POJOKSATU.ID - Nama Budi Arie Setiadi kembali mencuri perhatian publik.

Setelah menyatakan niat bergabung dengan Partai Gerindra, reaksi keras datang bukan dari lawan politik, melainkan dari kader partai sendiri.

Penolakan itu menjadi perbincangan luas di media sosial dan ujian besar bagi citra Gerindra sebagai partai yang ingin tampil terbuka, tapi juga tegas menjaga idealisme kader.

Baca Juga: Tak Perlu Panik, Ini Alasan Pencairan TPG TW 4 2025 Dijamin Lebih Lancar dari TW 3

Bagi publik, isu ini bukan sekadar soal satu figur politik, melainkan cerminan dilema yang dihadapi partai besar bagaimana tetap inklusif tanpa kehilangan jati diri.


Citra Terbuka vs Kecurigaan Oportunisme

Gerindra selama ini dikenal sebagai partai yang disiplin dan hierarkis.

Sejak berdiri, partai besutan Prabowo Subianto menanamkan nilai loyalitas dan komitmen jangka panjang kepada kadernya.

Baca Juga: 300 Hektar Hutan di Bangka Tengah Rusak Parah Akibat Tambang Ilegal, Kerugian Negara Capai Rp12,9 Triliun

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, partai ini juga berupaya menunjukkan wajah baru lebih terbuka terhadap tokoh dari luar yang ingin bergabung.

Ketika Budi Arie, mantan Menteri Kominfo sekaligus Ketua Umum Projo, menyatakan minatnya bergabung, sebagian publik menilai langkah itu bisa memperkuat posisi Gerindra.

Namun, di sisi lain, gelombang penolakan dari kader muda justru menimbulkan tanda tanya apakah keterbukaan ini akan merusak nilai-nilai lama yang selama ini dibanggakan partai?


Reaksi Publik di Dunia Maya

Di media sosial, nama Budi Arie sempat menjadi topik hangat.

Baca Juga: Krisis Akuifer dan Degradasi Ekologi, Saat Eksploitasi Air Tak Pahami Sains Alam

Beberapa pengguna X (Twitter) menilai keinginan Budi Arie bergabung ke Gerindra adalah langkah realistis karena partai tersebut kini berada di lingkar kekuasaan.

Namun banyak pula yang menilai langkah itu oportunistik.

Tagar #GerindraJagaMarwah sempat muncul di platform X, diisi komentar dari simpatisan.

kader yang menyerukan agar partai tetap konsisten menjaga ideologi nasionalisme kerakyatan seperti yang digagas sejak awal berdiri.

Baca Juga: Janji Kesejahteraan Guru PPPK Tak Terbukti, Forum Guru Sebut 'Omon-Omon Belaka'

Fenomena ini memperlihatkan bahwa citra partai bukan hanya dibentuk dari keputusan elit, tapi juga dari reaksi akar rumput dan percakapan publik.


Pimpinan Gerindra Pilih Tenang

Dari sisi pimpinan partai, Gerindra memilih langkah hati-hati.

Wakil Ketua Umum Sufmi Dasco Ahmad menegaskan bahwa Budi Arie hingga kini belum memiliki KTA (Kartu Tanda Anggota) Gerindra.

Sikap ini menunjukkan bahwa partai mencoba meredam tensi tanpa menutup pintu sama sekali.

Baca Juga: Stop Panik! Ini 5 Tahap Wajib Cek di Info GTK agar TPG TW 3 2025 Tak Tertunda

Di sisi lain, hal itu juga menjadi sinyal bahwa Gerindra sedang berhitung matang menjaga keseimbangan antara ekspansi politik dan stabilitas internal.


Pandangan Pengamat Ujian Branding Politik Gerindra

Menurut Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, dinamika ini justru penting bagi partai sebesar Gerindra.

Adi menilai, jika Gerindra bisa mengelola isu ini secara proporsional, publik justru akan menilai partai ini dewasa secara politik.


Antara Loyalitas dan Modernisasi Politik

Bagi banyak partai besar, menjaga keseimbangan antara loyalitas kader dan fleksibilitas politik adalah pekerjaan sulit.

Baca Juga: Birokrasi Digital! ASN Diminta Kuasai AI dan Soft Skill agar Tak Tertinggal Zaman

Gerindra menghadapi realitas bahwa politik Indonesia kini lebih cair.

Tokoh yang dulu berada di kubu lawan bisa saja menjadi kawan dalam sekejap.

Namun bagi kader yang tumbuh dalam sistem ideologis, hal ini bisa menimbulkan resistensi.

Jika dikelola dengan bijak, ketegangan ini justru bisa memperkuat citra Gerindra sebagai partai yang tidak mudah tergoda oleh kekuasaan.


Politik Citra di Era Digital

Di era politik digital, persepsi publik bisa berubah cepat.

Langkah Budi Arie yang semula dianggap strategi personal kini berubah menjadi ujian publik bagi Gerindra.

Baca Juga: Wacana Bahasa Portugis Masuk Mata Pelajaran Sekolah, Begini Gambaran Strukturnya di Kurikulum Merdeka

Apakah partai ini bisa tetap terbuka tapi tidak kehilangan karakter?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bagaimana publik menilai Gerindra ke depan partai dengan disiplin kader kuat, atau partai yang ikut arus politik kekuasaan.

Dan di tengah derasnya opini publik, Gerindra seolah dihadapkan pada satu pilihan penting: menjaga citra bukan hanya lewat pernyataan resmi.

Tapi lewat sikap nyata yang mencerminkan karakter partai.***