maupun juga tidak ada dampak yang selalu sama dengan kejadian El Nino-El Nino selanjutnya," imbuh Ardhasena.***